Hijrah Nabi dan Politik Kebangsaan

oleh : Ariel Izza Kurnia

                Allah menganugerahkan berbagai macam rezeki kepada makhluk-Nya, salah satunya berupa waktu. Nikmat ini yang kemudian menghasilkan kosakata baru yang berkaitan dengan waktu seperti detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan tahun. Untuk memberi nama pada periode waktu dibuatlah semacam perhitungan yang dinamakan  kalender.

Ada beberapa jenis kalender yang digunakan di Indonesia, seperti Kalender Masehi, Kalender Hijriyah, Kalender Jawa, Kalender Saka, Kalender Imlek, dan Kalender Sunda. Di belahan bumi lain tentu lebih banyak sistem penanggalan yang digunakan sesuai dengan peradaban yang ada. Namun pada dasarnya, terdapat tiga sistem penanggalan yang berlaku di dunia, yakni Solar (matahari), Lunar (bulan), dan Luni-Solar (matahari-bulan). Sedangkan, dalam Islam, kalender Hijriyah yang  berpedoman pada siklus peredaran bulan terhadap bumi (Lunar) diterapkan sebagai landasan penanggalan. Oleh karenanya, Kalender Hijriyah biasa juga disebut dengan Kalender Qamariah (Arab: bulan).

Penetapan penggunaan Kalender Hijriyah dimulai pada saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Terdapat banyak banyak opsi yang ditawarkan oleh para sahabat untuk menentukan kapan dimulainya tahun baru Islam, sebenarnya. Berdasarkan hari kelahiran Nabi Muhammad, sejak kewafatan Nabi Muhammad, sejak diangkatnya Nabi Muhammad menjadi rasul, sejak diturunkannya Al-Quran, atau sejak terjadinya Fathu Makkah. Akhirnya, usulan ‘Ali bin Abi Thalib lah yang diterima. Yakni berdasarkan momentum hijrah Nabi dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Inilah mengapa kalender Islam disebut dengan Kalender Hijriyah.

 Penggunaan peristiwa hijrah Nabi Muhammad sebagai landasan penetapan dimulainya tahun islam bukanlah tanpa suatu alasan. Momentum hijrah merupakan titik awal berkembangnya peradaban Islam di dunia. Setelah penderitaan yang dialami kaum muslimin semakin tak terkira, berpindah untuk menjalani kehidupan baru yang lebih baik adalah seperti oase di tengah Padang Sahara. Namun hijrahnya Nabi dan para pengikutnya bukanlah tanpa pengorbanan. Mereka harus meninggalkan harta, kerabat keluarga, dan tanah air. Setibanya di Madinah pun mereka tidak mempunyai modal, tempat tinggal, serta sanak saudara. Kepahitan itu dengan rela mereka enyam demi membentuk suatu kekuatan sebagai fondasi untuk menyebarkan dakwah Islam secara lebih leluasa.

Sesampainya di Madinah, Rasulullah membangun masjid sebagai sentral pembangunan peradaban, pusat kekuatan, dan pusat pembinaan umat Islam. Rasulullah juga mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshor termasuk mempernikahkan dan pembagian kerja sistem bagi hasil. Selain itu, terdapat banyak agama, suku, dan kabilah di Madinah yang oleh Rasulullah ingin dipersatukan sebagai warga negara. Akhirnya dibentuklah suatu konsensus yang mengikat kehidupan mereka tanpa melihat latar belakang suku, agama, warna kulit, dan lain sebagainya. Konsensus ini lah yang disebut dengan Piagam Madinah dan Rasulullah dijadikan sebagai pemimpin utama negara dan pemerintahan.

Dalam Piagam Madinah terdapat beberapa pasal yang sebenarnya sangat cocok dengan kondisi Bangsa Indonesia. Pasal tersebut di antaranya persaudaraan sesama muslim harus terjaga rukun, muslim dan nonmuslim harus saling menghormati peribadatan masing-masing tanpa perlu bertukar keyakinan, umat muslim dan nonmuslim diperbolehkan bekerja sama dalam urusan muamalah bukan urusan akidah, Kota Madinah wajib dipertahankan bersama jika terjadi penyerangan, semua penduduk dijamin keselamatannya kecuali yang berbuat jahat, pemberlakuan hukum sama rasa sama rata, setiap individu harus sama-sama merasakan dampak perekonomian sesuai dengan hasil ikhtiarnya, apabila terdapat perselisihan harus didiskusikan bersama pemimpin tertinggi (Nabi Muhammad). Secara konsep Piagam Madinah memang Daulah Islamiyah, tetapi dalam tatanan sosial Islam melindungi semua orang pemeluk agama asalkan bersedia hidup damai sebangsa dan setanah air.

Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah menuju Madinah. Salah satunya,  untuk membangun negara, kota, desa, atau tanah kelahiran tidak harus tetap tinggal di dalam negeri, tetapi bisa pindah ke tempat lain dan dari sana kita bisa memakmurkan dan membangun daerah asal kita sendiri. Hal ini persis seperti yang dilakukan nabi.  Tauhid yang beliau bangun di Makkah tidak bisa tercapai karena mendapat perlawanan. Akhirnya beliau memutuskan hijrah ke daerah lain untuk membangun kekuatan baru agar bisa menopang aktivitas dakwah beliau. Lalu setelah integritas Islam semakin solid, akhirnya cita-cita Rasulullah untuk mensterilkan Makkah dari penyembahan kepada selain Allah dapat terwujud dalam peristiwa Fathu Makkah.

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mendapatkan kemerdekaan dari berbagai gangguan yang menghalangi amanat dakwah rasul. Amanat dakwah ini menjadi lebih mudah untuk dilaksanakan dengan adanya kemerdekaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemerdekaan adalah modal utama untuk menunaikan amanat dakwah. Sama seperti halnya di Indonesia bahwa kemerdekaan itu diraih dengan perjuangan yang keras. Dengan adanya negara yang merdeka dan berdaulat, amanat agama, bangsa, dan kehidupan bernegara dapat terwujud.

Di Indonesia perjuangan kemerdekaan diraih bersama antara muslim dan nonmuslim tanpa melihat latar belakang agamanya. Sementara di Madinah hanya dicapai dengan perjuangan umat Islam saja.  Namun dalam realitasnya, umat muslim juga turut melindungi nonmuslim yang ada. Maka sudah seharusnya Indonesia yang mana perjuangan dilakukan bersama-sama, umat muslim yang mayoritas harus memberikan perlindungan yang baik kepada kelompok minoritas.

Peperangan yang terjadi di Madinah dilakukan setelah Piagam Madinah dibuat. Sedangkan di Indonesia peperangan melawan penjajah dilakukan sebelum Indonesia merdeka. Kemungkinan alasan diperbolehkannya berperang dalam Islam setelah terbentuknya negara Madinah ialah di samping untuk membela diri juga mempertahankan negara yang sudah ada dan bukan untuk mewujudkan negara baru. Demikian juga dengan NKRI. Seluruh komponen negara seharusnya saling berusaha dalam melakukan perbaikan, membela negara dari segala gangguan, mempertahankan keutuhan NKRI, dan mencegah pembelotan yang mengakibatkan munculnya negara baru.

baca juga Santunan Yatim Piatu : Ritual dalam Perspektif Sosiologis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: