#Puisinunmedia Bayangan Surel Ibu, Bagaimana Jika Rindu

ekspektasia.com

Surel dari Ibu

Pesan yang katanya telah kaukirimkan masih belum sampai padaku. Atau tidak sampai. Atau tersangkut di langit-langit kamarku yang dipenuhi sarang laba-laba. Tapi meski semalaman aku tak tidur dan meneliti sampai kolong lemari dan kasur tetap tidak kutemukan.

Pesanmu masih belum sampai. Atau tidak sampai. Malah kutemukan suaramu berbisik dari dalam kotak kado yang kusimpan rapi dibawah tumpukan debu baju lebaran. Setelah kutelisik, ternyata suara itu ada di kepalaku.

Kepalaku tempat mendarat yang empuk bagi takut dan malas. Takut melihat wajahku yang malas di depan cermin dan malas beranjak membuka surel menakutkan darimu. Kuharap tukang parkir yang bertugas tahu diri menempatkan mereka pada posisi yang tepat.

Hingga saat ini, aku masih curiga kamu tidak benar-benar mengirim pesan itu.

Malang, 3 Agustus 2019

 

 

Bayangan

Bu, aku sedang melihat bayangku. Aku tidak melihat apa-apa selain hitam kelabu. Mataku sampai menyipit barangkali dapat kutangkap bentuk dan rupaku. Tapi semakin kuteliti, semakin kutemukan bahwa aku tidak lebih seperti seonggok kayu yang diam membisu dan membeku karena dingin menyerbu.

Malang, 6 November 2019

 

 

Bagaimana Jika Rindu

Bagaimana bisa
aku tidur nyenyak.
Jika rinduku saja
masih berontak.

Bagaimana bisa
aku tidur pulas.
Saat rinduku bebas
menguasai masa

Bagaimana bisa
aku diam tenang.
Jika rinduku leluasa
menjadi dalang.

 

Malang, 31 Juli 2019

Robith al Kholily

Santri PP Nurul Huda Mergosono Malang, Mahasiswa UIN Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: