Engkau dan Aku Usai, Saat Ini Semua Terpenuhi

Ibnu Hajar Al-Haitami[i] dalam kitab Fath al-Jawwad menjelaskan talak adalah memutuskan hubungan pernikahan dengan menggunakan kalimat (shighot) talak atau sebangsanya. Seperti ucapan seorang suami kepada istrinya, “saya mentalakmu.” atau “kamu adalah orang yang tertalak.”[ii].

Talak tidak akan jatuh tanpa terpenuhinya 5 rukun. Yang pertama adalah muthalliq, yaitu orang yang mentalak. Dalam hal ini berarti seorang suami. Talak akan terjatuh jika dilakukan oleh seorang suami yang mukallaf dan atas kemauannya sendiri.

Maka atas keterangan tersebut, talak yang dilakukan oleh seorang suami yang masih belum baligh, suami yang gila, tertidur, dan dipaksa menjadi tidak sah. Berbeda lagi jika yang mengucapkan shighot talak adalah seorang yang sedang mabuk, maka talaknya tetap jatuh.[iii]

Rukun talak yang kedua yaitu adanya kekuasaan untuk mentalak (al-wilayah). Contohnya jika seorang laki-laki berucap pada seorang perempuan, “jika saya menikahimu, maka kau adalah wanita yang tertalak.” maka ucapan seperti ini tidak berlaku karena talak hanya bisa dijatuhkan oleh seseorang yang sudah memiliki ikatan pernikahan.

Rukun yang ketiga adalah ada unsur kesengajaan (qoshdu al-tholaq). Kesengajaan yang dimaksud di sini adalah kesengajaan dalam bentuk lafadz dan makna dari lafadz itu sendiri. Maka ucapan seorang suami pada istrinya “saya mentalakmu.” sah karena karena mengandung kesengajaan dalam lafadz (terdapat kata ‘talak’) dan secara makna. Meskipun ada unsur candaan saat pengucapannya.

Rukun selanjutnya, atau yang keempat yaitu adanya shighot talak. Al-Bajuri[iv] menjelaskan, talak menurut shighotnya (kalimat yang dipakai untuk mentalak) dibagi menjadi dua macam, talak sharih (tegas), yaitu talaknya seorang suami menggunakan bahasa yang pasti dimaksudkan untuk mentalak, dan talak kinayah (sindiran), yaitu talak yang menggunakan bahasa yang memungkinkan pada talak maupun selainnya.

Selanjutnya Al-Bajuri[v] menjelaskan bahwa kedua pembagian tersebut berimplikasi pada apakah talak tersebut terjatuh atau tidak. Seorang suami yang mengucapkan shighot talak shorih sah tanpa dibutuhkan niat. Meskipun shighot tersebut diucapkan hanya dengan niat bercanda, maka talak tetap jatuh. Berbeda dengan talak kinayah.

Jika dalam pengucapannya tidak terdapat niat mentalak, maka talaknya tidak jatuh. Hal ini juga berlaku pada orang yang dipaksa melakukan talak. Jika bentuk kalimat yang keluar shorih, maka kalimat tersebut dihukumi seperti kinayah. Jika terdapat niat untuk mentalak, maka talaknya jatuh. Begitu juga sebaliknya.

Rukun talak yang terakhir adalah al-mahal (wanita yang ditalak). Dalam hal ini tentu saja yang dimaksudkan adalah istri. Ibn Qosim dalam Fathul Qorib[vi] menjabarkan 2 pembagian wanita dalam permasalahan talak. Pertama adalah wanita yang bila ditalak, maka talaknya bisa berstatus sunnah dan bisa juga berstatus bid’ah. Mereka adalah wanita yang masih berada pada usia haid. Kedua adalah wanita yang bila ditalak, maka talaknya tidak berstatus sunnah maupun bid’ah. Mereka adalah wanita yang masih kecil, wanita yang sudah tidak mengeluarkan darah haid lagi, wanita hamil, wanita yang menerima khulu’, dan wanita yang belum dijima’ oleh suaminya.

Hukum talak beragam tergantung bagaimana kondisinya. (1) Wajib, semisal pada seorang suami yang melakukan sumpah ila’, atau sumpah seorang suami untuk tidak menyetubuhi istrinya. (2) Sunnah. Seperti mentalak istri yang tidak baik pekertinya. (3) Makruh, seperti mentalak istri yang baik pekertinya. (4) Haram. Seperti pada talak bid’ah; talak yang dijatuhkan seorang suami pada istri di masa haid atau suci namun sudah melakukan jima’ pada masa suci tersebut. Dan (5) mubah, dengan contoh mentalak istri yang tidak dicintai hingga ada rasa tidak rela memberikan nafkah serta tidak ada unsur bersenang-senang dengan istrinya tersebut.[vii]

oleh : Robith M. Falah 

[i] Ibnu Hajar Al-Haitami (2005) Fath al-Jawad Bisyarhi Al-Irsyad. Beirut, Lebanon: Darul Kutub Al-Amaliah.

[ii] Ibn Qosim, Muhammad (1434 H). Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh Al-Taqrib. Kairo, Mesir: Musthofa Al-Bani Al-Halabi

[iii] Syech Ibrahim Al-Bajuri (1999). Hasyiah As-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri. Beirut, Lebanon: Darul Kutub Al-Amaliah.

[iv] Syech Ibrahim Al-Bajuri (1999).

[v] Syech Ibrahim Al-Bajuri (1999).

[vi] Ibn Qosim, Muhammad (1434 H).

[vii] Ibn Qosim, Muhammad (1434 H).

Robith al Kholily

Santri PP Nurul Huda Mergosono Malang, Mahasiswa UIN Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: