Pilih Mentraktir atau Ditraktir?

oleh : Rofi’ah

Sebelum Anda menjawab pertanyaan tersebut, akan saya paparkan sebuah cerita inspiratif yang saya temukan di sebuah akun facebook milik Imam Mukhtar. Di dalam beranda akun facebooknya, diceritakan bahwa beliau telah mendengar cerita dari temannya yang bernama Mas Andi Achmad Fauzi saat mengantarkannya untuk sowan ke  Gus Baha’.

“Kemarin Gus Baha’ habis beli peralatan di tempatku Mas” Kata Mas Andi (seorang penjual alat kebutuhan bangunan).

“Terus?” Beliau menjawab.

“Ketika mau bayar, saya katakan, ‘Pun Gus. Tidak usah’. Tapi Gus Baha’ bilang, ‘Ojo ngono. Tetap bayar, sampean jual dan aku beli.” Jelas Mas Andi.

Pesan yang dapat diambil dari cerita tersebut, bahwa Gus Baha’ menempatkan jual beli bukan sebagai hadiah. Bagaimana dengan saya dan Anda? Saya sendiri jika mendapatkan tawaran seperti itu saya tidak akan menolaknya. Jelas bahwa saya tidak sehebat Gus Baha’.

Ada cerita satu lagi yang saya temukan di dalam akun facebook beliau. Beliau berserita bahwa beliau melihat sebuah unggahan status WA Mas Sholah Muhammad. Dalam perjalanan, Gus Baha’ menyampaikan, “Aku pingin makan sate. Tapi bayar.” Artinya Gus Baha’ tidak ingin ditraktir dan ingin makan secara merdeka.

Pesan yang bisa diambil dari cerita kedua bahwa beliau tidak mengharapkan untuk ditraktir. Lah aku, ngarep banget untuk ditraktir. Terlihat jelas perbedaan sikap antara mereka yang telah memiliki ilmu lebih banyak dan saya yang masih memiliki ilmu sedikit.

Dari kedua cerita tersebut saya kumpulkan dalam artikel ini untuk sebuah judul “Pilih Mentraktir atau Ditraktir?”. Untuk menyinggung diri saya yang suka meminta traktiran dari orang lain (untuk Anda jangan tiru adegan ini ya..hehe).

Saya tambahkan dawuh dari Gus Muhammad Taqiyuddin Alawiy yang menuturkan perkataan Ali ibn Abi Thalib yang saya temukan di dalam beranda akun fecebook beliau.

“Orang kikir hidup (di dunia) bagai orang fakir, namun kelak (di akahirat) ia akan dihisab sebagai orang kaya (hartawan).”

Beliau menyamakan kata bakhil tersebut dengan kaya tapi berlagak fakir/miskin. Beliau melanjutkan penjelasannya, “Mau dikelompokkan sebagai bagian dari orang fakir, tidak pantas, karena ia termasuk orang yang berada dan berkecukupan. Namun, ketika hendak dikelompokkan orang kaya, kesehariaanya menunjukkan tabiat layaknya orang yang fakir.”

Beliau juga memaparkan isi Kitab Nashaihu al-‘ibad halaman 63 oleh Syekh Nawawi al-Bantani yang telah menukil keterangan dari beberapa ahli hikmah, bahwa perilaku kikir merupakan bagian dari karakter hayawani. Syekh Nawawi al-Bantani menukil sebuah pernyataan: “Kikir itu menghapus karakter kemanusiaan dan mereguhkan karakter kebinatangan.”

Telah diceritakan tentang kisah inspiratif orang sholeh dan telah dijelaskan pula perumpamaan bagi sifat bakhil. Jadi apa Anda masih menjawab suka ditraktir atau sudah berubah menjadi suka mentraktir? Semoga jawabannya suka mentraktir ya. Hehe…

Sekian semoga bermanfaat dan semoga Allah selalu membukakan pintu kebenaran-Nya kepada kita semua. Aamiin…

 

[simple-author-box]

Ropiah

Santri PP Nurul Huda Mergosono Malang, Mahasiswa Universitas Brawijaya

One thought on “Pilih Mentraktir atau Ditraktir?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: