Nona

oleh: Wandi Anwas

“Bayu, ini lemarimu. Sebelum kamu menata barang-barangmu, kamu bersihkan dulu lemarinya ya.”

“Baik Kang”

“Kalau nanti kamu perlu sesuatu, kamu bisa bilang ke aku, nanti aku akan mengantarmu.”

“Baik, terimakasih ya, Kang.”

Kang Muhsin kemudian meninggalkan Bayu untuk melanjutkan menjemur gabah yang belum terselesaikan.

Sebagai salah satu santri senior kepercayaan Abuya, Kang Muhsin memang sering diberi tugas-tugas khusus. Menjemur gabah, memandikan dan mengajak bermain Gus Aufa, hingga membantu keperluan santri-santri baru.

“Assholaatu wassalaamualaik…. Ya imaamal mujaahidiin, ya rasulallaahhh…”

“Kang Muhsin, sudah menjelang magrib, jangan lupa gabahnya diambil.”

“Nggeh Abuya”

Kang Muhsin kemudian bergegas mengambil gabah yang telah dijemur, dan memasukkannya kembali ke dalam karung. Kali ini Kang Muhsin dibantu oleh Kang Ulin dan Kang Farid.

20 menit kemudian semua gabah telah berhasil dimasukkan ke dalam karung. Mereka pun bergegas kembali, sementara Kang Muhsin langsung menuju kamar mandi. Pantas saja, sejak tadi siang memang dia terlihat sangat sibuk, sehingga belum sempat mandi.

“Duh…  antriannya banyak sekali ya.” keluh Kang Muhsin.

Kang Muhsin melihat sekeliling untuk mencari antrian terpendek, lalu meletakkan gayung beserta peralatan mandinya sebagai antrian.

“Eh kamu Bayu”

“Iya Kang”

“Kok kamu belum mandi juga?”

“Iya Kang, soalnya tadi habis main bola di lapangan.”

“Owh… Gimana teman-teman kamarnya? ”

“Alhamdulillah Kang, baik-baik semua.”

“Oh iya Kang, tadi waktu bersihin lemari, aku nemuin banyak lembaran-lembaran puisi.”

“Iya? Punya Siapa?”

“Siapa ya Kang? Saya agak lupa namanya hehe”

“Ya udah, nanti malam aku akan ke kamarmu untuk mengeceknya.”

“Iya Kang.”

Tanpa terasa kamar mandi antrian Bayu telah kosong.

“Aku mandi dulu ya Kang”

“Ngapain laporan ke aku segala. Hhh”

“Hehe”

Krekk…..

Byur… Byur… Byur…

Dua menit kemudian kamar mandi antrian Kang Muhsin pun sudah kosong. Kang Muhsin lalu bergegas masuk.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam wr. Wb.”

“Eh kang Muhsin, Silahkan masuk Kang.”

“Kang Muhsin pasti mau lihat kertas puisi yang aku ceritakan tadi sore ya?”

“Iya, mana coba lihat Bayu”

“Ini kang.” Bayu menyodorkan semua kertasnya kepada Kang Muhsin.

Kang Muhsin mengambilnya satu, kemudian membacanya.

 

Nona…

Cahaya itu memancar…

Dari pori-porimu yang menyilaukan pandanganku…

Suara itu menggema…

Dari pita suaramu yang menulikanku…

Aroma itu menyerbak…

Dari setiap sidik tubuhmu yang menyumpat hidungku…

Nona…

Cahaya akhlakmu…

Memancar dari setiap tatapan teduhmu…

Menerangkan dari setiap senyum bibirmu…

Nona…

Aku tak akan lupa…

Kala mata ini menjadi saksi…

Menangkap kebaikan yang diungkap oleh matahari…

Dari keluhuran akhlak, ketulusan hati yang coba kau sembunyikan…

Nona…

Nona…

Nona…

Siapakah namamu?

Ku tak berani menyapamu.

Ttd

Halimi

 

“Jadi, Halimi itu siapa kang?”

“Halimi itu dulu adalah santri sini.”

“Terus sekarang dimana kang”

“Dia meninggal satu tahun yang lalu.”

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun.”

“Kenapa kok bisa meninggal kang”

“Panjang ceritanya… Sekarang ayo temenin aku sowan ke Abuya.”

“Iya kang, tapi saya ndak tahu apa-apa soal ini lho Kang.”

“Santai, aman.”

Mereka kemudian menuju ke ndalem Abuya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam wr wb. Ada apa sin?.”

“Mohon Maaf Abuya, dalem mau menunjukkan sesuatu”, Muhsin menyodorkan kertas-kertas tersebut.

“Kertas-kertas apa ini sin?”

“Ngapunten Abuya, itu adalah puisi dan tulisannya Halimi.”

“Halimi?”

“Nggeh Abuya.”

“Halimi yang meninggal tahun lalu itu?”

“Nggeh Abuya.”

Bayu yang saat itu diajak sowan semakin bingung. Sebenarnya siapa Halimi ini? Kenapa dia sampai menjadi perhatian kang Muhsin bahkan Abuya? Padahal dia telah meninggal.

Bayu terus melahirkan pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya.

Abuya membuka satu kertas lalu membacanya.

 

Nona…

Siapapun namamu…

Ya… Siapapun namamu…

Karena aku belum mengenalmu…

Aku telah memilikimu…

Dalam setiap rinduku…

Dalam setiap sel otakku..

Dalam setiap detakan jantungku…

Dalam setiap doaku…

Nona…

Aku telah memilikimu…

Meskipun hanya dalam harapanku…

Meskipun hanya dalam mimpi-mimpiku…

Nona…

Aku telah memilikimu…

Karena aku dapat menemukanmu…

Di setiap kedipan mataku…

Di setiap hembusan nada yang menusuk gendang telingaku…

Di setiap udara yang mengalir dalam hidungku…

Di setiap neuron sel otak sadarku…

Di setiap mimpiku sejak perjumpaan itu…

Nona…

Rinduku semakin garang…

Rinduku semakin kencang…

Rinduku kian tak tertahankan…

Salam untukmu…

Nona…

 

Ttd

Halimi

“Kang Muhsin, kamu ingat dulu Halimi meninggal karena apa?”

“Sakit demam Abuya.”

“Iya, dia juga mengigau memanggil nama Nona.”

“Ini mengingatkan saya tentang penjelasannya Syaikh Abu Bakr ‘Utsmân bin Muhammad Syaththâ dalam kitab I’ânah Ath-Thâlibîn-nya.”

Kang Muhsin dan Bayu diam dan merapikan duduknya untuk mendengarkan penjelasan Abuya.

Abu Bakr ‘Utsmân bin Muhammad Syaththâ dalam Hâsyiyah I’ânah Ath-Thâlibîn,  menjelaskan bahwa mati syahid terbagi ke dalam tiga macam, yaitu 1) syahid dunia-akhirat, 2) syahid dunia, dan 3) syahid akhirat.

Syahid pertama adalah kelompok orang-orang yang gugur di medan perang karena menunaikan perintah agama.

Syahid kedua adalah kelompok orang yang secara lahiriyah berperang demi menjalankan kewajiban agama, namun di dalam hatinya tersimpan niat mendapatkan harta jarahan perang (ghanîmah).

Syahid ketiga adalah kelompok orang-orang yang mati dalam keadaan menderita. Misalnya meninggal karena menuntut ilmu, melahirkan, tenggelam, terbakar, dan terbunuh.

baca juga Syahid Karena Tidur

Kategori syahid pertama dan kedua tidak boleh dimandikan, dan dikafani. Cukup dengan menyolati dan menguburnya. Sedangkan kategori syahid ketiga diperlakukan sebagaimana orang meninggal pada umumnya, yakni dimandikan, dikafani, disholati, dan dikubur.

Dalam penjelasan kategori syahid ketiga ini, SyaikhAbu Bakr ‘Utsmân bin Muhammad Syaththâ menutup pembahasannya dengan “termasuk juga orang yang mati karena dilanda asmara”. Menurutnya, mati karena menahan rindu yang sangat menggebu bagian dari mati syahid akhirat dengan syarat:

Pertama; mampu menahan diri dari hal-hal yang diharamkan (al-‘iffah), yakni diandaikan seseorang ada kesempatan berduaan dengan kekasihnya ia tidak akan melakukan tindakan yang dilarang Allah meski sebatas memandang.

Kedua; tidak menyampaikan rasa rindunya kepada siapapun, meski kepada kekasih yang sangat ia rindukan (al-kitmân hattâ ‘an ma’syûqih).

Orang yang mati karena merindu kekasih dimasukkan ke dalam syahid akhirat, yakni ia tidak mendapatkan siksa di akhirat, karena rindu adalah penderitaan yang sangat berat, terlebih rindu yang dipendamnya sendirian. Meminjam penjelasan Abû Hâmid al-Ghazâli dalam Ihyâ` ‘Ulûmiddîn:

وَالْمَحَبَّةُ إِذَا تَأَكَّدَتْ سُمِّيَتْ عِشْقًا فَلَا مَعْنَى لِلْعِشْقِ إِلَّا مَحَبَّةٌ مُؤَكِّدَةٌ مُفَرِّطَةٌ

“Jika cinta sangat menguat maka itu dinamakan rindu. Tiada makna bagi rindu selain rasa cinta yang sangat ekstrim.”

Dalam bab lain di buku yang sama, al-Ghazâli menjelaskan:

وَلَوْ اِسْتَغْرَقَهُ الْعِشْقُ لَغَفَلَ عَنْ غَيْرِ الْمَعْشُوْقِ وَلَمْ يَلْتَفِتْ إِلَيْهِ

“Kala rindu menggebu maka seseorang akan lupa segalanya. Tidak ada yang ingin ditatapnya selain kekasih yang ia rindukan.”

Dengan alasan-alasan tersebut, maka menahan rindu merupakan penderitaan yang sangat berat. Apalagi jika rindu itu dipendamnya sendirian.

Di akhir penjelasannya, Abu Bakr ‘Utsmân bin Muhammad Syaththâ mengutip pendapat sebagian ulama dalam nadhom berikut:

“Sudah cukup di dunia siksaan bagi para perindu. Demi Allah kelak di akhirat mereka tidak tersiksa panasnya bara api neraka.

Surga keabadian akan menjadi tempatnya, mereka akan diberi perhiasan, diberi kenikmatan oleh Allah sebagai balasan atas kesabarannya.

Bagaimana tidak, mereka cinta, tapi merahasiakannya sembari menahan diri dari larangan-larangan Allah.

Mereka akan tinggal di istana-istana surga, kebahagiaannya menjadi sempurna dengan bertemu Allah (Sang Kekasih Abadi).”

“Insyaallah Halimi tergolong orang-orang yang mati syahid. Selain karena ia meninggal ketika menuntut ilmu, ia juga meninggal dalam penderitaan asmara. Bahkan sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa nona yang dimaksudkannya kecuali ia dan Allah SWT. Dilihat dari suratnya, mungkin juga perempuan itu belum tahu kalau ada yang mabuk asmara kepadanya. Karena Halimi saja tidak tahu namanya.”

 

Wallahua’lam.

Wandi Anwas

Santri PP Nurul Huda Mergosono Malang, Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: