Jangan Tinggalkan Suatu Kewajiban untuk Kewajiban Lainnya

Dari Abu Nu’aim, dari Sofyan, dari Ibnu Jurij, dari ‘Amru bin Dinar, dari Abi Ma’badin, dari Ibnu ‘Abas radhiyallohu ‘anhumaa:

Seseorang mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, aku telah terdaftar untuk ikut serta dalam berperang tetapi istriku punya hajat (naik haji).” Rasul menjawab, “Pulanglah temani istrimu!”

Islam mengajarkan kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan orang lain. Bahkan kita dianjurkan untuk lebih mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri.

Hadist yang dicantumkan di awal menjelaskan bahwa seseorang boleh meninggalkan kewajiban perang demi kewajibannya menemani istri berhaji. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa jika suatu pekerjaan menimbulkan madorot bagi keluarga, maka pekerjaan tersebut harus ditinggalkan, meskipun jihad (perang).

Berkaitan dengan haji, jika seseorang hendak naik haji tetapi kemampuannya adalah hanya tiket pulang pergi serta bekal untuk di tanah suci sedangkan untuk biaya keluarga di rumah tidak ada, maka dia berdosa jika berangkat haji. Sebab menafkahi keluarga adalah fardu ‘ain.

Contoh lain, jika seseorang hendak berhaji tetapi ada saudara atau tetangga yang sangat membutuhkan uang untuk keberlangsungan hidupnya, yang paling dianjurkan bagi yang hendak berhaji itu adalah memberikan uang kepada saudara atau tetangganya tersebut meskipun menyebabkan dirinya batal berangkat haji.

Yang demikian itu, Allah mengapresiasi orang tersebut dengan pahala haji mabrur, haji yang paling sempurna. Karena dia telah membela kepentingan sosial dibandingkan kepentigan pribadinya atau disebut itsar.

http://nun-media.com/2017/09/29/doa-orang-pulang-haji-berkhasiat-begini-penjelasannya/

Islam mengajarkan kita untuk tidak mementingkan diri sendiri. Seperti telah dicontohkan Rasulullah SAW, bahwasanya beliau pernah suatu ketika tidak makan dan minum selama 3 hari 3 malam. Lalu kepada beliau ada yang sedekah 3 buah kurma. Belum sempat beliau memakannya, seseorang datang, “Ya Rasulullah, berikanlah kurma tersebut padaku. Telah 2 hari aku belum makan.” Rasulullah pun memberikan kurma tersebut.

 

Oleh-oleh ngaji ba’da subuh kitab Sohih Bukhori bersama Abuya Taqiyyuddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: