Keabsahan Memasuki Sinagog

sumber foto : pexel.com

Oleh Abdullah Alwi

Baru-baru ini sebuah akun YouTube bernama NU CHANNEL telah merilis sebuah trailer atau cuplikan film berjudul The Santri. Dalam cuplikan tersebut nampak beberapa aktor dan aktris muda Indonesia seperti Gus Azmi, Wirda Mansur, dan juga Veve Zulfikar sebagai salah satu tokoh dalam film tersebut. Film The Santri yg disutradarai oleh Livi Zheng, seorang sutradara film Hollywood asal Blitar, Jawa Timur, ini merupakan film pertama yang di-support oleh PBNU dalam akhir trailer film The Santri tersebut. Di akhir trailer tersebut nampak ketua PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., dan juga sang sutradara, Livi Zheng, mengumumkan keberadaan film The Santri yang disebutnya mengajarkan ajaran Islam Nusantara.

Terlepas dari itu semua, ada salah satu adegan dalam trailer tersebut yang menimbulkan keresahan bagi masyarakat awam. Yakni adegan dimana Wirda Mansur dan Veve Zulfikar masuk ke dalam sebuah gereja seraya membawa satu nampan penuh berisikan tumpeng kemudian diberikan kepada salah seorang pendeta di gereja tersebut. Kemudian muncullah sebuah pertanyaan mengenai keabsahan seorang muslim memasuki gereja atau sinagog.

Terlepas dari pertanyaan yang konon merupakan salah satu bentuk pendiskreditan oleh kubu sebelah tersebut. Penulis tak ingin membahas lebih dalam isu politik yang ada didalamnya.

Kembali ke pertanyaan, bolehkah seorang muslim masuk ke dalam gereja? Dalam nash Al-Qur’an dan Al Hadist tidak pernah disebutkan larangan seorang muslim memasuki gereja atau tempat peribadatan agama lain. Dalam hal ini, pertanyaan tersebut masuk ke dalam ranah perdebatan ulama salaf, karena dalam nash Al-Qur’an  dan Al-Hadist tidak pernah disinggung sama sekali.

http://nun-media.com/2018/04/21/distingsi-antara-illat-dan-hikmah/

Pertanyaan tersebut lantas dijawab oleh salah seorang ulama kontemporer, Gus Nadir, dalam websitenya, nadirhosen.net. Dalam website tersebut disebutkan bahwa ada beberapa pendapat ulama ahli madzhab, diantaranya ada yang menyebutkan mubah, makruh, ada juga yang menyebutkan haram. Dalam hal ini ulama madzhab Syafi’i mengatakan tidak boleh tanpa seizin pemilik gereja, sebagian yang lain mengatakan tidak haram walau tanpa seizin pemiliknya.  Imam Hanafi menyebutkan makruh seorang muslim memasuki gereja atau sinagog. Imam Hambali menyatakan boleh memasuki gereja atau tempat peribadatan agama lain bahkan melakukan sholat didalamnya sekaligus. Meskipun begitu Imam Ahmad menyatakan makruh jika terdapat gambar didalamnya. Sisanya ada yg menyatakan haram, ada pula makruh, ada pula yg menyatakan tidak apa-apa.

Ada sebuah cerita zaman Khalifah Umar Bin Khattab, dimana Umar kala itu baru saja memasuki kawasan negeri Syam dan diketahui oleh penduduk Nasrani. Kemudian penduduk Nasrani tersebut membuat inisiatif untuk menyambut Umar dengan makan-makan di Gereja mereka. Mengetahui hal tersebut Umar lantas menyuruh Sahabat Ali untuk menggantikannya. Dan Ali pun turut hadir dalam penjamuan penduduk Nasrani tersebut. Ali berkata “Aku tidak tahu mengapa Khalifah Umar menyuruhku menggantikannya dan hadir dalam penjamuan ini” menurut Ibnu Qudamah, ini merupakan bentuk kesepakatan bahwa memasuki gereja atau sinagog hukumnya tidam haram.

Menurut Gus Nadir pula dalam bukunya berjudul “Kiai Ujang Di Negeri Kanguru”, disebutkan bahwa Muslim Australia sendiri melaksanakan sholat dalam suatu tempat dimana agama lain juga melakukan ibadah di tempat yang sama. Dalam hal ini mereka menyebutnya rumah ibadah. Pun hukumnya tidak apa-apa selama tempat bersujud masih suci (memakai sajadah) dan telah memenuhi syarat sah sholat.

Di Australia, izin pembangunan masjid sangat dibatasi. Dalam artian banyak kriteria yang harus dipenuhi untuk bisa mendirikan sebuah masjid. Mulai dari lahan parkir, luas minimal, model bangunan, dsb. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa “selama proposal pembangunan masjid sesuai dengan peraturan, khususnya dalam hal melindungi dan mempromosikan kesehatan masyarakat, keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian penduduk kota, termasuk di dalamnya menjaga lingkungan, lokasi, air, mengurangi tingkat kebisingan, dan sebagainya, maka proposal pembangunan tersebut harus diterima dan memperoleh izin pembangunan.”

Meskipun demikian, pernah pada tahun 2002, suatu komunitas Syiah hendak mengajukan proposal pembangunan masjid di daerah Annangrove, New South Wales namun ditolak oleh warga sekitar dengan alasan ketidaksesuaian dengan karakter warga sekitar yang mayoritas non-muslim dan merupakan lokasi dengan aksi vandalisme konstan yang tinggi. Meskipun demikian pemerintah setempat tetap menerima proposal tersebut dan mengizinkan pembangunan masjid. Terlepas dari penolakan warga sekitar, pemerintah wajib melindungi hak kaum minoritas untuk menjalankan agama mereka.

Ada juga penolakan dari warga sekitar yang terjadi pada tahun 2011 di Elermore Vale, Newcastle. Dengan alasan tidak memenuhi standar kelayakan pembangunan mulai dari ukuran proyek dan lokasinya dan pemerintah juga menolak propsosal tersebut dengan alasan tidak memenuhi peraturan lalu lintas dan keterbatasan lahan parkir. Ini penting kiranya mengingat sewaktu sholat Jumat dilaksanakan, seperti telah membudaya pula di Indonesia bahwa kendaraan-kendaraan sulit untuk diatur agar tidak menggangu jalannya kendaraan lain sehingga dalam hal ini diperlukan lahan parkir yang luas.

Australia merupakan salah satu negara sekuler yang memisahkan hukum agama dengan hukum pemerintahan. Sehingga hukum pemerintahan tidak bisa dicampuradukkan dengan hukum agama setempat. Meskipun demikian pemerintah tetap menjamin agar setiap warganya bisa menjalankan keyakinannya masing-masing walaupun mereka tergolong kaum minoritas.

Karena tidak adanya aturan perihal agama tersebut menyebabkan setiap agama atau aliran di sana bisa berkembang selama tidak melakukan tindakan destruktif. Bahkan Syiah dan Ahmadiyah pun, yang di Indonesia telah dilarang perkembangannya, di sana bisa beribadah dengan tenang laiknya aliran yang lain. Hal ini membuat heterogenitas di dalamnya semakin meningkat ditambah lagi dengan muslim imigran dari tiap-tiap negara. Sehingga tak ayal bila mereka sering menjumpai perdebatan madzhab terkait suatu permasalahan. Dalam beberapa kasus Gus Nadir lebih memprioritaskan cari yang mudah daripada harus berbelit-belit dalam suatu perdebatan.

Wallahu A’lam…

Catatan : Gus Nadir, Nadirsyah Hosen, merupakan Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) NU di Australia dan Selandia Baru. Lahir 8 Desember 1973. Merupakan putra bungsu dari almarhum Prof. KH. Ibrahim Hosen, salah satu ulama dan rektor pertama Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: