Dakwah dengan Cara dan Target Tepat Sasaran

Sumber foto: maxmanroe.com

Orang yang merasa tidak lapar tentu tidak merasa memerlukan makanan. Orang yang merasa sehat, tentu tidak merasa memerlukan dokter.

Orang yang merasa sudah tahu agama, tentu tidak merasa perlu belajar agama. Orang yang tidak merasa lapar (akan pengetahuan) tentang Allah, tentu tidak akan merasa perlu belajar tentang Allah. Itulah sebabnya mengapa seorang guru dilihat seperti memilih milih murid untuk diajari tentang ilmu ketuhanan, meskipun diwajibkan bersyi’ar tentang ilmu agama dengan menyampaikan walau sepotong ayat. “Sampaikanlah walau satu ayat,” ini hadits sahih, memang benar sekali.

Namun penyampaian tersebut dilakukan kepada penerima yang tepat (yang memang memerlukan), waktu yang tepat dan di tempat yang tepat juga. Jika kita berdakwah tanpa memperhatikan keadaan orang yang kita sampaikan kepadanya dakwah itu, ada kemungkinan kita akan meletakkan seseorang dalam keadaan yang sukar bagi dirinya dan/atau bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Selain itu, bagi orang-orang yang memang telah menerima tugas dari Allah ta’ala (mengenal diri dan misinya), ada ruang lingkup dakwahnya sendiri, dan Allah sendiri yang menentukan.

Tidak semua para peraih kebenaran harus menjadi da’i dan muncul di depan ummat dengan penampilan sebagaimana seorang ustadz atau ulama yang memang di situlah Allah menyalurkan rezekinya. Akan tetapi patut kita pahami bahwa berdakwah itu wajib bagi setiap orang pada kedudukannya masing masing.

Ada yang memang tugasnya menjadi Rasul alam semesta (Nabi Muhammad SAW.). Ada yang menjadi rasul bangsa tertentu saja (Nabi Musa, Nabi Isa AS, dll.). Ada yang menjadi mursyid untuk orang tertentu saja, yang mana muridnya itulah yang akan menjadi nabi (Nabi Syu’aib AS). Ada yang harus menyampaikan khazanah ilahiah melalui puisi (Imam Jalaluddin Ar-Rumi). Ada yang harus membuat buku seperti (Imam Al-Ghazali). Ada yang harus membuat buku dan menyampaikan ilmu ketuhanan yang rumit dan tidak untuk masyarakat biasa (Imam Ibnu Arabi). Ada yang harus menjadi mursyid dengan penampilan mewah seperti sultan (Syaikh Abdul Qadir Jailani).

Mereka yang tampil di khalayak dan berdakwah, atau mereka yang berserban, berjanggut dan berjubah, tidak berarti mereka menjadi lebih alim, lebih ulama, dan lebih sholih daripada mereka yang tidak tampil di khalayak yang berpenampilan biasa-biasa saja.

Ukuran kesholihan dan kealiman sama sekali bukan pada tampilan lahiriyah seseorang. Dan berdakwah untuk ribuan ummat sekaligus belum tentu lebih efektif dan lebih ‘berpahala’ (kalau masih mengharap pahala) daripada berdakwah pada beberapa orang saja.

Bukan jumlahnya, tetapi sejauh mana jiwa seseorang itu dapat terkesan dan tersentuh lalu mengalami perpindahan paradigma dengan khazanah Ilahiah yang ada pada diri kita. Walau hanya satu orang.

Point saya pada tulisan ini ada kaitannya dengan ayat di bawah ini:

“Barangsiapa membunuh satu jiwa, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia.” (Q. S. Al-Maa’idah [5] : 32)

Kita fokuskan pada: “menghidupkan satu jiwa”. Bagaimana menghidupkan jiwa itu?

‘Menghidupkan jiwa’, secara hakiki juga bisa diartikan: membebaskan jiwa manusia dari timbunan sifat jasadiyah dan keduniaannya sendiri. Atau: membebaskan jiwa dari belenggu tuntutan hawa nafsu (bukan nafsu, tetapi hawanya. Karena kalau tidak ada nafsu, melihat roti pun jijik)

Banyak orang-orang yang dicintai Allah tapi tidak tampil secara terbuka di khalayak ramai untuk berdakwah, karena memang bukan tugasnya. Dia dimudahkan pada bidang lain, tidak di bidang itu.

Contohnya, seseorang yang berjualan di pasar, dia berpeluang bertemu masyarakat secara langsung. Meskipun dalam jangka yang singkat, namun bisa jadi dia sempatkan menyampaikan walau sepotong ayat yang membuat pendengarnya itu tergerak hatinya untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang penjual itu ucapkan kepada dirinya. Atau ketika penjual itu berniaga, dia sangat berbudi bahasa dan perilaku kepada semua pembeli. Orang-orang seperti ini tidak berdakwah hanya dengan kata-kata atau sekedar mengutip ayat. Mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan dan lakukan. Juga, mereka berdakwah ‘bil hal’, dengan perbuatan.

Perbuatan mereka semua sama: Al-Qur’an, Al-Haqq, kebenaran, meski mulut mereka belum tentu gemar mengutip ayat dan hadits sebagai dalil atau pun untuk berdebat.

Setiap apa yang dilakukan oleh orang-orang seperti itu adalah semata mata untuk menjalankan misi yang karena misi itu mereka diciptakan, yaitu sebagai khalifah di muka bumi.

Sekian. Allahu A’lam.

Oleh : Mahrus Afandi

____
*Catatan ngaji dengan guru dari Negeri Jiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: