Membenci Tuhan?

sumber foto : sulselku.com

Lalu kenapa ada rencana yang gagal, hati yang patah, pekerjaan yang tidak sesuai, dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian lainnya. Kan sudah dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Mengetahui, Tuhan Maha Perencana dan Tuhan Maha Bijaksana.

Tuhan dalam banyak kesempatan, memberikan perumpamaan-perumpamaan akan suatu hal sesuai dengan apa yang bisa dicapai oleh makhluknya, seperti penggambaran surga dan neraka dengan segala kenikmatan yang kita bayangkan di dunia, penggambaran padang mahsyar dengan visualisasi dunia, hari kiamat dengan gunung-gunung yang berterbangan, dan hal ghaib lainnya.

Lalu jika diperbolehkan mengumpamakan, hidup makhluk (baca manusia) di dunia ini layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Anak kecil tersebut kemudian dijejali dengan semacam manual book tentang hidup, yang mana jika A maka B, jika B maka C, jika D maka Z, dan seterusnya, atau yang bisa kita sebut Sunnatullah. Akan tetapi, anak kecil tersebut akan dibingungkan, karena segala manual book itu bisa tidak berlaku karena adanya pengecualian yang tidak terjelaskan standarisasinya.

Sebagaimana anak kecil, pastilah ia mempunyai orang tua, yang bagaiamanapun dalam kaidah umumnya orang tua akan memberikan hal yang terbaik pada anaknya.

Akan tetapi, orang tua tidak akan menjejal segala penjelasan kepada sang anak tentang hal-hal yang dilakukanya pada sang anak, dengan dalih yang telah disebutkan di awal, bahwa orang tua akan memberikan yang terbaik.

Tuhan pun seperti itu. Sebagaimana panduan hidup yang telah divisualisakan oleh para nabi-Nya -yang tentunya hanya bersifat umum-, manusia haruslah patuh dengan aturan aturan yang ada. Selain itu, kita juga sudah tersetting bahwa segalanya itu sudah dalam pantauan Tuhan, yang artinya dalam segala gerak-gerik kita diperhatikan oleh Tuhan -termasuk segala perancanaan kedepan sebagainya- yang seharusnya membuat kita menjadi istemewa dengan segala perhatian tersebut.

Entah ada kesalahan di sebelah mana, masih tidak banyak manusia yang merasa bahwa dirinya istimewa. Malah jika dalam kasus-kasus tertentu manusia malah merasa bahwa dia sangat jauh dari kata istimewa, karena dalam terminologi yang dipahami istimewa berarti mendapatkan hidup yang sempurna, akses yang mudah untuk ke mana-mana, dan segala permintaannya akan terkabulkan.

Manusia-manusia tersebut tidak jarang mempertanyakan kenapa mereka harus hidup dengan segala penderitaan yang telah di alami; seperti rencana yang gagal, hati yang patah, pekerjaan yang tidak sesuai, dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian lainnya. Kan sudah dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Mengetahui, Tuhan Maha Perencana dan Tuhan Maha Bijaksana.

Karena merasa tidak di istimewakan inilah yang akhirnya membuat manusia mulai melanggar manual book yang telah diberikan, atau lebih tepatnya melaksanakan manual book pada bagian hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Mulai dari pelarian-pelarian yang hanya bersifat sementara, atau bahkan pelarian yang dianggap bersifat permanen seperti bunuh diri.

Pada tulisan ini tidak berisi jawaban-jawaban yang seharusnya dilakukan oleh orang yang rencananya gagal, hatinya patah, pekerjaannya tidak sesuai, dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian lainnya. Karena kesemua hal tersebut sudah dicantumkan secara detail pada manual book yang bisa kita ketemukan dimanapun. Tulisan ini hanya mengingatkan bahwa sejatinya semua dari diri kita itu istimewa, hanya saja kita disusahkan untuk menggunakan persepsi kita untuk memahaminya, dan itu lah kenapa orang bisa Membenci Tuhan.

Oleh : M. Danial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: