Meneladani Jejak Mbah Yai Maimun Dari Kancah Nasional Hingga Internasional

sumber foto: instagram putrinya @shobihah_maimoen

 

Hampir tak ada yang tak kenal KH Maimun Zubair di kalangan masyarakat pesantren di Indonesia. Kiprahnya sebagai ulama dan pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, Kabupaten Rembang telah diakui dimana-mana.

Mbah Maimun lahir di Sarang, Rembang, pada 28 Oktober 1928. Mulai 1965, Mbah Maimun mulai aktif mengembangkan pesantren miliknya. Pesantren ini banyak menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari ilmu agama secara komprehensif.

Beliau merupakan tokoh yang berpengaruh di masyarakat. Pengaruhnya tidak sebatas dalam persoalan keagamaan, tetapi juga persoalan politik.

Mbah Mun pernah tercatat menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun dari tahun 1971 hingga 1978.

Juga pernah menjadi anggota MPR RI dari utusan Jawa Tengah pada tahun 1987-1999, Ketua Syuriah NU Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1985-1990, Ketua Jam’iyah Thariqah NU hasil kongres ketujuh di pondok Pesantren KH Muslih Mranggen, Demak.

Tak hanya itu, Mbah Mun juga pernah menjabat sebagai ketua MPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tahun 1995-1999, Ketua Majelis Syari’ah PPP mulai dari tahun 2004 hingga tutup usia. Juga menjadi figur utama dalam Majelis Ijtima’ Ulama Nusantara kedua di Malaysia utusan Indonesia pada tahun 2007.

Pada tahun 2010 menjadi anggota International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Indonesia yang diutus ke Uzbekistan.

Berdasarkan informasi dari jurnal UIN Sunan Kalijaga yang merupakan karya Siti Mu’azaroh dengan judul “Cultural Capital dan Kharisma Kiai dalam Dinamika Politik: Studi Ketokohan K.H. Maimun Zubair”, Mbah Mun juga merupakan sosok yang aktif dalam berorganisasi di tengah masyarakat, tercatat beberapa jabatan yang pernah diraih yakni Mudir Am Madrasah Ghazaliyah, Nadhir Masjid Jami’ Sarang, Ketua Badan Pertolongan atau Sosial Kota Sarang selama delapan tahun dari tahun 1967-1975.

Selain aktif mengajar, K.H. Maimun juga banyak menghasilkan karya di antaranya yaitu: Al-Ulama Al-Mujaddidun, Rahimahullahu Ta’ala Wa Majal Tajdidihim Wa Ijtihadihim tentang perkembangan Islam yang sangat identik dengan perkembangan para ulama dan mujaddid.

Dalam karya ini, Mbah Maimun menjelaskan tentang para mujaddid berdasarkan urutan waktu, serta pembahasan tentang masailul fiqhiyyah kontemporer yang memerlukan ijtihad baru.

Ada juga kitab Taqrirat atau penetapan hukum mengenai suatu masalah. Kitab ini meliputi Jawharut Tauhid, Ba’dul ‘Amali dan lain-lain. Karya ini adalah syarah atau penjelas dari semua nadzam tentang ajaran-ajaran tauhid. Sayangnya, semua karya ini hanya dibukukan untuk kalangan pesantren Al-Anwar saja.

Ada karangan dengan judul Masalakuttanasuk, kitab ini banyak bercerita tentang ajaran tasawuf atau cara memurnikan hati. Terdapat beberapa ijazah yang ditulis oleh Mbah Maimun dalam kitab ini di antaranya yaitu talqin yang silsilah sanadnya bisa menyambung sampai Sayyidina Ali RA.

Ada Nushushul Akhyar yang dikarang karena fenomena maraknya perbedaan di Indonesia, terutama dari kalangan NU dan Muhamadiyah ketika menentukan waktu puasa maupun lebaran. Dalam karya ini Mbah Maimun banyak mengurai penjelasan tentang itsbatush shoum, ru’yatul hilal, dan lain-lain yang berhubungan dengan suatu penetapan.

Mbah Maimun selalu menunjukkan kecondongannya pada pemerintah. Ada Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniyyah Bi Sarang Al-Qudama’ yang menjelaskan secara detail tentang biografi para masyayikh al-qudama’ (para ulama pendahulu, red) yang berjasa dan berpengaruh di daerah Sarang.

Keberadaan Mbah Mun dalam dunia politik bukan tentang kepentingan sesaat, akan tetapi sebagai kontribusi untuk mendialogkan Islam dan kebangsaan. Ini yang menjadi alasan Mbah Maimun bersedia aktif dalam kehidupan politik praktis dengan kharisma yang sulit untuk dihilangkan.

Semasa hidupnya, Mbah Maimun sering diminta untuk memberikan nasihat politik maupun rekomendasi moral dalam setiap konflik politik.

Bahkan, salah satu strategi yang banyak dilakukan oleh para kandidat politik ketika ingin melancarkan misi politiknya yaitu berkunjung ke kediaman para tokoh agama terkemuka termasuk Mbah Maimun.

Kendati demikian, orientasi politik Mbah Mun bukan untuk kedudukan, tetapi sebuah panggilan untuk melaksanakan ajaran agama sebagai manusia yang diberi kepercayaan untuk menciptakan keteraturan bukan kerusakan.

Susilo Bambang Yudhoyono sendiri mengakui tidak bisa menjalankan pemerintahannya selama dua periode tanpa bantuan fatwa Mbah Maimun.\

 

Oleh : Nunung Nasikhah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: