Jalan Cinta Abdullah

Oleh: Wandi Anwas

 

“Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.”

Suara Abuya mengakhiri pengajian kitab Tafsir Jalalain pagi ini. Abuya, begitulah para santri menyebut beliau, pengasuh sebuah pondok pesantren mahasiswa yang terletak di pinggiran kota. Sosok yang sabar, bijak, dan selalu saja dapat menghadirkan “sentilan” sekaligus keteduhan di hati para santri.

Pengajian kitab seperti ini rutin dilakukan ba’da subuh di ndalem – sebutan untuk kediaman kiyai. Selain Tafsir Jalalain, Abuya juga menguraikan isi kitab Mauidzotul Mu’minin setiap hari Sabtu dan Minggu serta kitab Shohih Bukhori setiap hari Rabu dan Kamis.

“Wi, kamu hari ini ada ku…”

“ku apa Dul? Yang jelas kalau ngomong.”

“Iya Wi, maksudku tadi kamu ada kuliah hari ini apa ndak?”

Owalah… gitu, kalau ngomong itu yang jelas. Jangan tiba-tiba berhenti. Aku nanti ada kuliah jam 9, mau berangkat bareng ta?”

Ndak, aku libur hari ini.”

Sesampai di kamar, Abdullah langsung mengambil smartphonenya, lalu membuka aplikasi Instagram. Dibukalah akun temannya satu persatu, mengecek para pengikut dan siapa saja yang mereka ikuti.

“Alhamdulillah, ketemu. Ternyata namanya Lala.” Teriaknya penuh syukur.

Kemudian ia langsung memfollow dan mengirimkan pesan kepadanya.

Assalamualaikum wr. wb.

Bukan merpati, ataupun burung dara

Membawa sepaket cinta yang harus kuterima.

Bahkan tanpa harus aku memesannya.

Tidak pula aku mereka-rekanya.

Wahai wanita pembaca pesanku

Izinkanku menjaga amanah Tuhanku

Dengan merawat rasa ini denganmu

Tidak lama kemudian pesan balasan dari Lala ia terima.

Wa’alaikumussalam wr wb.

Siapakah Gerangan,

Kita belum saling mengenal

Mengapa kau begitu frontal

***

Jika Malam adalah kegelapan, maka bulan adalah penerangnya

Jika masa depan masih suram, maka kamu lah lintangnya

Perkenalkan, nama saya Abdullah

Dengan berbekal pengalaman Abdullah selama ini, akhirnya Lala mulai terpikat dengannya. Kedekatakan mereka semakin berlanjut, hingga tak pernah ada kisah sehari tanpa saling berkirim pesan.

***

Entah bagaimana, aroma kedekatan mereka akhirnya tercium oleh Abuya. Dipanggillah Abdullah ke ndalem. Begitulah, Abuya memang selalu bisa merasakan jika ada santrinya yang agak keluar jalur.

“Dul, orang yang menghafal al-Qur’an itu harus memiliki hati yang bersih. Agar al-Qur’an tidak hanya menjadi lalaran di bibir saja, tapi juga lalaran dalam aktifitas sehari-hari kita. Bukan hanya dilafadzkan, tapi juga diamalkan.”

Hening. Abuya menjeda dawuhnya. Sedangkan yang didawuhi hanya bisa menunduk, dengan mata yang sudah tak bisa lagi menatap warna putih ubin di bawahnya dengan jelas. Tanpa ayat ataupun hadits, dawuh Abuya memang sederhana, tapi sangat mengena.

“Dul, setan itu juga menjerumuskan manusia dengan membuat manusia seolah-olah melakukan sesuatu yang baik dan benar. Padahal ia sedang terperangkap dalam jebakan setan. Waspadalah dul,  jangan sampai tertipu. Jaga diri dan amalmu baik-baik.”

Inggih, Abuya. Dalem nyuwun ngapunten. Dalem nyuwun pangestunipun.”

Selain mendalami ilmu membaca kitab, Abdullah memang juga mengikuti program menghafal al-Qur’an. Motivasinya tiba-tiba meningkat ketika awal-awal mengenal Lala, apalagi ketika ia tahu bahwa Lala mendambakan laki-laki yang menghafal al-Qur’an. Namun motivasinya tidak stabil, kadang semangat sekali, terkadang cenderung ke arah menurun, dan bahkan juga hilang.

Sepulang dari ndalem Abuya, Abdullah lebih sering terdiam menyendiri, merenungi setiap detail nasehat Abuya. Ia menyadari beberapa kesalahannya. Pertama, setan menggodanya agar terus mendekati Lala dengan membuatnya seolah-olah ia mendapatkan manfaat motivasi yang tinggi. Namun kenyataannya, waktu dan pikirannya justru banyak terforsir untuk Lala. Kedua, layaknya air bening ketika dicampur kotoran, maka akan menjadi keruh. Begitulah kira-kira apabila menghafalkan al-Qur’an namun maksiat tetap dijalankan. Hafalanya mungkin akan sulit diselesaikan, apalagi sampai mengamalkannya.

“Kendati saya belum bisa sepenuhnya membersihkan diri dari maksiat, paling tidak saya harus mengupayakan untuk terus menguranginya.” Itulah kalimat akhir Abdullah dalam perenungannya.

***

Assalamualaikum Wr. Wb.

Wahai wanita pembawa lentera harapanku

Maafkan daku maafkan daku maafkan daku

Izinkanku tetap menjaga amanah Tuhanku

Menyematkan namamu dalam setiap doaku

 

Dengan mengucapkan bismillah, akhirnya Abdullah mengirim pesan terakhir kepada Lala sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melaksanakan nasehat Abuya serta perenungannya.

***

Hari demi hari terus berjalan. Abdullah sudah mulai kembali fokus pada impiannya. Begitu juga Lala yang akhirnya memutuskan untuk mengikuti program tahfidz pula.

Abdullah yang dulu hanya mampu setor 1 juz per bulan, akhirnya bisa meningkatkan jumlah setorannya hingga 2 juz per bulan dan relatif stabil. Kendati sudah memutus komunikasi dengan Lala, Abdullah sebenarnya masih menyimpan harapan kepada Lala. Harapan itulah yang akhirnya juga memompa semangat Abdullah.

Time flies. Satu tahun tepat telah berlalu. Hari ini, Abdullah baru saja merampungkan setoran hafalannya juz ke dua puluh tujuh. Ting. Ia menerima sebuah pesan di Instagramnya. Ternyata dari Lala. Hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dengan penuh penasaran dan bahagia karena sudah lama tidak berkomunikasi, akhirnya ia mulai membacanya.

Bismillahirrohmanirrohim. Ucapnya.

Assalamualaikum

Mas Abdullah, Maafkan Lala jika selama ini Lala banyak Salah.

 

Baru membaca baris bertama, ia sudah mulai merasa bingung. Namun ia tetap melanjutkan membacanya.

Jujur saja, Lala masih menyimpan harapan pada mas Abdullah.

 

Setelah membaca pesan pada baris kedua, ia mulai merasa resah dan semakin bingung dengan maksud Lala. Abdullah tidak ingin melanjutkan membaca. Ia tidak siap dengan apa yang akan Lala sampaikan. Namun ia harus tetap melanjutkan membacanya. Abdullah menarik nafas, lalu membaca bismillah kembali.

Bismillahirrohmanirrohim.

Kemarin ada seorang laki-laki yang melamar Lala,

Dia orang Sumatra,

Darrrrrr.

Hatinya menjadi hancur berkeping-keping. Pandangannya sudah benar-benar kabur, tertutup oleh butiran air yang berlinang-linang begitu saja.

“Apakah perjuanganku untuk Lala sudah berakhir di sini?” tanya ia pada dirinya sendiri.

Abdullah mengulangi pertanyaannya kembali.

“Apakah perjuanganku untukmu sudah berakhir di sini?” tanya ia pada selembar foto lala yang digenggamnya.

“Apakah benar-benar sampai di sini?” Abdullah terus-terus mengulangi pertanyaan ini. Semakin lama suaranya saemakin lirih, ada nada kesakitan di sana.

Lalu terbersit dalam pikirannya,

“Apakah kamu menerimanya La? Saya harap kamu tidak menerimanya La.”

Dengan harapan itu, Abdullah melanjutkan membaca pesan dari Lala.

Bapak dan Ibu sudah menerimanya.

Sekali lagi mohon maaf mas.

Saya harap Mas berkenan hadir dalam acara pernikahan Lala nanti.

Mohon doanya agar diberi kelancaran

Hati Abdullah semakin hancur berkepng-keping.

Lala, kenapa kamu menghancurkan harapanku Lala? Mengapa kamu tidak mau menungguku sebentar lagi, padahal saya sudah hampir selesai. Abdullah hanya mampu membacanya, tanpa mampu membalasnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Lalu ia mencoba menguatkan hati dan dirinya kembali. Kembali mengingat-ingat nasehat Abuya serta perenungannya yang dulu.

“Semua sudah ada jalan takdirnya, saya hanya perlu menerima atas Takdir dari Allah SWT”

Abdullah mencoba menguatkan diri.

***

Semalaman penuh Abdullah bermunajat, berusaha menguatkan diri. Keesokan harinya ia mencoba membalas pesan Lala.

Waalaikumussalam wr wb

Alhamdulillah, Saya turut berbahagia.

Insyaallah Saya hadir, nanti tolong kabari lagi tanggalnya, dan

Semoga lancar sampai hari pernikahan dan seterusnya

 

Setelah membalas pesan itu, Abdullah mengumpulkan tekad kembali untuk menyelesaikan hafalannya.

***

Tiga bulan kemudian Abdullah telah siap untuk mengikuti ujian tashih. Rencananya ia akan mengikuti ujian tashih hari selasa depan, tanggal 28 Oktober 2020. Segala persiapan telah ia lakukan.

Tiga hari sebelum ujian, Abuya memanggilnya ke ndalem.

“Dul, kamu sekarang sudah waktunya dan siap menikah. Selasa besok, setelah kamu ujian tashih kamu akan saya nikahkan. Piye?

Dalem nderek kemawon, Abuya”

Yawes, maturo ke orang tuamu.”

Inggih, Abuya” jawab Abdullah

Sebagai santri, mengikuti dawuh kiyai adalah harga mati. Sami’na wa atho’na. Sendiko dawuh. Kendati Abdullah sendiri belum tahu dengan siapa ia akan dinikahkan.

“Saya mau dinikahkan Abuya sama siapa ini? Beliau kan tidak punya anak perempuan. Apa keponakannya ya? Pasti cantik, dan sholehah tentu saja” khayal Abdullah.

***

Selasa, 28 Oktober 2020 tiba. Selepas subuh Abdullah sudah memulai ujian tashihnya, agar selesainya nanti tidak terlalu malam. Kedua orangtuanya sudah datang sejak kemarin malam. Lengkap dengan kakak, adik, dan paman-pamannya. Sekitar 3 mobil. Mereka datang satu hari sebelumnya agar bisa beristirahat. Kendati masih sama-sama di pulau Jawa, namun jaraknya memang lumayan jauh, memerlukan waktu sekitar 8 jam.

Ujian Tashih selesai 5 menit sebelum adzan Isya’. Kemudian dilanjutkan dengan sholat Isya’ berjamaah lalu pembacaan doa.

***

Sembari menunggu panitia mempersiapkan tempat untuk akad, Abdullah kembali mencoba menerka-nerka siapa wanita yang akan Abuya jodohkan dengannya. Namun tetap saja, ia masih saja belum bisa mendapatkan jawabannya.

“Monggo mas Abdullah, tempat akadnya sudah Siap”

“Terimakasih ya mas”

Sebelum akadnya dimulai, Abdullah memberanikan diri bertanya kepada Abuya.

Ngapunten, Abuya… sampai sekarang dalem masih belum tahu siapakah wanita yang hendak dinikahkan dengan dalem

“Sudah, kamu terima saja. Insyaallah kamu akan bahagia. Inisialnya N”

“Wanita bernama N biasanya cantik-cantik, semoga sholehah juga” Hatinya menganilisis, dan berdoa tentu saja.

“Bagaimana Abdullah? Sudah siap”

Inggih Abuya, Insyaallah”

“Bismillahirrohmanirrohim, Saya nikahkan dan kawinkan, saudara Abdullah dengan Naila binti Muhammad mewakili bapaknya dengan mas kawin 15 juta dibayar tunai.”

“Saya terima nikah dan kawinnya, Naila binti Muhammad dengan Mas kawin tersebut, dibayar tunai”

“Sah?”

“Sahhhhh”

“Alhamdulillah,”

Gemuruh ucapan sah lalu hamdalah bersahutan terdengar. Abuya lalu memimpin do’a yang diaminkan dengan serius oleh sesiapa saja yang hadir di sana.

Setelah do’a, Abdullah ditemukan dengan pengantin putrinya. Wanita itu, yang beberapa menit lalu telah sah ia panggil sebagai istri, datang dengan anggun menggunakan gaun putih didampingi beberapa orang yang membantu membawakan ekor gaunnya yang menyapu lantai. Ia dituntun Abuya menghampiri istrinya, dengan mata yang tidak pernah terlepas dari sosok yang masih saja menunduk di seberang sana. Wajah itu, kenapa terasa familiar?

Kaget bukan kepalang. Abdullah terpaku, dan terpukau pada waktu yang sama. Ia baru menyadari bahwa wanita bergaun putih dengan sapuan riasan anggun di depannya ternyata adalah lala. Lala, lintangnya. Lentera harapannya.

“Lala?”

Abdullah semakin bingung dan penuh tanya setelah melihat istrinya ternyata benar – benar Lala.

“Lala? Bukannya kamu akan menikah dengan orang Sumatra? Kenapa sekarang kamu di sini? Bukankah saya juga menikahnya dengan Naila binti Muhammad? Sedangkan kamu Lala bukan Naila?”

“Ceritanya panjang, nanti akan saya ceritakan ketika di kamar, sekarang kita nikmati dan rayakan dulu pernikahan kita”

“Ahsiaappp”

Senyuman tak henti-hentinya tersunging di bibir mereka berdua.

***

Selesai acara, Abdullah dan Lala kembali ke kamar.

“Mas, kamu Jadi ingin mendengar ceritanya hingga kita bisa menikah?”

“Iya”

“Nama saya sebenarnya memang Naila mas, tapi orang-orang biasa memanggil saya Lala. Memang itulah namaku yang mereka kenal, makanya di medsos saya menggunakan nama Lala juga. Agar mereka juga mudah menemukannya. Kemudian perihal lamaran orang sumatra itu,…”

Lala diam sejenak

“Lamarannya memang sudah terjadi dan sudah ditentukan tanggal akadnya. Sebulan setelah akad itu, dia pergi umroh bersama keluarganya. Ketika umroh, ia menderita sakit. Sakit itu yang akhirnya menyebabkan ia meninggal sewaktu masih menjalankan ibadah Umroh. Setelah kabar itu sampai kepada keluargaku, akhirnya keluarga dia melepaskan lamarannya. Dua hari kemudian orangtuaku sowan ke Abuya.  Kemudian Abuya menanyakan perihal pernikahanku. Lalu orangtuaku bercerita. Setelah mendengar cerita dari orangtuaku, kemudian Abuya tiba-tiba menawarkan kepada orangtuaku untuk menjodohkanku dengan santrinya, yaitu kamu. Jadilah kesepakatan itu, hingga Akhirnya terjadilah pernikahan kita. Memang kalau jodoh itu tidak akan tertukar ya mas, bagaimanapun lika-likunya.”

“Iya, Alhamdulillah saya telah berhasil menyelesaikan hafalan, sekaligus meraih harapanku yang dulu pernah hilang untuk menikah denganmu”

 

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: