Kiyai Abdullah

“Acara selanjutnya adalah mauidhotul Hasanah yang akan disampaikan oleh Kiyai Haji Abdullah. Kepada beliau dihaturkan. Shollu ala Nabi Muhammmmmmadd”

“Allahummasholli wasallim wabarik alaih”

Kiyai Haji Abdullah yang terkenal dengan nama panggung Ki Dul mulai beranjak dari kursi diiringi oleh Kiyai Haji Ahmad selaku tuan rumah menuju panggung.

Tiga baris di belakang Ki Dul Nampak dua orang santrinya yang nderekaken sudah bersiap siaga apabila Ki Dul menghendaki sesuatu atau terjadi sesuatu. Kang Fatur dari Kalimantan dan Kang Amar dari Madura. Keduanya merupakan santri kinasih yang juga mahir dalam beladiri.

“Assalamualaikum wr. wb. Alhamdulillahilladzi anzala al-Qur’ana fi Syahri Romadhon, waja’alahu hudan wa nuran wa syifa’an lijamiil muslimin. Sholatan wa salaman ala rasulina, wahabibina Muhammadin SAW”

“Allahumma sholli Alaih” sahut jamaah

“alladzi unzila ilaihi al-Qur’ana, wa ja’alahu uswatan fi aqwalihi, wa af’alihi, waba’atsahu liyutimma akhlaqina. Amma Ba’du”.

“Bapak, Ibu, Hadirin Rahimukullah”

“Pada Tahun 2020 lalu, Dunia sedang dilanda oleh wabah corona. Dampak wabah ini begitu besar hingga mengacaukan aktifitas semua negara di dunia. Bahkan negara yang digdaya seperti Amerika, China, dan negara-negara Eropa lainnya juga dibuat kewalahan.”

Ki Dul mulai menata Kembali tempat duduknya.

“Akan tetapi, ada momentum menarik yang saya peroleh dan mungkin akan sangat bermanfaat bagi kalian, terlebih santri-santri yang sedang menuntut ilmu di pondok ini.”

“Ketika corona ini melanda dunia hingga ke Indonesia, semua negara mulai menerapkan strategi-strategi untuk mencegah penyebaran maupun mengupayakan pengobatannya.”

“China terlebih dulu menerapkan strategi yang disebut dengan Lockdown.”

“Strategi apa, Bu?” Ki Dul melemparkan pertanyaan kepada Ibu-ibu Jamaah.

“Londonnnn” Jawab Ibu-ibu jamaah serempak.

“Bukan London, Bu. Tapi Lontong. Hahaha”

“Apa, Bu? Coba diulangi”

“Lontong, Pak Yai”

“iya. Betul, Lockdown.”

“Nah… berhubung Ketika itu, corona di Indonesia semakin meluas dan juga bertepatan dengan bulan Ramadan, maka pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah kebijakan yang dikenal dengan PSBB.”

“Sampai sini faham, Pak” Kali ini Ki Dul melemparkan pertanyaan ke bapak-bapak jamaah.

Sesuai dengan arahan dari panitia, jamaah putra dan jamaah putri dipisah dengan sebuah satir kain yang memanjang dari depan panggung sampai belakang. Jamaah putra berkumpul di sisi kanan panggung, sementar jamaah putri di sisi kiri panggung.

“Saya lanjutkan lagi, ya?”

“Ketika desas-desus  akan diberlakukannya PSBB, hampir semua pondok pesantren di Indonesia memulangkan santrinya. Padahal saat itu sudah mendekati bulan Ramadan.”

“Alhamdulillahnya, Pondok saya dan Yai Ahmad tidak langsung memulangkan santrinya. Kami saat itu tetap diminta untuk mengikuti kegiatan pesantren ramadan di pondok, dan akan dipulangkan selesai pesantren ramadan. Direncanakan kami akan dipulangkan lebih awal daripada pesantren ramadann biasanya, yakni sekitar tanggal 17 Ramadan.”

“Berhubung saat itu bulan Ramadan, ya saya ndak boleh makan atau minum. Karena saat ini bukan bulan Ramadan…”

Ki Dul lalu melirik meja di sebelahnya yang masih kosong, kemudian melirik jamaah dengan senyuman isyarat.

“Hahahahahahahaha“ para jamaah yang memahami maksud Ki Dul pun sontak tertawa

“Guyon aku, Rek! Tadi saya habis minum kok. Tapi sekarang sudah haus lagi. Eh…”

“hahahahahahahaha” para jamaah tertawa Kembali.

“Saya lanjutkan nggeh Pak, Bu?”

Nggeh

“Dengan diumumkannya kebijakan dari pengasuh yang demikian, kami para santri sangat senang karena akhirnya akan pulang lebih awal juga.”

“Awal Ramadan yang saat itu jatuh pada hari jum’at mulai ramai dengan desas desus baru. Apa itu, Pak,Bu?”

“Kiamat di pertengahan Ramadan, Yi.” Celetuk salah satu bapak yang tutuk di pojok kanan di belakang barisan tamu VIP.

“Hahaha… bukan pak, bukan itu. Itu hadisnya banyak yang mempertanyakan keasliannya.”

“Ibu-Ibu ada yang tahu?”

“Larangan mudik, Pak Kyai.” Jawab ibu berkerudung kuning yang sebaris dengan bapak tadi.

“Nah… betul itu. Jadi, setelah ada isu akan diterapkannya kebijakan larangan mudik. Saya dan teman-teman mulai merasa risau. Terlebih saat itu pak Yai juga memberatkan santrinya pulang karena kondisi yang semakin memprihatinkan untuk bepergian.”

Ki Dul kemudian memperagakan sebuah dialog antara dia dan teman-temannya.

“Kalau nanti benar-benar dilarang mudik gimana, Kang?”

“Kalau saya sih santai saja dul, karena saya sudah beberapa kali lebaran di pondok dan ndak pulang.” Jawab Kang Jamil

“Iyo, Kang. Pantas biasa saja karena kamu sudah biasa lebaran di pondok. Kalau saya ndak biasa kang. Saya kangen rumah, pengen pulang.”

“Memangnya kalau sampeyan pulang itu mau ngapain sih? Keadaannya juga kan belum memungkinkan untuk bepergian. Nanti kalau kamu pulang, terus diisolasi 14 hari. Kamu ndak jadi kumpul keluarga malahan.”

“Tapi aku pengen pulang, Kang. Aku pengen mengerjakan skripsi di rumah.”

“Kenapa ndak dikerjakan di pondok saja? Kan sama saja.”

“Beda, Kang. Kalau di rumah saya bisa melihat orangtua saya. Jadi Ketika saya malas, saya akan melihat mereka biar semangat lagi.”

“Halah… blegedes. Kamu kan juga bisa pasang foto mereka di lemari, jadikan wallpaper di laptop dan HP.”

“Tapi beda, Kang.”

“Beda apanya? Itu kan hanya alasanmu saja.”

“Sudahlah, Kang. Kamu ndak bisa ngertiin aku.”

Abdullah kemudian Kembali ke kamarnya. Membayangkan tatkala ia harus lebaran berpisah dengan keluarga.

“Bapak, Ibu, saya pengen pulang. Jemput aku.”

Tanpa terasa, matanya mulai berkaca-kaca. Lalu datanglah Kang Irwan.

“Kamu ini ngapain dul? Anak laki kok nangis.”

“Lha gimana, Mas. Saya ingin pulang.”

“Keadaannya lho kaya gini. Masa kamu mau pulang? Nanti berbahaya untukmu, keluargamu. Belum lagi jika nanti menimbulkan fitnah bagi keluargamu dan pondok kita.”

“Kenapa sih kita ndak dipulangkan sebelum puasa kemarin seperti pondok lainnya? Kan jadinya kaya gini, kita ndak bisa pulang.”

“Astaghfirullah… Istighfar, Dul. Jangan sampai kamu menduga hal yang kurang baik atas keputusan gurumu.”

“Terus gimana, Kang?”

“Kamu ingat ndak…

Ndak, Kang.” Potong Abdullah.

“Haduh… kamu ini, belum dijelaskan sudah dipotong.”

“Hehe…. Maaf, Kang.”

“Kamu ingat ndak sewaktu ngaji sore dulu. Pak Yai pernah menjelaskan bahwa seandainya kita diperlihatkan atas semua kemungkinan takdir kita kemudian kita diminta memilih, niscaya kita akan memilih takdir yang kita jalani. Karena sejatinya takdir yang kita jalani merupakan takdir yang terbaik bagi kita.”

Kang Irwan diam sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya dengan tatapan penuh keyakinan.

“Begitu juga dengan takdir yang sedang kita jalani. Andaikata Allah menunjukkan atas segala kemungkinan takdir kita entah itu Ramadan di pondok atau Ramadan di rumah dengan keluarga, niscaya kita akan memilih takdir kita saat ini; yaitu di pondok.” Lanjut Kang Irwan.

“Emm… bener juga sih, Kang.”

“Nah… kita perlu ingat juga bagaimana pesan yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim.”

“Pesan apa itu, Kang?”

“Ingatlah bahwa salah satu adab seorang santri kepada gurunya adalah senantiasa meyakini bahwa keputusan-keputusan yang diberikan oleh guru kita merupakan keputusan-keputusan yang baik. Jangan sampai menimbulkan sedikitpun dalam hati kita sebuah keyakinan bahwa guru kita telah mengambil keputusan yang kurang tepat apalagi salah. Bukan karena kita mendewakan guru kita, akan tetapi itu merupakan upaya kita agar guru kita senantiasa senang dan tenang sehingga beliau ridho kepada kita. Barangkali, keberatan hati yang kita alami akan menjadi momentum ditumpahkan keridhoan guru kita karena kita senantiasa ikhlas dan yakin atas keputusan-keputusan guru kita.”

“Alhamdulillah… Terimakasih atas nasehat dan penjelasannya, Kang.”

“Yaudah… silahkan istirahat dulu untuk menenangkan pikiran.”

“Baik, Kang.”

Hari demi hari terus berjalan. Perkembangan Corona pun semakin menjadi. Akan tetapi, beberapa santri justru semakin memberontak untuk pulang. Hingga pada akhirnya, ada kebijakan baru yang membolehkan santri untuk pulang dengan protokol yang telah ditentukan. Kendati pak Yai juga sebenarnya agak keberatan memulangkan santri dengan berbagai pertimbangan.

“Kamu jadi pulang, Han?”

“Jadi. Aku tadi sudah mendapatkan tandatangan untuk perizinan pulang.”

“Ooh… yaudah. Hati-hati di jalan.”

“Kamu pulang a, Dul?”

“tidak, Han. Aku mau menangkap tumpahan ridho pak kyai dengan tetap stay di Pondok.”

Weleh-weleh……. Gaya tok kamu, Dul.”

“Biarin. Weeeek…

Selain Farhan, Dawam dan Waid, Kurnia juga ikut pulang. Sementara, Abdullah, Kang Jamil, Ahmad, dan Kang Irwan dan 15 santri lainnya memilih untuk tetap di Pondok.

Tanpa terasa, Ramadan sudah memasuki hari ke-21.

Abdullah yang terbiasa melaksanakan salat witir setelah sahur tiba merasa ‘sreeng’ dan bulu kuduknya merinding.

Setelah sholat Abdullah kemudian berdo’a,

“Ya Allah, berikanlah kami ilmu yang bermanfaat, mudahkanlah kami dalam memahami nahwu shorof dan ilmu-ilmu lainnya serta berikanlah aku, dan teman-temanku kemudahan dalam menyelesaikan tugas skripsi. Mudahkanlah pula teman-temanku yang sedang menghafal al-Qur’an. Jadikan aku, mereka, dan keturunan kami menjadi penghafal dan pengamal al-Qur’an. Dan berikanlah kami jodoh yang cantik, pinter, dan sholihah, kaya juga ndak papa ya Allah. Aamiin.”

 

“Benar saja apa yang pernah dijelaskan oleh Kang Irwan. Berkah nderek apa yang didawuhkan oleh guru, saya mendapatkan lailatul qodar sehingga saya dapat mengerjakan skripsi seperti di atas angin, bahkan pada akhirnya saya bisa duduk di depan panjenengan semua.”

“Jadi, ketika nanti jenengan mondokaken putra putri jenengan, jangan sampai ragu dengan gurunya. Mantapkan saja hati jenengan, Insyaallah anak jenengan akan menjadi orang sholih karena ilmunya bermanfaat.”

“Cukup ya, Bu, Pak? Semoga pengalaman yang saya ceritakan ini bisa bermanfaat bagi bapak dan ibu semua. Semoga kita juga diberikan keturuanan yang sholih, sholihah, yang bukan hanya menjadi kebanggaan orangtua, tapi menjadi kebanggaan Rasulullah SAW juga. Aamiin.”

“Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh.”

“Wa’alaikumussalam wr.wrb.”

 

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, lokasi dan lain-lain merupakan unsur yang memang disengajakan.

Wandi Anwas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: