Tips Bagi Orang Tua Yang Menginginkan Anaknya Cepat Selesai Menghafalkan AL-Qur’an

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىَ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :”مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ , أَدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ, وَشَفَّعَهُ فِيْ عَشْرَةٍ مِنْ اَهْلِ بَيْتِهِ, كُلُّهُمْ قَدْ

اِسْتَوْجَبَ النَّارَ”

Rasulullah SAW bersabda, “ Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya, maka Allah memasukkannya ke dalam surga dan menganugerahkannya hak untuk memberi pertolongan kepada sepuluh orang keluarganya yang telah ditetapkan sebagai penghuni neraka” HR Ibnu Majah.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah ini pada umumnya menjadi landasan dan motivasi bagi anak-anak yang sedang menghafalkan Al-Qur’an. Utamanya bagi mereka yang sudah ditinggal oleh orangtuanya, sementara ia belum sempat membahagiakannya. Meskipun ada pula niat yang kurang tepat semisal untuk mendapatkan beasiswa, agar dihormati orang lain, atau untuk memenuhi syarat mendapatkan sesuatu -restu calon mertua, atau hal yang paling sepele seperti makan gratis-.

KH Shihabuddin dalam acara penutupan do’a khataman rutin Ahad Wage yang bertepatan 1 Muharram 1441 menuturkan : “Tidak perlu menunggu ikhlas dalam memulai menghafalkan al-Qur’an karena Ikhlas akan tumbuh seiring dengan berjalan waktu ketika menghafalkannya. Jika menunggu Ikhlas, maka kamu tidak akan pernah memulainya.”red. Tentu tumbuhnya ikhlas ini di sini juga harus disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh.

Dengan beragamnya niat dan motivasi untuk menghafalkan Al-Qur’an serta semakin merebahnya semangat untuk menghafalkan Al-Qur’an -hal ini dapat anda saksikan dengan menjamurnya pesantren yang mengkhususkan untuk program menghafal Al-Qur’an-, Maka para ahli baik dengan pengetahuan maupun dengan pengalamannya mulai menyusun metode-metode yang kiranya dapat membantu para penghafal Al-Qur’an. Metode-metode yang disusun umumya diperuntukan bagi pelaku penghafal Al-Qur’an seperti bagaimana cara cepat menghafalnya, berapa ayat yang perlu ia hafalkan per harinya agar selesai dalam jangka waktu tertentu dll.

Abuya Taqyuddin Alawy dalam beberapa kesempatan pernah bercerita. Dulu ada seorang wali santri yang sowan hendak memboyong anaknya karena sudah tiga tahun anaknya baru bisa menyelesaikan hafalannya sekitar 12 Juz. Kemudian Abuya memberi tawaran dan syarat kepada wali santri tersebut. Dawuhnya Abuya “Anakmu jangan kamu boyong sekarang, beri waktu satu tahun lagi, Insyaallah hafalan Al-Qur’anya akan selesai. Tapi ada syaratnya.”red.

Syarat bagi orangtua yang menginginkan anaknya dimudahkan dalam menuntut ilmu -dalam pembahasan ini adalah menghafalkan Al-Qur’an- ada 2. “Pertama , selama dalam proses menghafalkan Al-Qur’an satu tahun ke depan, berikan anakmu uang saku dari harta yang benar-benar halal”. KH Achmad Shampton dalam pengajian kitab Al-Adzkar pernah memberikan keterangan “kehalalan makanan yang dikonsumsi akan menghasilkan energi yang positif. Energi positif inilah yang akan mendorong untuk melakukan kebaikan. Maka ketika kita malas beribadah, sholat subuh kesiangan, kita perlu curiga. Jangan-jangan makanan yang kita makan belum jelas kehalalannya”.

Dalam acara Haul K.H Achmad Masduqi Mahfudz yang ke-5, Adik beliau yakni Mbah Ahmed menceritakan tentang bagaimana Abah Masduqi menjaga prinsip dan amanah dari mertuanya, KH Chamzawi, dalam menjaga kehalalan setiap nafkah yang akan diberikan kepada keluarganya. Dalam menjaga kehati-hatiannya ini, Abah Masduqi tidak pernah sepeser pun mengambil uang gaji dari negara yang digunakan untuk menafkahi keluarganya hingga beliau wafat. Hal serupa juga dilakukan oleh KH Maemun Zubair, menurut informasi yang kami terima, keluarga beliau hanya makan dari beras yang beliau tanam sendiri untuk menjaga kehalalan setiap yang dikonsumsi.

طَلَبُ الْحَلَالِ فَرِيْضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ

Mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban setelah melaksanakan kewajiban (dalam beribadah).

http://nun-media.com/2017/12/31/keteladanan-abah-masduqi-kesabaran-bukan-hanya-berarti-kesabaran/

Syarat yang “kedua, selama dalam proses menghafalkan Al-Qur’an satu tahun ke depan, jangan lupa kirimkan doa surat Al-Fatihah sekali setiap selesai sholat fardhu yang ditujukan khusus kepada anakmu.” Harapannya adalah agar Allah membukakan pintu rahmatNya, sehingga ia dimudahkan dalam menghafalkanya. Keterbatasan kemampuan manusia, dalam hal ini kemampuan menghafal, dapat ditembus dengan doa. Karena hanya Allah semata yang mampu mengantarkan makhlukNya melebihi keterbatasannya.

Dalam kesempatan lain, Abuya juga sering bercerita bahwa ada seorang wali yang menolak ketika dimintai doa oleh seseorang yang masih memiliki orangtua. Kata wali tersebut “doaku tidak lebih mustajab daripada do’a orangtuamu, terlebih ibumu. Mintalah do’a kepada mereka”. Abuya juga menjelaskan bahwa do’a seorang ibu memiliki derajat yang sama dengan do’anya seorang wali Qutub. Sedangkan do’a seorang wali Qutub tidak pernah ditolak oleh Allah SWT.

Setelah satu tahun kemudian, wali santri ini sowan kembali untuk memboyong anaknya. Berkat kesungguhan anak, guru, dan orangtuanya, selama setahun itu akhirnya ia boyong dalam keadaan telah menyelesaikan hafalannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan kesuksesan seseorang dalam menuntut ilmu, menghafalkan al-Qur’an, diperlukan tiga peran yang harus saling bekerja sama. Pertama, peran seorang anak yang bersungguh-sungguh dalam menambah, mengulangi  hafalannya. Kedua, peran seorang guru yang bersungguh-sungguh dalam membimbing serta mendoakan murid-muridnya. Ketiga, peran orangtua yang bersungguh-sungguh dalam mencarikan rezeki yang halal serta mendoakan anak-anaknya.

oleh : Wandi Anwas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: