Mengenal Pesantren Rakyat: Kombinasi Pembelajaran Hidup, Syukur dan Kedekatan dengan Alam

Di kalangan kaum urban, pola hidup yang cepat, dinamis dan kompetitif memang tak terelakkan. Kesibukan kerja dan beban hidup yang tinggi seringkali membuat kita lupa tentang makna hidup dan makna bersyukur yang sebenarnya. Terlalu sibuk dengan diri sendiri, hingga lupa bersosialisasi apalagi melakukan konservasi.

Berangkat dari sini, Ulul Azmi, pemangku Pesantren Alam Kota Batu kemudian berupaya menghadirkan apa yang mulai terkikis dan hilang. Batu dulunya adalah area agraris yang dalam nyaris 20 tahun berubah menjadi kota besar dengan kehidupan yang serba berubah.

“Masyarakat semakin sibuk dengan pekerjaan. Lahan sawah berkurang, teknologi berkembang pesat. Anak muda hanya terfokus dengan gadget. Sedangkan bersosialisasi sudah tak sempat. Weekend memilih nongkrong bareng tapi saling melihat HP. Ini ironis,” terang Azmi.

Pada 31 januari 2019 lalu, Azmi kemudian menggagas terbentuknya pesantren rakyat yang terletak di dusun Macari, desa Pesanggrahan, Kota Batu. Tempat ini didesain sedemikian rupa menjadi tempat berkumpul dan belajar. Di depan markas pesantren, terdapat kolam yang biasa digunakan oleh warga sekitar untuk mencuci dan bermain air untuk anak-anak.

Suasananya asri. Banyak tanaman dan pepohonan. Lantai masih berupa tanah yang segar dengan hijaunya rerumputan. Bangunan yang dibuat pendopo juga berasal dari kayu dan bambu. Tidak berdinding penuh, hanya separuh.

Orang yang berkumpul disana tampak tentram. Tidak terlalu disibukkan dengan gadget. Pembicaraan apapun tampak nikmat. Pun dengan suasana alam yang asri ditambah hawa Kota Batu yang sejuk. Tidak ada batasan pengunjung, siapapun boleh mampir kesini. Gratis.

Puluhan jenis hewan ada. Mulai dari burung sribombok yang katanya langka, lalu ada tupai, kelinci, kambing, ayam, ikan dan masih banyak lagi. Juga ada jenis bunga tanjung, pohon beringin, kemiri, apukat hingga sirsak.

“Kami berusaha menjaga Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Kita juga menanam pohon kelapa yang mulai sulit ditemui disini. Nanti akan kita tambah saat hari pramuka 14 Agustus,” tutur Azmi.

Basis kegiatan di pesantren rakyat ini sangat beragam. Mulai dari pembinaan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang ada didusun tersebut yakni MI Darul Ulum hingga warga sekitar Kota Batu.

 

Kurikulum siswa madrasah ditajamkan ke arah pesantren. Murid dan walinya juga diajarkan cara menjaga lingkungan dengan baik. Caranya? Bayar SPP hanya menggunakan sampah yang masih bernilai jual.

“Kalau mau bayar SPP cukup bawa sampah yang bernilai Rp. 5 ribu saja. Itu sudah dihitung untuk SPP per bulan,” ungkap Azmi.

Sebelumnya, wali murid telah diberi pelatihan tentang cara mengelola sampah yang sesuai. Mereka diberi bekal pengetahuan tentang cara memilah sampah yang baik.

Disamping itu, pesantren ini juga menerapkan konsep jagong maton yang berarti kongkow-kongkow tapi bermakna. Tentu yang dimaksudkan adalah konsep berdiskusi tentang suatu topik yang bermakna.

“Yang dibicarakan adalah ngaji urip (hidup) dan syukur. Misal nanti masalahnya adalah tentang ekonomi ya kami bantu carikan solusinya,” papar Azmi.

Salah satunya adalah dengan memberi pelatihan usaha kepada warga sekitar yang terpilih. Kelompok masyarakat ini dibina selama periode tertentu untuk menjalankan usaha kekinian berbasis online untuk kemudian diberi modal agar bisa dijalankan.

Sesuai namanya. Pesantren rakyat ini ya diperuntukkan bagi rakyat. Untuk belajar mengenai hidup dan arti bersyukur. Ide ini juga terealisasi dari kerjasama rakyat, warga kampung sekitar.

“Tujuannya menyederhanakan kata pesantren. Menciptakan suasana yang enjoy. Damai. Namun tetap ada unsur belajar,” katanya.

Kendati namanya pesantren, kegiatan disini tidak membatasi ruang gerak bagi kaum muslim saja. Banyak komunitas Hindu, komunitas Konghucu, Kristen dan berbagai elemen masyarakat lain yang berkunjung untuk mempererat hubungan disertai diskusi. (Nunung Nasikhah / Urbanasia Malang)

Oleh : Nunung Nasikhah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: