Jalan Tuhan

“Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”: Suluk. Ini bukan berarti apa pun yang senang untuk kita lakukan atau kita memilih mana yang mudah dan ringan. Jalan Tuhanmu itu adalah jalan yang Dia Ta’ala sediakan untuk kita tempuh menuju ridlo Allah. Jalan itu pastinya sangat sulit dan sempit, tetapi kita dimudahkan ke arah itu.

Apabila Allah berkehendak untuk mendidik hamba pilihanNya untuk memahami tentang Dia, maka Dia Ta’ala akan menempatkan hamba itu ke dalam fitnah atau musibah. Secara tiba-tiba, seseorang itu akan masuk ke lubang biawak (baca: persoalan hidup) dengan mudahnya supaya dia merasakan kesulitan dan mengambil pelajaran dari sana. Dengan mudahnya dia akan mendapatkan musibah tersebut, namun di situ dia dimudahkan untuk menghadapinya. Dalam arti yang lain, itulah makna: Allah tidak menimpakan beban melebihi kemampuan hamba-Nya; dan/atau di dalam kesulitan ada kesenangan.

Jalan yang dimudahkan bagi seseorang itu bukanlah berupa kemudahan atau kesenangan atau kelonggaran dalam pelaksanaannya, tetapi di sisi lain juga tidak ditemui jalan lain yang mudah dan dibenarkan oleh syari’ untuk dilakukan. Coba kita melihat jalan Tuhan yang diberikan kepada Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Ayyub, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad.

Apa yang ditempuh oleh mereka bukan perkara yang mudah. Tetapi itulah yang dimudahkan terjadi atas diri mereka. Jika Allah berkehendak untuk menarik hamba-Nya dengan cara paksa, maka hal itu bisa terwujud dengan cara: hamba-Nya tersebut akan dimudahkan untuk bangkrut, lalu ditarik harta bendanya, kemudian ditarik pula istri dan anak-anaknya dengan berbagai keadaan.

Lalu dalam keadaan yang sangat memerlukan itu, ia menghadap kepada Allah, dia kembali kepada Allah. Maka bangkrut itu bukanlah musibah pada hakikatnya, bukan ujian. Bangkrut itu adalah tarikan Allah untuk mendekatkan hamba-Nya itu ke Hadirat-Nya.

Contoh di atas adalah tarikan dalam bentuk material atau kepemilikan. Ada pula orang yang ditarik pada aspek fisik dan mental seperti sakit, kemalangan, cacat, lumpuh dan lain sebagainya. Ada pula orang yang diuji dengan zona nyaman hingga ia terlena, dan berat untuk beranjak dari sana. Sehingga pada suatu masa, Allah tarik dia. Maka dengan mudah dia akan berada dalam keadaan yang lain.

Hal yang patut kita ketahui adalah walaupun jalan tersebut dikatakan sebagai ‘jalan yang dimudahkan’ atau ‘urusan yang dimudahkan’, namun untuk menemukan jalan itu adalah sangat tidak mudah. Adalah sangat perlu bagi hamba untuk memohon pertolongan Sang Pemilik Jalan. Sebab jalan itu adalah jalan-Nya.

Ujian untuk mengalihkan fokus dan tujuan akan menjadi sangat banyak. Adalah wajib bagi kita untuk semakin menguatkan fokus kepada tujuan yang sesungguhnya, yaitu Dia Ta’ala, dan untuk itu kita perlu ‘fine tuning’ setiap saat memohon petunjuk-Nya. Karena sekali lagi: ‘Mengerjakan apa yang dimudahkan’ itu tidak semestinya berupa jalan yang mudah tanpa hambatan dan halangan, bahkan perjalanan itu bisa jadi lebih pedih dan perih. Apabila Allah memilihmu, maka bersedialah. Karena jalan yang hendak kita tempuh itu sangat sulit tetapi dimudahkan. Senantiasa-lah berharap kepada Allah agar mampu berjihad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: