Kasih Sayang Resiprokal: Demi Kebaikan bagi “Yang Muda” & “Yang Tua”

Sakit rasanya. Bagaimana tidak sakit, setiap mengerti satu hal, simultaneously kita rasakan ada hal baru lagi yang belum kita ketahui.  Rasa sakit itu jika disikapi dengan bijak akan menjadi tanda bahwa pembelajaran yang selama ini dilakukan berhasil. Orang yang merasakannya akan jadi terus menerus ingin belajar, itu mungkin yang dimaksud perintah Kanjeng Nabi untuk belajar hingga memperoleh efek curiosity yang berkelanjutan, dari buaian ibu hingga liang lahad, karena memang itu niscaya dirasakan oleh orang yang sungguh-sungguh niat belajar.

Ketika seperti ini, yang dirasakan bukan sekedar semacam memenuhi tuntutan moral di sekelingnya untuk belajar, apa lagi sekedar mencari pahala, tetapi memang ia merasa butuh untuk belajar terus menerus dengan sendirinya. Ia sudah mengerti bahwa itu adalah konsekuensi hidup. Pada akhirnya simple: merasa bodoh bukan lagi sekedar sebagai sikap rendah hati, karena hal itu menjadi cara satu-satunya menyelamatkan diri dari rasa sakitnya sok tahu. Akan tetapi merasa bodoh demi mengamankan diri dari rasa sakitnya sok tahu juga memiliki konsekuensi tersendiri. Itu bisa bisa dijelaskan melalui chart tentang Dunning-Kruger Effect.

Orang yang merasa keminter (jika ia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi lebih baik) pasti akan menemukan fase saat dia menemukan dirinya bahwa ia ternyata sangat bodoh, hingga ia terjerembab di lembah keputus-asaan, valley of despair. Saat ia menyadari perlunya mengubah sok keminter-nya, ia akan menapaki usaha membaca dan tentunya belajar pada fase lereng pencerahan, slope of enlightenment. Dengan konsistensi belajar, orang itu akan terus menerus membangun ketegaran, pendirian dan kepercayaan diri yang ideal yang bahan pembangunnya diperoleh dari sesuatu yang kita sebut sebagai pengalaman.

Ia menapaki perjalanan panjang dari lereng pencerahan menuju dataran tinggi ketahanan, plateau of sustainability. Poin yang sangat perlu dicatat adalah dari enlightenment ke sustainability berjarak sangat jauh. Apalagi jika masih terjerembab dalam kebutaan, ketidaktahuan di valley of despair, tentu lebih jauh lagi jarak yang perlu untuk ditempuh.

Sekarang, saya pribadi masih merasa dalam masa-masa ringkih untuk menjaga konsistensi untuk tidak merasa sok tau. Karena pengalaman saya sama sekali masih belum banyak. Orang seperti saya harus sering-sering mengingat rumus: Kesadaran + Pengalaman = Pribadi yang stabil.

Kasih Sayang kepada yang “Muda”

Apabila kita memahami hal ini, kita akan merasa diri kita sangat perlu menyayangi yang “lebih muda”. Yang lebih muda di sini tidak selalu berarti mereka yang lebih muda umurnya, karena yang dimaksud dengan lebih muda dalam konteks pembicaraan ini adalah orang yang belum mengetahui suatu hal. Orang yang memahami hal ini, pasti bisa mengerti bahwa menyayangi yang muda adalah sebuah konsekuensi logis, bukan perkara kita harus mencintai. Jika semua “orang tua” paham hal ini, akan ada kontrol yang bisa menjadi patokan bagi orang tua untuk mengendalikan cara penyampaian suatu hal dengan cara yang terbaik.

Kata “orang tua” sengaja saya beri tanda petik karena yang dimaksud di sini bukan hanya terbatas pada tua secara umur, tapi juga bisa dipakai pada konteks orang yang tua dalam hal pengetahuan. Secara umum, tidak ada orang di dunia ini yang lebih tua melebihi semua orang yang ada di dunia ini dalam semua bidang pengetahuan. Karena adakalanya si A yang lebih tua di bidang pengetahuan AB ketika dibandingkan dengan si B, menjadi lebih muda di bidang pengetahuan BA ketika dibandingkan dengan si B.

Pada akhirnya semua orang akan sadar bahwa setiap individu punya kelebihan dan juga kekurangan. Kesadaran seperti itu harus terus-menerus dipastikan stabil dengan cara menebar kasih sayang secara resiprokal kepada siapa pun. Kalau kata teman saya: “anda bertanya setidaknya saya harus menimba juga dari anda”. Model interaksi seperti ini hanya bisa dinikmati ketika para pelakunya sudah terbiasa saling menebar kasih dan sayang  Semua ini sangat perlu dilakukan supaya kita tidak menderita sakit yang selama ini menjadi akibat dari sok tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: