Rasul Itu Manusia, Bukan Malaikat

Mungkin saja, sampai saat ini, masih ada orang-orang yang masih meremehkan eksistensi dan kapasitas Nabi Muhammad saw sebagai seorang rasul yang membawa risalah dari Tuhan. Selain alasan kebencian yang terus turun temurun karena bukan dari golongan mereka, alasan lain yang menunjukkan ketololan mereka, juga masih saja diperdebatkan. Seperti kenapa seorang nabi dan rasul harus selalu manusia dan laki-laki.

Rasul Harus Manusia

Mengapa Nabi harus dari kelompok manusia, kok tidak dari kalangan Malaikat saja? Kalau seandainya Nabi dari kelompok malaikat, maka akan menjadi serba rumit.

Pertama

Ketika para Nabi diutus untuk menyampaikan risalah Tuhannya, mereka memiliki dua kewajiban; kewajiban menyampaikan dengan ilmu dan kewajiban beramal serta memberi teladan. Ketika Rasulullah saw memerintahkan ummmatnya untuk shalat, maka ia juga sholat. Ketika waktunya berzakat, ia juga zakat. Ketika saatnya puasa, Rasulullah saw juga berpuasa. Pantas saja, ketika Siti Aisyah mengatakan “Rasulullah saw adalah al-Qur’an yang berjalan di bumi”. Maksudnya, Rasulullah saw secara sempurna telah mempraktekkan semua yang telah disampaikan oleh Tuhannya. Lalu, bagaimana mungkin seorang rasul dari kelompok malaikat. Apakah malaikat bisa menyampaikan risalahnya kepada manusia. Mungkin saja bisa. Tetapi apakah bisa malaikat juga mengamalkannya. Sedangkan kita tahu bahwa sifat malaikat itu tidak sama seperti manusia. Kalau melihat nadzham yang disampaikan di kitab aqidatul awam bahwa malaikat itu tidak punya bapak, tidak juga ibu. Makan dan minum juga tidak. Tidurpun, atau sekedar ngantuk pun juga tidak pernah. Tidak juga laki-laki dan tidak juga perempuan. Mereka memang diciptakan hanya untuk taat kepada Allah swt yang sesuai dengan ayat keenam surat at-Tahrim.

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

“…..mereka (malaikat) tidak akan menentang Allah swt atas apa yang Allah swt perintahkan kepada mereka dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka”

Nah, jika malaikat diutus kemudian ia melarang ummat manusia untuk berbuat kemungkaran maka akan muncul jawaban “Kalau kamu tentu bisa meninggalkannya, tetapi kami tidak karena kami tidak sama sepertimu”.

Kedua

Kita juga perlu mencermati ayat menarik yang lain,

قُلْ لَوْ كانَ فِي الْأَرْضِ مَلائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّماءِ مَلَكاً رَسُولاً

Ayat ke-95 dari surat al-Isra’ tersebut intinya ingin menyampaikan bahwa kalau ada malaikat di bumi Allah swt tentunya juga akan menurunkan malaikat ke bumi yang juga akan bertugas menyampaikan risalah Tuhannya. Oleh karena itu, setiap panutan harus berasal dari satu jenis yang sama. Panutan malaikat, ya harus dari malaikat. Panutan manusia pasti juga harus dari manusia. Jika kita melihat singa yang sangat cerdas di pertunjukan, apakah kita juga ingin menjadi seperti singa. Tentu tidak. Berbeda dengan ketika kita melihat seorang professor yang sangat ngalim apakah kita juga ingin seperti dia. Tentulah ada rasa keinginan untuk hal itu meskipun hanya sedikit.

 Rasul Harus Laki-laki

Keharusan rasul laki-laki karena beberapa hal. Pertama, karena tabi’at rasul diciptakan harus bergumul dan berinteraksi dengan kaumnya. Perempuan sejatinya memang diciptakan sebagai makhluk yang tertutup. Meskipun ada para wanita yang bisa melakukan hal demikian, tetapi masih saja tidak pantas untuk menjadi seorang rasul atau nabi. Kaum laki-laki dianugerahi oleh Allah swt untuk tetap bisa terus beribadah tanpa ada dispensasi. Berbeda dengan perempuan yang punya keringanan karena adanya haid dan nifas sehingga kaum wanita punya kesempatan untuk tidak shalat. Bagaimana mungkin seorang qudwah (panutan) mengalami siklus dispensasi ibadah.

Dengan begitu, sudah sangat jelas dan logis kenapa rasul harus manusia dan laki-laki.

 

Wallahu A’lam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: