Manusia Sudah Musnah

Jauh sebelum tahun Masehi, mungkin 400 SM, sudah ada quotes yang cukup popular, “I’m looking for a Human” (Aku sedang mencari manusia). Diogenes lah yang memunculkan pernyataan itu. Kegelisahannya terhadap kondisi manusia Yunani kuno membuat ia berkesimpulan bahwa manusia sudah tidak lagi ada. Manusia sudah punah dan musnah. Manusia sudah berubah wujud, sudah tidak lagi menjadi manusia asli. Manusia berevolusi menjadi makhluk lain yang meniadakan naluri kemanusiaannya. Itulah yang mungkin tersirat dari ucapan Diogenes yang disebabkan keambisiusan manusia terhadap kemewahan dunia. Ini tentu menjadi sindiran keras bagi kita-manusia modern yang katanya canggih dan cerdas-untuk betul-betul memahami bahwa ambisi kita membuat kita menjadi sirna. Pemikiran ini juga sejalan dengan jalan sufi yang mengajak manusia untuk tidak berambisi tentang duniawi. Sebagaimana Socrates yang juga berstatement bahwa jika manusia ingin mendekati Tuhannya, yang tidak butuh apapun, maka ikutilah jalan Tuhan dengan mengurangi kebutuhan (duniawi). Lagi-lagi filosof Yunani mengajak kita berdialog dengan hati kecil yang suci.

Minimnya ketergantungan dan ambisi kepada dunia juga dapat dilihat dari pernyataan Dioegenes yang lain; “Segala sesuatu milik Dewa. Dewa adalah sahabat orang bijak. Milik para sahabat dipakai bersama. Berarti segala sesuatu milik orang bijak.” “Dewa” adalah simbol ketuhanan, dalam kacamata Islam; Allah swt. Sedangkan “orang bijak” bisa kita sebut para wakil Tuhan, dalam Islam biasa dikenal dengan waliyullah. Dengan begitu sangat cocok sekali dengan konsep kedekatan waliyullah dalam Islam. Para wali Allah sangat terkenal sebagai orang yang meminimalisir kebutuhan duniawi mereka dan menganggap bahwa mereka dan apa yang mereka punya adalah milik Tuhannya. Karena pandangan demikian itu, kedekatan mereka semakin bertambah. Sehingga ketika mereka dekat dengan Tuhan, maka apapun yang mereka minta dari Tuhan akan mudah mereka dapatkan sama halnya dengan pandangan Dioegenes. Diogenes, melalui pernyataannya ini, ingin membuktikan lagi bahwa manusia masih saja belum sadar bahwa ia tidak memiliki apapun. Bisa jadi ini juga peringatan agar manusia tidak lagi meniadakan dirinya lagi.

Lagi, Diogenes juga membuat tercengang publik dengan jawaban dari pertanyaan orang Yunani kala itu. “Apa bedanya hidup dan mati?”, tanya salah seorang di sekitarnya. Diogenes menimpali , “Tidak ada bedanya”. Penasaran muncul dari penanya, “Lalu kenapa kau memilih hidup?”. Dengan enteng menjawab “Kan hidup dan mati sama saja”. Dialog ini seakan mengajak ummat manusia agar tidak ribut dengan pilihan-pilihan hidup yang ujung-ujungnya manusia mempersulit kehidupannya sendiri. Sebagaimana statement Diogenes yang lain, “We have complicated every simple gift of God” (Kita sudah membuat rumit hal yang simple dari Tuhan). Intinya, hidup tidak perlu dibuat rumit karena hidup tidak serumit menghitung tetesan air hujan di musim hujan. Sindiran keras bagi para penggila popularitas dan kemewahan duniawi juga ia lontarkan dengan sangat sinis dan menohok. “In rich man’s house there is no place to spit but his face” (Di rumah orang yang kaya tidak ada tempat yang layak untuk meludah kecuali mukanya). Karena itu, Diogenes tahu dan sesungguhnya ingin berpesan kepada ummat manusia saat itu agar tidak menghinakan dirinya sendiri dengan terlalu cintanya kepada dunia sampai-sampai manusia lebih jauh mencintai barang-barang titipan-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: