Mengapa Berbuat Kebaikan Terasa Lebih Berat Daripada Berbuat Dosa? Berikut Tinjauan Dalam Perspektif Fisika

Oleh: Wandi Anwas

Ada sebuah korelasi antara kesepakatan yang berlaku dalam ilmu fisika dengan nilai-nilai ajaran Islam. Para Fisikawan menyepakati bahwa kurva atau titik pada sumbu X yang berada di sebelah kiri memiliki nilai negatif. Sedangkan kurva atau titik pada sumbu X yang berada pada sisi sebelah kanan memiliki nilai positif. Begitupula dalam menentukan nilai dari gaya yang bekerja. Umumnya gaya yang mengarah ke kiri bernilai negatif, sedangkan gaya yang mengarah ke kanan bernilai positif. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang disampaikan melalui perilaku keseharian Nabi Muhammad SAW. Segala tindakan yang memiliki nilai positif (kebaikan) akan didahului dengan bagian tubuh sebelah kanan. Sebaliknya apabila tindakan yang akan dilakukan itu berkonotasi negatif maka disunnahkan mendahulukan bagian tubuh sebelah kiri. Seperti ketika hendak memasuki masjid, mendahulukan kaki kanan adalah sebuah kesunnahan. Sedangkan ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi justru mendahulukan kaki kiri adalah sebuah kesunnahan. Masjid memiliki konotasi positif karena sebagai tempat Ibadah, sedangkan kamar mandi memiliki konotasi negatif karena tempat seseorang membuka auratnya.

Korelasi lain antara ilmu fisika dengan nilai-nilai ajaran Islam berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan mengapa berbuat kebaikan terasa lebih berat daripada berbuat dosa?”. Menilik sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Neraka itu dipagari dengan Syahwat (Kesenangan), sedangkan surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (Ujian)”. (Shahih Bukhari : 6487)

Yang dimaksud dengan perkara yang tidak disukai dalam hadits tersebut adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah maupun larangan dimana ia dituntut untuk melaksanakannya, tentuya syahwat cenderung enggan untuk melakukannya. Seperti kesungguhan dalam menjalankan ibadah serta menjaga diri dari godaan syahwat manusia, kesungguhan ketaatan dan ketundukan kepada Allah SWT yang bisa berupa infaq, shadaqah, sabar, tasamuh, dan sebagainya. Sedangkan perkara yang disukai maksudnya adalah yang disukai oleh syahwat manusia seperti melakukan kemaksiatan-kemaksiatan; berzina, minum khamr, menggunjing, dan sejenisnya dengan tujuan menikmati dunia.

Meskipun demikian faktanya, karena Allah Yang Maha Tahu paham betul betapa payahnya berbuat kebaikan, seseorang yang masih berniat melakukan kebaikan saja kemudian gagal melakukannya bisa mendapatkan satu pahalaa. Apabila kemudian ia merealisasikan kebaikan itu, pahala minimal yang dicatat adalah sepuluh pahala. Berbeda halnya dengan orang yang berniat melakukan keburukan tetapi gagal melakukannya, ia akan diganjar satu pahala. Apabila kemudian ia mewujudkan niat keburukan itu, maka Allah SWT hanya mencatatkan satu catatan dosa saja. Keterangan tersebut diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang berbunyi :

Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berkeingian melakukan kebaikan kemudian ia tidak melaksanakannya, maka Allah telah mencatatkannya satu pahala kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Apabila seseorang berkeingian melakukan kebaikan kemudian ia melaksanakannya, maka Allah mencatatkannya 10 pahala kebaikan hingga tujuh ratus lipat sampai dengan kelipatan yang tak terhingga di sisi-Nya. Sedangkan apabila seseorang berencana untuk melakukan keburukan kemudian menggagalkannya, maka Allah telah mencatatkannya satu pahala kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Dan apabila seseorang berencana untuk melakukan suatu keburukan kemudian melaksanakannya, maka Allah mencatatkannya sebagai satu kesalahan atau dosa”.

Pertanyaan mengapa berbuat kebaikan terasa lebih berat daripada berbuat dosa?” secara tersirat dapat dijelaskan dalam fisika dalam bahasan momentum sudut. Momentum sudut merupakan besaran vektor, yakni besaran yang memiliki nilai dan arah. Besar nilainya setara dengan perkalian cross product antara vektor (r) dengan momentum linearnya. Sedangkan arah momentum sudut dari suatu benda yang berotasi dapat ditentukan dengan menggunakan kaidah tangan kanan. Dimana keempat jari merepresentasikan arah gerak rotasi, dan ibu jari merepresentasikan arah momentum sudutnya. Untuk lebih mudah memahaminya, penerapan ini berlaku pada sekrup. Ketika sekrup diputar searah jarum jam maka sekrup akan bergerak ke depan atau masuk. Gerak masuknya sekrup ini merupakan arah daripada momentum sudutnya (Ibu jari dalam kaidah tangan kanan). Kemudian putaran searah jarum jam merupakan arah gerak rotasinya (empat jari dalam kaidah tangan kanan).

Ketika momentum sudut ini bekerja pada roda sepeda yang bergerak, maka akan menimbulkan dua keadaan. Ketika sepeda bergerak ke depan (arah putaran roda seperti pada gambar 10.3 sebelah bawah), maka arah momentum sudutnya ke kiri. Sedangkan ketika sepeda bergerak mundur (arah putaran roda seperti pada gambar 10.3 sebelah atas), maka arah momentum sudutnya ke kanan.

Momentum sudut sendiri merupakan perkalian cross product antara vektor r dengan momentum linearnya. Sedangkan momentum linear merupakan perkalian antara gaya dengan perpindahan. Sehingga momentum sudut menimbulkan gaya berupa tarikan ataupun dorongan. Ketika sepeda bergerak maju maka akan timbul gaya yang arah ke kiri sebagaimana arah momentum sudut. Ketika sepeda bergerak mundur maka akan timbul gaya yang arahnya ke kanan sebagaimana arah momentum sudutnya pula.

Akibat gaya yang bekerja pada putaran roda tersebut, kita akan merasa lebih sulit ketika hendak berbelok kanan dibandingkan ketika hendak berbelok ke kiri. Karena ketika hendak berbelok ke kanan, kita membutuhkan gaya yang lebih besar yakni sebesar gaya untuk memiringkan sepeda ditambah dengan gaya yang digunakan untuk melawan gaya yang searah dengan arah momentum sudut. Sementara ketika hendak berbelok ke kiri, kita membutuhkan gaya yang lebih kecil yakni sebesar gaya untuk memiringkan sepeda dikurangi dengan gaya yang timbul dari momentum sudutnya. Adapun perbandingan secara matematisnya :

Ketika ke kanan, F(total)= F (memiringkan sepeda)+ (momentum sudut)

Ketika ke kiri, F(total)= F (memiringkan sepeda)- (momentum sudut)

Mengingat kembali pada korelasi yang pertama, yakni kanan berkonotasi pada hal-hal kebaikan sedangkan kiri berkonotasi pada hal-hal keburukan, maka dari pebandingan matematis di atas kita dapat memahami bahwa dalam menjawab pertanyaan “mengapa ketika hendak berbelok ke kanan terasa lebih susah dibandingkan ketika hendak berbelok ke kiri?” juga dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan “mengapa berbuat kebaikan terasa lebih berat daripada berbuat dosa?”. Apabila dalam kasus fisika terdapat gaya yang timbul akibat momentum sudut, lantas apakah variabel yang mewakili gaya tersebut dalam perspektif agama? Mungkin saja itu adalah syahwat manusia atau setan manusia yang terus menggoda.

Wallahu A’lam

 

Sources:

-Shahih Bukhari

Physics for Scientist and Engineers with Modern Physics Ninth Edition

One thought on “Mengapa Berbuat Kebaikan Terasa Lebih Berat Daripada Berbuat Dosa? Berikut Tinjauan Dalam Perspektif Fisika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: