Hari Tasyriq Boleh Berpuasa?

Oleh: Wandi Anwas

Hukum hurum berpuasa tidak hanya berlaku pada dua hari raya saja, tetapi juga berlaku pada tiga hari yang jatuh setelah hari raya idul adha, yakni tanggal 11,12, dan 13 bulan Dzul Hijjah, yang dikenal dengan hari tasyriq. Pengharaman ini berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang berbunyi: “Rosulullah SAW melarang untuk berpuasa pada dua hari, hari raya idul Fitri dan hari raya idul Adha”. Selain itu, di dalam kitab Shahih Muslim Rasulullah SAW juga bersabda “Sesungguhnya hari-hari tasyriq itu merupakan hari-hari untuk makan, minum, dan dzikir kepada Allah SWT.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud juga bercerita bahwaa “sesungguh Rasulullah SAW melarang puasa pada hari-hari tasyri.” Hadits ini tergolong hadits shahih menurut Abu Dawud. Hadits ini juga dijadikan dasar oleh imam Syafi’i dalam qaul jadidnya yang berpendapat bahwa puasa pada hari-hari tasyriq hukumnya adalah haram. Larangan ini bersifat mutlak, sehingga termasuk di dalamnya puasa wajib (nadzar) maupun sunnah (apabila hari raya jatuh pada hari senin atau kamis) hukumnya tetap haram untuk dikerjakan. Bagi orang yang memaksakan untuk mengerjakannya maka akan tergolong orang yang berdosa karena nafsu beribadah (puasa) pada waktu tersebut tergolong dalam tindakan maksiat.

Jika sudah jelas larangan berpuasanya, apakah ada kebolehan yang membolehkan pada hari-hari dilarang berpuasa. Melihat pendapat ulama’, semua ulama’ sepakat bahwa dua hari raya haram berpuasa, namun perselisihan pendapat terjadi ketika membahas puasa pada hari tasyriq.

Imam Syafi’I dalam qaul qodimnya membolehkan puasa pada hari-hari tasyriq bagi orang yang berhaji tamattu’ dengan catatan orang yang berhaji tamattu’ -melaksanakan umroh terlebih dahulu kemudian melaksanakan haji- tersebut tidak mampu membayar had atau denda. Had atau denda yang berlaku bagi orang yang melaksanakan haji tamattu’ berupa menyembelih seekor kambing atau domba. Kemudian, apabila ia tidak mampu maka dapat diganti dengan puasa selama 10 hari (3 hari selama pelaksanaan ibadah haji, dan 7 hari setelah kembali ke negara asal). Ketentuan itu didasarkan pada firman Allah SWT yang berbunyi :

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ

“Barangsiapa yang tidak menemukannya (had dengan sesemabahn kambing atau domba) maka berpuasa selama tiga hari pada hari-hari pelaksanaan ibadah haji dan tujuh hari ketika kalian telah kembali (ke kampong halaman)” (Al-Baqarah: 196)

Pembolehan puasa pada hari tasyriq juga ditemukan pada hadits di dalam kitab Shahih Bukhari yang diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah dan Ibnu Umar r.a bahwasanya Rosulullah SAW bersabda, “tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq kecuali bagi orang-orang yang wajib membayar had atau denda”. Sekali lagi, puasa ini boleh dilakukan oleh orang yang berhaji tamattu’ dan tidak mampu membayar had atau denda berupa menyembelih seekor kambing. Imam Nawawi dan Ibnu Sholah juga sependapat dengan imam Syafi’i terkait dibolehkannya puasa pada hari tasyriq berdasarkan pada hadits tersebut. Adapun menurut qaul qodimnya imam Syafi’i hukum puasa pada hari tasyriq haram bagi orang yang tidak sedang berhaji tamattu’.

Wallahu A’lam

 

Sumber: Kifayatul Akhyar

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: