Menolak Egoisme (Orasi Budaya Halal bi Halal)

Bismillahirrahmanirrahim. Sebelum saya meneruskan tulisan ini, izinkan saya untuk meminta maaf secara lahir dan batin kepada semua pihak yang pernah saya salahi, saya dzolimi, dan lain sebagainya. Saya tahu tidak semua orang yang pernah saya salahi berkesempatan untuk membaca tulisan ini. Dan saya mengimani pengetahuan saya tentang itu.

Saya membedakan tahu dan iman dalam konteks pembicaraan ini karena ‘tahu’ dan ‘iman’ mempunyai makna yang berbeda. Iman berarti anda meyakini, mempercayai sesuatu dan mengekspresikan kepercayaan anda melalui anggota tubuh dzohir anda, kendati anda tidak tahu sesuatu itu apa. Sedangkan tahu berarti anda mengetahui sesuatu itu tapi tidak selalu menjadikan diri anda untuk selalu mengekspresikan pengetahuan anda, (singkatnya) melalui jawarih anda. Karena ekspresi melalui jawarih itu hampir selalu bertautan dengan konsekuensi dari suatu perkara. Artinya, sebelum itu dilakukan, ada ketidaktahuan tentang konsekuensi itu.

Oleh karena itu, kita membutuhkan keimanan untuk merespon secara pas hal-hal yang termasuk ke dalam term konsekuensi. Tidak jarang kita temui orang yang mengetahui onani itu tidak baik untuk kesehatan, tapi orang itu tetap melakukannya, karena konsekuensi yang didapat dari praktik onani masih belum ia rasakan karena memang belum ada dan belum terasa. Artinya, meskipun orang itu tahu bahaya onani terhadap kesehatan, ia tetap melakukannya karena ia tidak beriman terhadap konsekuensi berupa bahaya kesehatan yang dipicu oleh praktik onani.

Begitu juga dengan dosa sosial seperti membicarakan parts of the other yang tak disukai oleh orang lain itu (the other), adu domba, dan lain sebagainya. Kita tahu itu tidak baik, dan akan diberi konsekuensi dosa serta hukuman apabila perkara-perkara buruk itu dilakukan. Akan tetapi, kita masih (sering) melakukannya, karena kita sekedar tahu, tetapi kita tidak mengimani kensekuensi yang mengklaim bahwa itu buruk, berdosa, dan pelakunya akan dihukum.

Bahaya Rasa Sok

Keimanan hanya akan timbul dalam diri orang yang mau mengakui dengan kerendahan hati, orang yang mau mengalah, menerima, dan berhati lapang terhadap yang memberi kabar tentang perkara yang ia imani. Keimanan tak akan muncul dari orang yang sok tahu, merasa benar sendiri, egois, yang sama sekali tidak percaya kepada siapa pun, selain kepada dirinya sendiri.

Orang seperti itu tidak akan mempunyai dorongan untuk menerima kabar tentang sesuatu yang seharusnya ia imani dengan anggukan kepala, apalagi dengan lanjutan mengekspresikannya dengan jawarih.

Kondisi dunia akan menjadi kacau balau tak berkemajuan apabila dipenuhi oleh kaum egois, yang sibuk dengan dirinya sendiri menghiraukan kepentingan orang lain, dan membanggakan diri menghinakan orang lain. Orang yang egois akan sibuk “berlari” kesana kemari untuk menguntungkan dirinya sendiri. Hal itu sudah digambarkan dalam Al-Quran;

يوم يفر المرء من أخيه و صاحبته و بنيه لكل امرء منهم يومئذ شأن يغنيه

Penyebab Egois

Berikut ini bukan tafsir dari ayat di atas. Anggap saja ini bagian terpisah dari tulisan di atas. Kalau perlu, bisa anda anggap tulisan dari paragraf ini dan seterusnya tak ada hubungannya dengan tulisan pada paragraf di atas. Paragraf ini hanya ingin menanyakan dengan mandiri –karena memang ini monolog–tentang apa penyebab egoisme ? Apakah penyebabnya dari dalam diri pelakunya ataukah dari luar diri pelakunya ?

Orang yang berlari dari saudaranya, dari pasangan hidupnya, (bahkan) dari anaknya (di hari kiamat, seperti yang telah digambarkan oleh ayat di atas) dikarenakan ia merasa takut akan dituntut oleh orang-orang tertentu, ketakutan itu disebabkan oleh kedzaliman yang ia timpakan kepada mereka atau pun juga disebabkan oleh adanya sisa hutang budi kepada mereka yang tak mampu ia balas.

Artinya pelariannya disebabkan oleh internal feeling yang ia rasakan. Tapi apakah hanya itu saja ? Tidak, pelarian itu juga didorong oleh situasi (seperti: hari kiamat) yang mana pada saat itu dipenuhi oleh kegelisahan stadium akhir yang disebabkan oleh adanya janji pembalasan bagi setiap amal perbuatan sekecil apapun. Amal baik akan dibahas dengan pahala, sedangkan amal buruk akan dibahas dengan siksa.

Ada rasa takut yang disebabkan karena kebaikan yang telah ia kerjakan (mungkin) akan diminta oleh orang-orang yang pernah ia dzolimi, dan ada juga keinginan untuk meminta kebaikan orang-orang yang telah mendzoliminya untuk menambah pundi-pundi kebaikan yang ia miliki agar tatkala diagregatkan menjadi lebih banyak daripada keburukannya.

Ada dua dorongan yang bisa menjadikan seseorang berperilaku egois, tak peduli selain kepada dirinya. Pertama, dorongan dari dalam dirinya. Kedua, dari situasi yang menyelimutinya. Seseorang yang diliputi oleh rasa bersalah ketika berguyub dengan orang lain, atau terdapat rasa takut karena sesuatu yang ia miliki dikhawatirkan akan diambil oleh orang lain, akan cenderung menghindar dari orang lain, dan menjadi egois.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah situasi yang sedemikian rupa bisa membentuk kesadaran yang mendorong seseorang untuk berperilaku egois ? Tidak, karena ada منهم yang bisa memperkuat asumsi bahwa ada sebagian dari mereka yang tidak ikut-ikutan berperilaku egois, walaupun ia juga diliputi situasi sedemikian rupa.
Artinya sesuatu yang dirasakan oleh orang yang bertingkah egois tidak dirasakan oleh mereka yang tidak bertingkah egois. Mereka sudah memperkaya diri dengan kebaikan dan menahan diri dari melaksanakan keburukan. Pada akhirnya, berlebaran-lah mereka, di saat mereka yang menderita stadium akhir kegelisahan sedang merana berlarian.
Berlarian disertai dengan perasaan gelisah sungguh terasa tersiksa. Jika anda tidak percaya, tanyakanlah kepada orang yang pernah bermimpi dikejar oleh sesuatu yang ia anggap makruh baginya. Jika ingin terhindar dari siksaan itu, mari saling berwelas asih kepada makhlukNya. Jangan menjadi dzolim kepada siapa pun, dan mari kita berdoa kepadaNya agar kita dimampukan untuk membayar hutang budi kepada siapa pun yang telah menghutangi sesuatu kepada diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: