Waspadai Harapan Palsu di Akherat dengan Tiga Hal

Oleh: Wandi Anwas

 

Agar tidak termasuk menjadi orang yang merugi di akhirat nanti, maka tidak hanya penting untuk terus menambah amal namun juga harus mewaspadai hal-hal yang dapat merusak tabungan amal. Di dalam kitab al-Isti’dad li yaumi al-Ma’ad karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sahabat Ali r.a. menceritakan bahwa barangsiapa di dalam dirinya tidak terdapat sunnatullah, sunnah Rasulullah, dan sunnah auliyaillah maka kelak di akhirat dia tidak akan mendapatkan sesuatupun. Lalu apa sesunggguhnya sunnatullah itu? Terkait hal ini, Ali r.a berkomentar bahwa yang termasuk sunnatullah itu menyembunyikan kebaikan. Selain sunnatullah, juga istilah sunnah Rasulullah dan sunnah auliyaillah. Dalam hal ini Ali r.a melanjutkan komentarnya bahwa yang dimaksud dengan sunnah rasul adalah saling mengasihi antar manusia sedangkan sunnah auliyaillahyou adalah menanggung penderitaan orang lain.

Mengapa sunnatullah (menyembunyikan kebaikan) harus dimiliki?

Salah satu unsur diterimanya amal baik (kebaikan) seorang hamba adalah dilakukan dengan ikhlas tanpa mengaharapkan apapun selain ridho Allah SWT. Bukti keikhlasan sendiri dapat terimplementasikan dalam definisi takwa yaitu, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam keadaan sendirian maupun bersama orang lain. Keikhlasan tidak akan mendorong seorang hamba untuk mempublikasikan kebaikan-kebaikan yang ia lakukan sebagaimana makna sunnatullah. Akan tetapi sebaliknya, kebaikan yang diumbar-umbar acapkali menghadirkan riya’ dan sum’ah dalam diri seorang hamba. Imam al-Ghozali dalam kitab tazkiyah al-Qalb ‘an al-Akhlaq al-Madzmumah yang diterjemahkan oleh K.H. Achmad Masduqi Mahfudz juga menguatkan bahwa perbuatan yang baik adalah jika dilakukan tanpa unsur riya dan hanya mengharap keridlaan Allah semata.

Imam Ghozali dalam kitabnya melanjutkan bahwa dalam sebuah hadits Rosulullah saw bersabda  Dikatakan kepada orang yang berperang, orang alim, dan orang yang bersedekah ketika ia berkata : “Aku telah berbuat demikian dan demikian.” Maka dikatakan : “Engkau ingin dikatakan sebagai si Fulan, atau si Pemberani, atau si Dermawan, atau si Orang Alim.” Maka ia diseret ke neraka”. Na’udzubillahi min dzalik. Sesuai dengan sabda Rosulullah saw yang lainnya bahwa : “Allah tidak menerima sesuatu amal yang didalamnya terdapat riya meski sebesar atom.” Oleh karena itu, makna sunnatullah harus dimiliki agar segala jerih payah yang akan kita laksanakan diterima dan diganjar oleh Allah SWT.

Mengapa  harus sunnah Rasulullah (mengasihi antar sesama manusia)?

Manusia memiliki dua arah interaksi yang utama yaitu, interaksi dengan Allah dan interaksi dengan manusia. Dua interaksi manusia tersebut harus dijaga keharmonisannya agar bisa mendapatkan apa yang disebut dengan kebahagiaan hakiki. Apabila pada poin pertama, yakni sunnatullah, telah dimiliki seorang hamba maka amalnya akan sampai di akherat kelak atau sudah diterima oleh Allah. Akan tetapi amal yang dia kerjakan baru akan ia rasakan apabila interaksi dengan manusia mampu dijaga keharmonisannya dengan menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama.

Rasulullah saw bersabda yang pada intinya bahwa besok di hari kiamat akan ada segolongan orang yang banyak beramal namun ia tidak dapat menikmati pahala jeri payahnya karena sering ghibah, mencaci, mencela, berdusta, fitnah, dan lain sebagainya. Di dalam riwayat lain juga Rasulullah saw bersabda bahwa ketika di hari kiamat nanti pahala orang yang ghibah, mencela, mencaci, berdusta, dan memfitnah akan diberikan kepada orang-orang yang ia cela, caci, dustai, dan fitnah. Apabila pahala dari yang mencela sudah tidak tersisa, maka dosa orang yang dicela akan diberikan kepada orang yang mencela. Oleh karena itu, benar apabila sunnatullah sudah ia jalankan namun sunnah rasul belum mampu ia laksanakan maka ia tidak akan mendapatkan apapun di akherat atas kebaikannya di dunia melainkan harapan palsu.

Mengapa harus sunnah auliyaillah (menanggung penderitaan dari orang lain)?

Allah swt membenarkan adanya balasan atas tindakan orang lain selama dalam koridor takaran yang sama. Misalkan Zaid memukul Fulan, maka si Fulan dibenarkan oleh Allah swt apabila memukul balik Zaid dengan takaran yang sama. Standar takaran yang baku dalam memukul ataupun tindakan lain yang tidak dibenarkan tidak dapat ditentukan, ataupun diatur sedemikian rupa. Misalnya, ketika Zaid memukul dengan gaya sebesar 10 N dan luas permukaan tangan yang digunakan untuk memukul adalah 314 cm2 maka ketika Fulan hendak membalas haruslah dengan besarnya gaya yang sama dan luas permukaan tangan untuk memukul yang sama. Sedangkan tangan seseorang ketika mengempal memiliki luas permukaan yang berbeda-beda, dan untuk menyamakan luas permukannya bukanlah perkara yang mudah apalagi menyamakan besarnya gaya yang diberikan. Faktanya, kecenderungan manusia dalam membalas adalah dengan takaran yang lebih besar. Misalkan Zaid memukul Fulan hingga memar biru, maka Fulan tidak akan puas sebelum membalasnya hingga Zaid berdarah. Kecenderungan ini yang akan mengakibatkan selisih balasan pukulan antara Fulan dan Zaid dengan pengalihan pahala Fulan kepada Zaid sebagaimana dalam pembahasan Sunnah Rosulullah saw. Mungkin akan lebih baik jika Fulan tidak membalas tetapi memberika siraman energi melalui doa atau cukup dengan merasa senang saat dipukul karena mungkin pukulan yang dilakukan Zaid adalah buah pelampiasan emosi atas ketertindasannya.

Contoh lain terkait kasus ini adalah kisah Kyai Karsimatik yang jadi pelanggan pedagang buah di pasar. Fakta yang terjadi di lapangan, mungkin sampai saat ini, seorang pedagang buah sering mengelabuhi pembeli atas pengemasan buah dalam bungkusan dengan memasang buah yang segar di bagian luar dan buah yang busuk di bagian dalam. Tidak sedikit pembeli yang merasa dirugikan atas perlakukan pedagang jenis ini. Hal yang dilakukan berikutnya tentu para pembeli yang merasa dirugikan akan berhenti untuk melakukan transaksi lagi dengan mereka. Tetapi berbeda dengan Kyai Karismatik –sebut saja Kyai Ma’un- ini yang malah membelinya meskipun tahu akan terjadi hal yang serupa dan tanpa perlu menegurnya. Ketika ia ditanya terkait tindakannya, ia hanya menjawab dengan gambaran redaksi seperti ini, “kalau bukan saya yang beli siapa lagi? Orang-orang yang sudah beli saja sudah kapok dan tidak mau lagi beli. Bahkan, yang protes karena dirugikan juga sering mencacinya. Cukup saya saja yang merasakan kekecewaan para pembeli agar tidak banyak yang merasa disakiti”.

Oleh karena itu, hendaknya manusia yang menginginkan hasil jeri payah kebaikannya selama di dunia memiliki tiga poin utama yang diceritakan oleh sahabat Ali r.a agar amalnya diterima oleh Allah swt dan pahalanya tidak berkurang hingga habis karena dialihkan kepada orang lain atas cercaannya ataupun balasan lebih yang diberikan kepada orang yang bertindak tidak baik kepadanya sehingga ia hanya beramal dengan harapan palsu. Nah, sekarang saatnya anda memilih. Mau dapat PHP atau mau mem-PHP?

Wallahu A’lam

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: