Distingsi antara ‘Illat dan Hikmah

Pembahasan Qiyas dalam Ushul Fiqh, mungkin bagi bagi kebanyakan orang, masih menyisakan kebingungan tersendiri, bahkan bagi para akademisi. Distingsi antara ‘illat dan hikmah, misalnya, masih selalu menuntut para pembaca ataupun praktisi hukum Islam untuk benar-benar memahami dengan baik. Jika tidak, maka ketidakjelasan pemahaman, penyelewengan aplikasi, atau distorsi pemaknaan akan sering muncul dalam kajian qiyas.

Sebelum menginjak ke pembahasan, rasanya cukup penting untuk memaparkan hal primer dalam kajian qiyas yang kita kenal dengan istilah rukun. Pada awal mulanya, ketika para ushuli menghadapi berbagai fenomena yang tidak mereka temukan sumber hukumnya dalam al-Qur’an, mereka memutuskan untuk menentukan metode baru dalam pengambilan hukum yang kita kenal dengan istilah qiyas. Dalam qiyas  terdapat beberapa rukun. Rukun pertama adalah ashl (asal); sesuatu yang hukumnya terdapat di dalam nash atau ijma’. Rukun berikutnya adalah far’u  (cabang); perincian hukumnya tidak ditemukan di dalam nash atau ijma’. Berikutnya adalah ‘illat; sifat yang menjadi dasar dalam penetapan hukum pada far’un. Yang terakhir adalah hukum al-ashl (hukum asal); hukum sesuatu yang telah ditetapkan dalam nash. Bebarengan dengan munculnya rukun, muncul pula istilah hikmah sebagai pembanding ‘illat. Kemudian ditentukanlah perbedaan antara ‘illat  dan hikmah. Jika ‘illat  merupakan sesuatu hal yang jelas dan terukur maka hikmah terkadang terukur dan tidak jelas atau jelas dan tidak terukur. Perlu ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan jelas di sini adalah sesuatu yang konkret; dapat dilihat oleh mata.

Meskipun pemaparan dalam literatur fiqh atau ushul fiqh pembedaan tersebut sudah jelas, namun dalam tataran aplikasi masih seringkali muncul kerancuan dan miskonsepsi terhadap kasus hukum tertentu. Contoh menarik untuk hal ini adalah pengaharaman khamr. Dalam perkembangannya, keharaman khamr pun mulai dipermasalahkan. Pertanyaanpun muncul mulai dari kadar keharaman, kauntitas konsumsi, hingga efek yang ditimbulkan. Contoh pertanyaan yang mungkin sering muncul saat ini adalah: “Kalau seandainya minumnya sedikit tidak memabukkan berarti tidak haram dong? Kalau seandainya mencicipi, hanya sekedar ingin tahu rasanya, dan tidak memabukkan juga tidak apa apa dong? Atau, jika saya minumnya dan saya tidak mabuk berarti tidak apa-apa juga kan?” Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya kita juga perlu melihat asal pengharaman yang terdapat dalam nash; al-Qur’an.

Apa yang disampaikan Syekh Ali as-Shabuni dalam Rawai’ul Bayan kiranya sangat menarik dengan memaparkan tahapan pengharaman khamr. Syekh Syekh Ali as-Shabuni memaparkan bahwa terkait pengharaman khamr ini Allah swt menurunkan empat ayat yang turun secara bertahap. Ayat pertama adalah surat an-Nahl ayat 97 yang diturunkan di Makkah:

وَمِن ثَمَرَاتِ النخيل والأعناب تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَراً وَرِزْقاً حَسَنًا

Pada tahap ini, ummat Islam saat masih meminumnya karena bagi mereka masih belum ada indikasi keharamannya. Kemudian, dengan berjalannya waktu, turunlah ayat 219 surat al-Baqarah di Madinah.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الخمر والميسر قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ ومنافع لِلنَّاسِ

Dengan turunnya ayat ini, sebagian yang beranggapan bahwa khamr itu menyebabkan dosa besar memilih untuk berhenti meminumnya. Sedangkan yang beranggapan bahwa khamr itu masih memberikan banyak kemanfaatan masih saja meminumnya. Pada tahap ini mulai ada tahapan pelarangan meminum khamr. Kemudian, ayat berikutnya yang turun adalah sruat an-Nisa’ ayat 43.

يَا أَيُّهَا الذين آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصلاوة وَأَنْتُمْ سكارى حتى تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُون

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kisah Abdrurahman bin ‘Auf yang saat itu sedang melakukan jamuan makan besar dan mengundang para sahabat dengan menyuguhkan berbagai jenis makanan termasuk minuman khmar, minuman spesial penduduk saat itu. Karena saat itu belum ada pengharaman khamr, maka minuman terhangat waktu itu pun tidak ketinggalan untuk dihidangkan dan dinikmati. Usai jamuan makan, mereka melaksanakan shalat maghrib berjama’ah dan salah satu di antara mereka menjadi imam. Celakanya, saat membaca surat al-Kafirun mereka membuang huruf لا  pada ayat kedua. Sehingga menjadi

قل يا أيها الكافرون. أعبد ما تعبدون

Sejak saat itu, minum khamr dilarang saat waktu shalat. Tahap ini, pengharaman mulai meningkat dari bentuk himbauan untuk meninggalkan karena mengandung dosa, menjadi larangan yang jelas saat akan melaksanakan sholat saja. Maka mereka mulai mensiasati untuk tidak meminum saat menjelang sholat tetapi setelah sholat. Kemudian, ayat terakhir yang turun adalah ayat 90-91 surat al-Maidah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Ayat ini diturunakan berkenaan dengan cerita ‘Utban bin Malik melakukan jamuan makan dengan mengundang kaum muslim laki-laki. Di acara itu, Sa’ad bin Abi Waqasy sedang membakar kepala unta yang nantinya akan dihidangkan untuk para tamu yang datang. Sambil menunggu kepala untuk yang sedang dibakar, para tamu pun akhirnya meminum khamr terlebih dahulu. Tidak disangka, saat itu mereka mulai membual tidak jelas dan bernyanyi-nyanyi hingga pada akhirnya bualan itu mengejek kelompok Anshar yang menyebabkan salah satu orang Anshar marah dan dan memukulkan kepala unta yang sedang dibakar itu kepada Sa’ad. Merasa kecewa dengan perlakuan itu, orang Anshar itu mengadu dan menangis kepada Rasulullah  saw yang kemudian menyebabkan ayat terakhir ini turun. Sejak saat itu kaum muslim mulai diharamkan secara mutlak meminum khamr . Hal ini diperkuat dengan perkataan umar, “kami berhenti Ya Allah, kami berhenti”. Inilah puncak pengharaman khamr.

Berdasarkan tahapan di atas, sangat jelas bahwa apa yang menjadi titik utama khamr dilarang sejak awal mula ayat yang berkenaan dengan khamr diturunkan bukan karena ia dapat menyebabkan hilangnya akal. Tetapi suatu hal yang memabukkan yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya akal yang dapat merusak perihal ibadah dan  kemasalahatan ummat manusia. Intinya, khamr melemahkan kemampuan daya pikir manusia dalam mengemban tugas untuk menjadi khalifah dan memakmurkan bumi.

Prof. Dr. Ali Jum’ah -pakar hukum Islam di Universitas al-Azahar, Mesir- mendasarkan haramnya khamr ini pada sabda Rasulullah saw, “Apa yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram”. Lebih lanjut Prof. Dr. Ali Jum’ah menegaskan bahwa inti kaharaman khmar pada unsur “mabuk”. Dalam pemikirannya, mabuk adalah sifat yang melekat pada sesuatu, bukan sifat pengonsumsi. Maka keharaman ini berlaku secara mutlak, baik sebagian orang dapat mabuk ketika meminumnya dalam jumlah atau kadar sedikit atau tidak. Dari sinilah ushuli kemudian membuat rumusah kaidah; “Keberadaan dan ketiadaan hukum beredar dengan illatnya, bukan dengan hikmahnya”. Masih dalam pendapat Prof. Dr. Ali Jum’ah, sehingga dapat dikatakan bahwa memang terkadang ‘illatnya tidak ada tetapi hukum syara’ tetap berlaku, karena ‘illatnya ada.

 

Wallahu A’lam

 

One thought on “Distingsi antara ‘Illat dan Hikmah

  • July 20, 2018 at 3:48 pm
    Permalink

    Sekarang saya sudah lebih mengerti tentang apa itu ‘Illat dan Hikmah

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: