Ulama’ Su’: Membakar Diri Untuk Orang Lain

Kisah menarik ini diperoleh saat ta’lim madrasah diniyah dengan ustadz Achwannuri yang saat itu mengkaji kitab al-Hikam karangan al-Habib Abdullah bin ‘Alawy al-Haddad. Kisah ini diawali dengan cuplikan nasehat yang terdapat di dalam kitab tersebut.

و إن شئت عملت الطاعة، فانظر إن شئت في بجايلها التي كانت بحول الله وقوته وحسن توفيقه، وبذلك ينتفي الإعجاب، ويبقى شهود المنة لله تعالى

“Jika engkau telah beramal dalam keta’atan, maka lihatlah jika engkau melakukannya karena merasa sebab usaha, kekuatan, dan indahnya pertolongan-Nya, maka rasa ‘ujub itu tidak akan ada, yang ada hanya tampaknya anugerah bagi Allah swt”.

Berkaitan dengan tema ‘ujub (bangga), beliau teringat kisah salah satu

santrinya yang baru saja mengalami hal aneh saat sedang melakukan dizikir shalawat dalai’l al-khairat di masjid dengan jama’ahnya yang kurang lebih berjumlah lima orang. Baru saja memulai membaca, ia dan jama’ahnya melihat hal aneh di shaf depan masjid. Mereka semua melihat secara jelas dan dengan keadaan sadar suatu cahaya berwarna kuning terpancar dari tempat tersebut. Tiba-tiba, dengan izin Allah swt, dari tempat tersebut diperlihatkan bagaiamana keadaan gurunya yang sudah meninggal, seorang kyai besar yang kabarnya memiliki jama’ah sholawat ribuan, bersama dengan seorang habib, yang kebetulan juga dekat dengan kyai dan masih hidup sampai saat ini, disiksa. Sontak, semua terkejut dan betul-betul terpukul. Bagaimana mungkin mereka bisa melihat ini. Bagaimana pula seorang kyai besar bisa disiksa seperti itu, pun demikian dengan keturunan Rasulullah saw.

Selesai membaca shalawat dalai’l al-khairat, mereka semua saling menatap dengan rasa penasaran dan berjuta pertanyaan pun yang sulit dijawab seketika muncul. Salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya kepada santri ustadz kami yang juga pimpinan jama’ah tersebut. “Itu guru kami. Kenapa bisa disiksa. Bisakah kami menolongnya?”, salah satu dari mereka bertanya dengan penuh isak tangis yang mendalam. “Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, nanti akan aku tanyakan kepada ustadzku”, pimpinan jama’ah itu menjawab dengan perasaan yang penuh kebingungan.

Setelah diselidiki, ternyata semasa hidupnya rasa kejumawaan dan bangga diri selalu mengiringi mereka saat berdakwah. Kejumawaan muncul karena mereka memiliki jama’ah yang banyak. Hasilnya, rasa ingin dihormati, dimulyakan, dan diperhatikan orang lain selalu muncul saat mereka berdakwah. Di akhir kisah ini, Ustadz Achwan menambahkan penjelasannya dengan memunculkan istilah ulama’ su’. Beliau beranggapan bahwa mungkin ini adalah sebagaimana yang disebut dalam hadits nabi sebagai ulama’ su’, ulama’ yang tidak sadar membakar diri sendiri tetapi malah menerangi orang lain sebagaimana lilin. Karena bermula dari kebanggan diri, kesomobongan akan muncul. Sebagaimana perkataan Imam Ghazali dalam Arba’in Ushul ad-Din:

والعجب هو سبب الكبر

“Ujub adalah penyebab kesombongan”

Maka, sebagaimana disampaikan oleh al-Habib Abdullah bin ‘Alawy al-Haddad, untuk menghilangkan itu, ingatlah bahwa semua yang engkau lakukan dalam hal ibadah itu karena pertolongan Allh swt. Berbeda dengan kemaksiatan yang kita diwajibkan untuk memohon ampun kepada-Nya karena kita harus mengakuinya, meskipun itu adalah takdir.

 

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: