Cluster Ciri Muttaqin

Syaikh Ibnu Athoillah Assakandari dalam Al-Hikam mewanti-wanti kita tentang bahaya dari persahabatan dengan orang yang berilmu secara dzohir tapi ia ridlo dengan nafsu buruknya. Pasalnya, munculnya kemaksiatan, kemungkaran, perbuatan keji semuanya bersumber karena adanya kerelaan si pelaku perbuatan tersebut atas nafsu buruknya. Maka menjadi hina orang yang berilmu secara dzohir namun ia merelakan dirinya dikuasai oleh nafsunya.

Hal ini menjadi peringatan kepada orang yang mengakui dirinya sebagai orang alim untuk tidak menjadi jemawa hingga ia merasa lebih mulia dari orang yang tidak mempunyai ilmu. Karena seseorang yang berilmu—dalam pengertian ilmu dzohir—namun rela dirinya dikuasai oleh nafsunya tidak lebih baik dari orang yang jahil atas ilmu tersebut namun ia selalu tidak rela dirinya dikuasai oleh nafsunya sebab ia meyakini terdapat kekurangan dalam nafsunya.

Hal ini sesuai dengan urutan cluster golongan orang bertakwa di awal surat Al-Baqoroh yang menyatakan bahwa ciri pertama dari orang yang bertakwa yang pertama disebut dalam surat tersebut adalah orang yang meyakini eksistensi perkara yang gaib. Keyakinan kepada yang gaib tidak sekedar percaya kepada eksistensi Allah, surga, neraka, dan hal-hal lain yang menyangkut perkara-perkara gaib. Akan tetapi, hal ini juga menuntut akan manifestasi amal perbuatan.

Setelah ciri ini, Allah baru menyebutkan ciri selanjutnya yakni mendirikan sholat, menginfakkan sebagian hartanya, baru kemudian percaya kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum turunnya kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Khusus ciri yang terakhir disebutkan ini, identik dengan sosok orang alim yang ahli dalam ilmu. Akan tetapi, sekali lagi ditekankan, bahwa mereka ini tidak disebutkan sebagai golongan pertama dalam penyebutan ciri orang yang bertakwa dalam surat Al-Baqoroh. Mereka berada setelah orang yang meyakini perkara yang gaib, mendirikan sholat, dan orang yang menginfakkan sebagian harta.

Berapa banyak—meskipun semoga tidak banyak—orang yang paham ilmu hanya secara dzohir tentang kitab Allah tapi tidak produktif dalam meyakini perkara yang gaib, dalam sholat, juga dalam menginfakkan hartanya.

Tulisan ini ingin memberi penekanan bahwa tidak selalu orang yang dianggap mempunyai ilmu—khususnya ilmu yang bersifat dzohir—memiliki kemuliaan yang lebih dan lebih pantas dijadikan sahabat daripada orang yang tidak mempunyai ilmu, akan tetapi berani meyakini janji-janji Tuhan dengan teguh.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Atho’illah Assakandari, bahwa pengetahuan dzohir yang dimiliki oleh orang yang berilmu tidak ada gunanya ketika kejahilannya terhadap perkara yang batin mendorongnya untuk merelakan dirinya dikuasai nafsunya hingga ia jatuh ke dalam kemaksiatan.

Belum tentu, orang yang alim lebih baik jika dibandingkan dengan tukang becak, tukang bangunan, petani, pedagang, atau lainnya. Karena bisa jadi ilmunya hanya bersifat dzohir, dan tidak mendorongnya untuk meyakini dengan mantap perkara gaib yang telah dijanjikan oleh Tuhan, hingga misalnya, ia masih saja dilingkupi keraguan tentang apakah esok ia bisa makan atau tidak.

Sedangkan tukang becak, tukang bangunan, petani, pedagang, atau pihak lain yang tidak mempunyai akses untuk berinteraksi intens dengan ilmu sehingga mereka tidak sepandai ahli ilmu tersebut, mereka—tukang becak, tukang bangunan, petani, pedagang, dll. tersebut—selalu teguh meyakini bahwa janji Tuhan adalah benar, walaupun janji itu masih gaib dari pancaindra mereka.

Mereka—tukang becak, tukang bangunan, petani, pedagang, dll. tersebut, ketika memiliki keyakinan seperti itu—lebih pantas untuk disrawungi, dijadikan sahabat. Pasalnya, ketika mereka mengetahui aib nafsu, hingga membuat mereka tidak rela jika nafsu menguasai dirinya, maka pada hakikatnya kejahilan tidak ada pada diri mereka. Oleh karena itu, bersahabat dengan mereka lebih baik dari bersahabat dengan orang alim dalam pengertian ilmu dzohir, yang masih rela dirinya dikuasai oleh nafsunya.

Itulah mengapa dalam surat Al-Baqoroh orang yang meyakini perkara gaib, mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian hartanya lebih dulu disebut—dalam urutan ciri orang yang bertakwa—daripada orang yang mengimani, atau baca: memahami kitab-kitab Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: