KH. Agus Salim: The Grand Old Man

Ketika masih muda, dia pernah bertanya kepada seorang ulama: apakah Adam dan Hawa memiliki Pusar? Ulama itu menjawab : Ada, karena mereka juga manusia. Agus salim berkata lagi : “kalau punya pusar sebagaimana kita, itu berarti mereka dilahirkan oleh seorang ibu.” Ulama itu tiada dapat menimpali.

Di kesempatan lain di Volksraad ia berpidato dengan bahasa Melayu. Kemudian ia ditegur oleh ketua parlemen dan diminta untuk berbicara dengan bahasa Belanda. Namun salim menolak, meskipun dia lancar bahasa Belanda. Dalam pidatonya ia menyebut kata “Ekonomi”. Lawannya Bergmeyer mengejeknya “ apa kata ekonomi dalam bahasa melayu. Dia menjawab “ coba tuan sebutkan dulu ekonomi dalam bahasa Belanda.” Berg pun terdiam karena memang ekonomi taka ada dalam bahasa Belanda.

Salah seorang bapak bangsa sekaligus ulama yang terkenal sebagai seorang diplomat yang cerdik dan dan juga pendebat yang ulung. Moh.Hatta menyebutnya sebagai tokoh yang jarang ada tandinganya dalam bersilat lidah. Kecerdasannya sangat kentara ketika ia sedang beradu argumentasi.

Ia adalah Agus Salim yang lahir dengan nama Mashudul Haq (pembela kebenaran). Lahir di Koto Gadang, Sumatera barat pada 8 Oktober 1884 dari pasangan Soetan Salim dan Siti Zainab. Beliau juga merupakan keponakan dari ulama terkenal Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawiseorang guru terhormat di Universital Harramain Masajidal dan seorang imam Mazhab Syafii’i di Masjidil Haram. Agus Salim mengawali Pendidikan dasarnya di Europeesche Lagere School (ELS), dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia.

Belajar di Tanah Arab

KH. Agus Salim juga pernah merasakan dirinya kehilangan iman ketika ia terus menggeluti keilmuan barat. Namun beliau kembali menemukan jalan terang ketika berada di Jeddah, Saudi Arabia. Beliau bekerja di konsulat Belanda di Jeddah, hal itu makin membuatnya leluasa karena bisa bergaul dengan Ulama’ dan para tokoh di Arab serta bisa sering mengunjungi pamannya yaitu Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Syeikh Ahmad Khatib terkenal sebagai ulama yang sangat terbuka terhadap pembaharuan, bahkan pemikiran beliau diteruskan oleh para pembaharu di Minangkabau seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Abdul Karim Amrulah, dan Haji Abdullah Ahmad. Hal ini sangat memikat Agus Salam yang memang belum pernah menggeluti pendidikan Islam secara Formal, beliau bahkan mengungkapkan “ meskipun saya lahir di keluarga Muslim tapi saya bersekolah di sekolah belanda sejak kanak-kanak dan saya merasa mulai kehilangan iman ketika sekolah di Belanda”. Salim pun mengatakan bahwa Snouck Hourgonje biang keladi dari pola pendidikan barat yang sekuler itu. Meski termasuk moderat namun Agus salim sangat menentang dengan pola pemikiran sekuler negara barat.

KH Agus Salim belajar agama melalui akal, karena beliau tak bisa menerima sesuatu yang irasional. Hal ini membuat paman sekaligus gurunya syek Ahmad Khatib menyadari tipikal beliau ini. Tidak hanya Salim yang belajar kepada Syekh Ahmad Khattib, tetapi dua tokoh ulama terkenal kita juga belajar kepada syakh Ahmad mereka adalah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Namun kendati satu guru ketiga ulama inipun berbeda pemikiran. Ketika pulang beliau sempat bergabung ke Muhammadiyah bersama Muhammad Dahlan namun ia memilih untuk konsen ke Sarikat Islam yang lebih berkecimpung dalam ke politikan.

Bahkan ketika sedang berada di Mekah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) pernah belajar kepada Agus Salim. Agus Salim menasehati HAMKA agar tidak tinggal lama di Mekah, sebab lama di Mekah akan membuat seorang ulama tidak faham dengan kondisi masyarakat tanah kelahirannya, maka Agus Salim menyuruh Hamka untuk pulang dan mendirikan sekolah. Akhirnya Hamka pulang dan mendirikan sekolah Islam Modern pertama di Indonesia yang diberi nama SUMATRA THAWALIB.

Masalah Jenggot

Dalam suatu pertemuan Sarekat Islam (SI), Muso tokoh PKI mengejek KH Agus Salim dan Haji Oemar Said (HOES) Tjokroaminoto dari atas podium. Ia bertanya pada peserta :

“orang berjenggot seperti apa, saudara?”

Hadirin menjawab : “ Kambing “.

Muso bertanya lagi : “orang berkumis seperti apa saudara?”

Hadirin menjawab : “Kucing ”.

Kemudian tiba giliran KH Agus Salim naik mimbar. Ia berkata,  “tadi itu kurang lengkap saudara. Yang tidak berkumis dan berjenggot seperti apa?”

KH. Agus Salim menjawab sendiri: “ Anjing ”. Muso memang tidak berjenggot dan tidak berkumis.

Makan Dengan Cara Sunah (tanpa sendok)

Suatu ketika dalam acara jamuan makan semua orang memakai sendok dan garpu. Hanya salim yang makan pakai tangan kosong. Semua menanyakan perbuatan beliau itu. Dan Salim menjawab dengan menggunakan logika :

“ Karena saya tahu bahwa tangan saya bersih, sedangkan saya tidak tahu apakah sendok dan garpu itu bersih atau tidak “

Ulama yang moderat sekaligus bapa bangsa yang cerdik dan jenaka serta sederhana, banyak gambaran yag tak bisa diungkapkan untuk beliau sebagai seorang tokoh serta pernah menjabat sebagai menteri luar negeri namun kehidupan beliau amatlah sederhana, bahkan ia dan keluarganya tak memiliki rumah tetap melainkan hanya kontrak dan harus berpindah pindah sepanjang hidupnya. Hidup sangat sederhana tapi gembira, sulit mencari nafkah karena sangat kritis dengan pemerintah.
_______________________

Disarikan oleh F. Afdhau dari seri buku TEMPO bapak bangsa. “Agus salim Diplomat Jenaka Penopang Publik”

3 thoughts on “KH. Agus Salim: The Grand Old Man

  • August 11, 2018 at 10:16 pm
    Permalink

    Mantap sekali bapa KH Agus Salim memang panutan bagi kita anak bangsa ☺️
    Tidak menyangka tanggal lahirnya sama dgn saya semoga saya pun bisa seperti beliau 🙏

    Reply
    • August 16, 2018 at 3:33 pm
      Permalink

      Semoga bisa meniru keluhuran pribadi beliau…

      Reply
  • August 15, 2018 at 1:09 pm
    Permalink

    terim kasih sudah di sharee
    ini memang beliau adalah inspirasi bagi kaum muda sekarang
    klo boleh tau, tanggal berapa bliau lahir?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: