Keajegan Islam dalam Perkembangan Zaman

Oleh: Wandi Anwas

Intisari ajaran Islam yang menjadi pesan nabi sejak Adam a.s sampai Muhammad SAW adalah Tauhid. Islam menjadi agama terakhir karena Islam dengan bentuk khasnya dibawa oleh nabi terakhir yang merupakan penutup nabi-nabi, yaitu Muhammad SAW. Sebagaimana statement Allouce, jika dilihat dari aspek pesan universalnya, Islam adalah agama tertua, dan dilihat dari manifestasi historisnya, Islam adalah agama terakhir. Agama samawi yang beragam seperti Nasrani dengan rasul Isa a.s, Yahudi dengan rasul Musa a.s, dan rasul-rasul lainnya hingga Islam dengan rasul Muhammad saw pada hakikatnya memiliki esensi yang sama selama tidak adanya intervensi, campur tangan dan penafsiran manusia. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya, dan kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub, dan anak cucu(nya),Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah menganugerahkan Daud Kitab Zabur” (QS. An-Nisa’ :163).

Hal itu diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim :

“Para nabi itu saudara seayah, tetapi berlainan ibu. Prinsip keimanan (tauhid)-nya itu satu, (namun syariatnya berbeda-beda)” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Allah menurunkan wahyu al-Qur’an dengan lantaran malaikat Jibril dan menutupnya dengan ayat ketiga di surat al-Maidah -meskipun ulama’ berbeda pendapat tentang turunnya ayat yang terakhir diturunkan- sebagai penegasan atas kesempurnaan nilai-nilai ajaran agama Islam. Semenjak saat itu, wahyu tidak lagi turun dan hukum-hukum Allah tidak lagi berkembang. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah SWT; dan ketahuilah bahwa yang halal telah jelas, yang haram pun telah jelas pula. Memang antara keduanya ada yang samar-samar, karena itu sebaiknya dihindari.
Seiring dengan perkembangan zaman yang melahirkan persoalan-persoalan baru, muncullah istilah baru yang kita kenal dengan perkembangan Islam. Istilah Islam yang berkembang ini sebenarnya bertentangan dengan ayat ketiga dari surat al-Maidah –ayat terakhir yang diturunkan sebagai penegasan atas kesempurnaan nilai-nilai ajaran agama Islam. Selain itu, ketika Islam dikatakan mengalami perkembangan, maka secara tidak langsung menandakan bahwa ajaran Islam belum final sehingga konsekuensinya menutut adanya rasul baru yang mengharuskan membawa ajaran yang paling sempurna dari Allah SWT serta tidak adanya nilai atau ajaran yang tetap didalam agama. Padahal, sejak turunnya ayat terakhir, wahyu tidak lagi turun dan hukum-hukum Allah tidak lagi berkembang. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah SWT; dan ketahuilah bahwa yang halal telah jelas, yang haram pun telah jelas pula. Memang antara keduanya ada yang samar-samar, karena itu sebaiknya dihindari.

Mengupas tentang perkembangan, dilihat dari segi bahasa “berkembang” atau dalam bahasa Arab “tathawwur” adalah perubahan dari suatu kondisi ke kondisi lain. Sebagai contoh gambaran konkret dari konsekuensi teori “berkembangnya Islam” adalah ungkapan bahwa: “Dahulu Tuhan berbilang, sekarang berubah menjadi Tuhan Yang Esa dan suatu saat-astagfirullah sambil bertaubat kepada-Nya- Tuhan akan menjadi dua.” Adapun gambaran berkembangnya nilai-nilai akhlak adalah seperti jika seseorang berkata, “Hari ini kebenaran adalah suatu keutamaan dan perbuatan terpuji, tetapi kelak ia akan berubah menjadi sesuatu yang buruk.” Sedangkan dalam bidang syariah, itu berarti bisa saja orang mengatakan “minuman keras dahulu terlarang dan merupakan simbol kebiadaban, tetapi karena kehidupan sekarang maju, syariah pun berkembang, ia sekarang merupakan suatu keharusan dan menjadi simbol kejantanan”, sebagaimana statement guru Quraish Shihab saat beliau belajar di Mesir.

Para pakar hukum pun menegaskan bahwa semua kasus yang terjadi maka pasti ada ketetapan hukumnya dalam al-Qur’an dan Sunnah baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalau ditemukan ketetapan hukum secara langsung maka itulah hukumnya, dan kalau tidak, maka hukumnya dicari melalui ijtihad dan penganalogian kasus tersebut dengan hukum dasar yang ada. Jika pendapat itu terbukti bertolak belakang dengan kaidah-kaidah pokok yang langgeng dan tidak berubah dari ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah, maka setiap Muslim berhak mencampakkan pendapat mereka. Salah satu contoh ijtihad yang perlu dikaji lebih adalah pendapat Fazlur Rahman –sarjana teknik muslim- tentang teori batas maksimal dan batas minimumnya terkait masalah warisan. Sangat memungkinkan pendapat yang disampaikan oleh Fazlur Rahman dapat mendukung mereka yang berpendapat “Islam berkembang”. Akibatnya akan muncul pemikiran, sebagaimana penjelasan Qurasih Shihab, bahwa hukum waris yang menetapkan bagian anak perempuan setengah dari bagian anak lelaki adalah ketetapan pada masa perempuan belum memperoleh semua haknya, dan karena kini tidak lagi demikian, serta Islam telah berkembang, maka bagian anak perempuan harus sama dengan bagian anak lelaki.

Quraish Shihab sekali lagi menegaskan, Islam tidaklah berkembang, melainkan pemahaman terhadap rincian ajaran Islam yang berkembang. Konsekuensi dari perkembangan dalam pemahaman agama adalah perkembangan dalam hukum-hukum agama yang bersangkutan. Islam memang benar syariat dan hukumnya mengalami perkembangan, namun itu telah berakhir melalui penegasan Allah dalam ayat ketiga surat al-Maidah.

Di sisi lain, ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an maupun hadits umunya bersifat global, lentur dan disertai semangat rahmatan li al-alamin karena sebagai ajaran sempurna yang harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang muncul dan terus berkembang melalui ijtihad-ijtihad yang dilakukan oleh ulama. Disamping itu, bukanlah suatu yang mungkin ketika kita memaksakan suatu komunitas masyarakat untuk meniru dan mengikuti secara rinci terhadap pola yang berlaku dalam komunitas masyarakat sebelumnya, termasuk dalam masa nabi Muhammad SAW. Namun tetap harus diakui bahwa hal-hal yang bersifat material paling banyak berubah, seperti perubahan bentuk dan bahan mimbar sejak zaman nabi Muhammad SAW hingga pengeras suara yang menghiasi masjid-masjid saat ini. Sedangkan dalam pembahasan perubahan dalam bidang immaterial perlu disadari terlebih dahulu bahwa manusia memiliki potensi negatif dan positif.

Lebih lanjut, Quraish Shihab memberikan penjelasan menarik tentang salah satu sumber ajaran Islam. Penjelasan al-Qur’an tentang potensi positif dan negatif yang ada pada diri manusia, menurutnya, tidak berarti menunjukkan adanya pertentangan satu dengan lainnya, akan tetapi untuk menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindari. Disamping itu, hal tersebut juga untuk menunjukkan pula bahwa manusia memiliki potensi untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau berada di tempat yang rendah, sehingga ia tercela.

Khasairi dan Muchsin Zain menyebutkan potensi positif dan negatif manusia yang diterangkan di dalam al-Qur’an. Salah dua potensi positif yang disebutkan yaitu; manusia adalah makhluk Allah terpintar, seperti yang tercantum pada surat al-Baqarah ayat 31-33 dan surat al-Naml ayat 38-40. Manusia juga makhluk Allah yang terpercaya untuk memegang amanat, sebagaimana tercantum dalam surat al-Ahzab ayat 72. Sedangkan potensi negatif yang disebutkan yaitu, manusia adalah makhluk yang lemah, tercantum pada ayat ke- 28 pada surat al-Nisa’, manusia adalah makhluk zalim dan ingkar seperti dalam surat al-Ma’arij ayat 19, dan manusia adalah makhluk yang suka melewati batas, sebagaimana dalam surat al-Alaq ayat 6 dan 7.

Dua potensi yang dimiliki manusia menghasilkan dua kesimpulan. Apabila yang berlaku potensi negatif maka Islam tidak merestuinya, sedangkan apabila yang berlaku adalah potensi positif maka Islam menyambutnya. Tidak bijak apabila menganggap bahwa perubahan yang bersumber dari Timur pasti baik dan dari barat pasti buruk. Oleh karena itu perlu adanya tolok ukur yang pasti untuk menilainya yaitu, agama. Agama Islam yang ajarannya memuat akidah, syariah, dan akhlak telah menetapkan tolok ukur yang tidak berubah. Yang tidak berubah itu bersumber dari Allah dan Rasul, dan karena itu kita katakan: “Islam tidak berubah, tetapi pemahaman terhadap ajaran Islam atau dengan kata lain ijtihad dapat berubah”. Ketika misalnya kemashlahatan dijadikan sebagai tolok ukur maka perlu diingat kembali bahwa manusia memiliki dua potensi sehingga perlu dipertanyakan apakah kemashlahatan yang didengungkan benar-benar kemashlahatan atau hanya kemashlahatan semu.

Sumber :
Logika Agama, M. Quraish Shihab.2017.
Pendidikan Islam Transformatif, Tim Dosen PAI UM 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: