Kontinum Antar Masa: Demi Menjadi Lebih Baik

  • Oleh: Mahrus Afandi

Prof. Nurcholis Madjid dalam kata pengantar Ensiklopedinya telah mengingatkan kita tentang betapa pentingnya memahami dengan benar masa lalu, masa sekarang, juga masa yang akan datang. Pasalnya, ketiganya merupakan kontinum ruang dan waktu yang tidak terputuskan. Pemahaman atas tiga masa itu menentukan baik-buruknya keadaan kita di masa sekarang dan juga masa depan. Betapa pun masalahnya masa lalu, ia akan mewarnai masa sekarang dan masa depan.
Hikmah dari adanya masa lalu adalah adanya kesempatan bagi kita untuk mengambil pelajaran baik tentang perkara yang baik maupun buruk. Dari perkara yang baik dari masa lalu, kita mendapatkan referensi untuk membangun sesuatu yang lebih baik, sementara dari perkara yang buruk kita memperoleh referensi yang akan menjadi peringatan bagi untuk tidak jatuh ke dalam lubang yang sama.

Ibarat garis, masa lalu merupakan garis ungkul yang tidak mungkin untuk diubah. Sedangkan masa depan merupakan garis putus-putus yang disiapkan untuk diisi oleh para pelaku sejarah. Ketidakmampuan untuk—atau kesalahan dalam—menerka isian masa depan merupakan akibat dari situasi di masa sekarang, yang mana pilihan yang dipilih di masa sekarang merupakan hasil dari pemahaman dan persepsi masyarakat yang kurang tepat tentang masa lalu, tentang mana yang benar dan salah, mana yang baik dan tidak baik bagi diri mereka.

Persoalan persepsi atau pemahaman yang dianut oleh masyarakat itu tidaklah selalu tepat. Pasalnya, ia tidak lepas dari ancaman dikte kepentingan pribadi dan golongan yang hanya ingin merealisasikan kepentingannya sendiri dengan mengabaikan kepentingan golongan di luar mereka, sehingga kemaslahatan bersama menjadi terhalang wujudnya. Oleh karena itu, pemahaman dan persepsi masa lalu tidak boleh tereduksi oleh kepentingan sebagian golongan, demi mewujudkan pemahaman dan persepsi masyarakat yang benar tentang nilai-nilai yang seharusnya mereka hargai pada hari ini, sehingga kemaslahatan bersama itu bisa diwujudkan secara nyata.

Perkara yang termasuk ke dalam usaha untuk menyelamatkan masyarakat dari bias interpretasi tentang masa lalu adalah mempelajari leluhurnya. Tentu hal itu dimulai dari yang terdekat dari diri kita, seperti orang tua kandung, hingga ke atas. Oleh karena itu salah satu perkara yang diperhatikan dalam Islam, khususnya pada masa awal kenabian Muhammad saw adalah pengurutan nasab yang diusahakan melalui aturan institusi pernikahan. Dengan mengetahui apa yang dialami pada masa lalu oleh generasi terdahulu dengan benar dan bijak—jika dalam jawa, baca: bener lan pener, kita akan mempunyai peluang lebih untuk melampaui capaian yang dialami oleh generasi terdahulu.

Nasab dan DNA Generasi Terdahulu
Salah satu—jika boleh disebut sebagai—langkah awal untuk memahami dan mengambil pelajaran dari generasi terdahulu dengan bener dan pener adalah dengan memberi perhatian kepada nasab. Hal itu harus kita sadari dengan merunut perjalanan syariat Islam al-muhammadiyyah yang memperhatikan secara serius keberadaan institusi pernikahan demi mencegah adanya pencampuran nasab. Dengan kata lain, agama Islam menganggap hal itu sebagai sesuatu yang urgen, mengingat hal itu merupakan salah satu aspek paling awal yang dibenahi oleh Islam. Melalui perhatian yang serius kepada institusi pernikahan, pembangunan kesadaran dan pemahaman tentang generasi terdahulu menjadi lebih mudah. Pengetahuan tentang generasi terdahulu tersebut membantu kita untuk menepatkan pijakan di mana kita seharusnya berdiri.

Agar mudah untuk dimengerti, tulisan ini mengaitkan dirinya dengan pembagian istilah-istilah kesadaran manusia—yang hampir mirip dengan pembagian yang diajukan oleh Sigmund Freud, berupa conscious, sub-conscious, dan juga unconscious.

Secara sederhana, conscious manusia berhubungan dengan pola pikir yang diperoleh melalui pembelajaran dari tingkah laku dan pengajaran atau pendidikan. Seperti halnya kita tahu bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. Begitu juga ketika ketika orang tua kita menampilkan ekspresi takut terhadap monyet, kita sebagai anak akan memiliki kesadaran bahwa monyet adalah makhluk yang menakutkan.

Selanjutnya, sub-conscious, maksudnya adalah bawah sadar, yang berkaitan dengan pembiasaan kepada diri kita yang dilakukan sejak kita masih kecil. Kita mungkin tidak pernah memperhatikan part of our body yang mana yang kita beri sabun pertama kali saat kita sedang mandi. Percaya atau tidak, bagian mana pun yang kita beri sabun, entah itu dada terlebih dahulu, tangan, atau pun punggung, pernahkah kita berpikir mengapa kita memulainya dari situ. Kebiasaan untuk memberi sabun kepada salah satu bagian tubuh kita saat kita mulai mandi merupakan hasil dari pembiasaan yang dilakukan oleh orang yang biasa memandikan tubuh kecil kita dahulu kala. Ini bukti bahwa pembiasaan itu bisa ditemukan, meskipun kita merasa tidak pernah memperhatikannya.

Ketiga, unconscious yang berkaitan dengan DNA. Kemungkinan besar kita tidak ingat secara persis bentuk hidung canggah kita, akan tetapi DNA kita ingat bentuk hidung canggah kita. Informasi itu tersimpan dalam DNA kita meskipun hidung yang kita miliki sekarang—mungkin—tidak sama persis dengan hidung yang dimiliki oleh canggah kita. Jika DNA modalnya berasal dari perjalanan nenek moyang di masa lalu, perkara yang manifes secara fisik berhubungan dengan nenek moyang, pasti perkara-perkara yang manifes secara behaviour dalam kehidupan kita hari ini juga mempunyai hubungan dengan nenek moyang kita. Jadi maksud dari unconscious alias yang tidak disadari di sini adalah informasi dari nenek moyang kita di masa lalu yang disimpan oleh DNA kita. Kalau nenek moyang kita dulu berprofesi menjadi butcher atau tukang jagal, tangannya pasti punya karakter kuat. Hal itu diingat oleh DNA kita yang bisa kita jadikan modal untuk melampaui apa yang telah dicapai oleh nenek moyang kita yang berprofesi sebagai butcher.

Dari sini kita menemukan afirmasi atas pernyataan yang sering berkembang dalam masyarakat Jawa, yaitu, “Tirakatmu pada hari ini, tidak hanya untuk dirimu sendiri, akan tetapi juga untuk anak turunmu.” Karena tirakat yang dilakukan oleh seseorang akan membentuk konfigurasi yang akan diingat oleh DNA dan menjadi modal berharga bagi anak turunnya. Artinya anak turunnya akan lebih mudah untuk melakukan hal yang dulu dilakukan oleh nenek moyangnya. Apabila ia merasa lebih mudah dalam melakukannya, ia memiliki potensi besar untuk melampaui capaian nenek moyangnya. Jika hal ini berlaku dalam beberapa generasi, tentu akan semakin tinggi capaian anak turun manusia dalam bidang yang dulu digeluti oleh nenek moyang mereka.

Meskipun DNA mungkin saja bisa berubah atau bahkan diubah, pasti anak cucu selalu dipengaruhi oleh DNA nenek moyangnya. Sehingga tidak mengherankan jika kita temukan anak seorang kyai yang malah menjadi dokter, karena sangat mungkin karakter yang biasa disandang oleh sang kyai, seperti kepedulian terhadap umat misalkan, juga melekat dan mempengaruhi si anak untuk meniti kesuksesan dalam dunia kedokteran. Maknanya, bentuknya bisa berkembang dengan mengesankan perbedaan antara orang tua dan anak jika dilihat secara sekilas, padahal ada kesamaan antara keduanya.

Semua penjelasan di atas mendorong kita supaya sudi menyediakan waktu lebih serius untuk memperhatikan masa lalu dan nenek moyang kita, demi mempermudah kita untuk mengambil pelajaran sehingga kita mampu melampaui capaian prestasi generasi terdahulu.

Kemungkinan Besar untuk Melampaui Generasi Terdahulu
Dengan memperhatikan figur-figur di masa lalu yang berhubungan dengan diri kita secara cermat, kita akan terhindar dari bias pembacaan masa lalu. Kita juga akan memiliki modal berharga untuk membangun masa kini, selain itu kita akan mampu memosisikan diri kita secara efektif dan efisien untuk menghadapi masa depan.

Nabi kita, Muhammad saw. pun juga membaca—atau lebih tepatnya dibacakan untuk beliau—kisah-kisah nabi-nabi dan juga figur-figur lain dari umat terdahulu sebagai bekal yang sangat berharga bagi beliau untuk memantapkan setiap tindakan beliau agar bernilai presisi yang tinggi. Kisah tentang nabi Nuh as, nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Ya’qub as dan juga nabi Yusuf as adalah sebagian contoh kisah generasi terdahulu yang dipersembahkan untuk nabi kita Muhammad saw. dan bisa pula kita jadikan pelajaran sebagai bekal untuk membangun peradaban yang bermartabat di masa kini dan masa mendatang.

Dari sini, kita dapatkan clue yang menunjukkan bahwa pembacaan terhadap masa lalu tidak hanya sebatas nenek moyang kandung kita. Dengan kata lain, selagi kita temukan figur dari generasi lalu yang patut untuk diamati atau dipelajari riwayat hidupnya, kita bisa mengambil pelajaran pula darinya, meskipun kita tidak memiliki hubungan biologis secara langsung dengan figur tersebut.

Lalu bagaimana dengan ketiadaan hubungan DNA yang tidak bisa kita temukan pada figur tersebut ? Mengingat kita tidak punya hubungan biologis secara langsung dengan figur tersebut, bukankah itu sama halnya menyulitkan diri kita jika kita mempelajarinya, dan memaksa diri kita untuk mengikutinya ? Saya pikir, jawaban dari pertanyaan ini sudah disediakan oleh pernyataan yang biasa berkembang di masyarakat Jawa yang sudah saya sebutkan di atas: “Tirakatmu pada hari ini, tidak hanya untuk dirimu sendiri, akan tetapi juga untuk anak turunmu.”

Maka tidak ada ruginya kita tirakat, meskipun kita saat ini merasa sulit dalam meniru figur yang kita anggap baik, yang mana kita tidak mempunyai hubungan biologis secara langsung dengannya, alias kita tidak mempunyai akses untuk memiliki DNA yang sama dengannya, tetap tidak ada salahnya kita mempelajari, bahkan menirunya. Karena usaha kitalah, anak cucu kita nanti, akan merasakan kemudahan untuk melanjutkannya, dan tidak menutup kemungkinan anak cucu kita nanti akan mampu melampaui figur yang sekarang kita anggap unggul dan patut untuk ditiru, yang kita merasa sulit untuk menirunya pada hari ini. Kemudahan yang kemungkinan besar akan dirasakan oleh anak cucu kita tidak lain merupakan buah usaha kita pada masa hidup kita.

Oleh karena itu, nahdliyyin dan nahdliyyat mentradisikan acara maulid nabi Muhammad saw. dan juga haul para leluhur mereka. Acara semacam itu ditujukan sebagai usaha mereka untuk melacak, meneliti, dan mengambil pelajaran dari generasi terdahulu untuk dijadikan modal berharga untuk membangun era yang kecemerlangannya sama dengan generasi terdahulu atau bahkan melebihi generasi terdahulu.

Apakah Mungkin Kita Menjadi Lebih Baik ?
Dalam paragraf di atas, saya menuliskan kecemerlangannya sama dengan generasi terdahulu atau bahkan melebihi generasi terdahulu, yang secara jujur, tulisan itu menimbulkan satu pertanyaan kepada saya saat menuliskannya. Pertanyaannya adalah: apakah kita mampu menjadi lebih baik dari generasi terdahulu, menjadi lebih unggul dari figur di masa lalu yang selama ini kita pelajari riwayat hidupnya untuk kita tiru? Dan apakah mungkin kita bisa menjadi lebih unggul dari nabi Muhammad saw. ?

Sebenarnya, tidak mustahil bagi kita untuk menjadi lebih baik daripada generasi terdahulu. Nasaruddin Amin, Dirjen Pendis Kemenag RI, pernah menuturkan bahwa sebenarnya kita mempunyai potensi yang besar untuk melampaui Muhaddits sekaliber Imam Bukhori dan imam-imam yang lain. Alasan yang mendorong beliau untuk memberi pernyataan semacam itu antara lain karena dahulu para Imam hadits sangat bersusah payah dalam mengumpulkan, mengecek, kemudian men-takhrij satu hadits. Sedangkan kita pada hari ini—dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat—bisa merasakan kemudahan yang sangat luar biasa untuk mengakses berjilid-jilid kitab hadits.

Persoalannyasekarang adalah apakah kita bersedia menyediakan waktu dan tenaga kita untuk membaca kitab-kitab tersebut ? Hal yang perlu kita ingat adalah pembacaan kita terhadap kitab-kitab itu juga merupakan bentuk usaha kita untuk mempelajari apa yang telah dilakukan oleh generasi terdahulu yang bisa dijadikan sebagai modal berharga untuk membangun era yang lebih cemerlang dalam bidang yang selama ini ditekuni oleh generasi terdahulu tersebut.

Contoh lain yang mungkin bisa menambah rasa optimis kita untuk menjadi lebih baik dari generasi terdahulu adalah komentar Imam Al-Haromain tentang Imam Baihaqi yang bisa ditemukan di dalam pengantar kitab Dalail An-Nubuwwah sebagai berikut:

قال إمام الحرمين: ما من شافعي إلا و للشافعي فضل عليه غير البيهقي, فإن له المنة و الفضل على الشافعي لكثرة تصانيفه في نصرة مذهبه و بسط موجزه, و تأييد أرائه

Padahal oleh Syaikh Syarofuddin Yahya bin Nuruddin Musa Al-‘Amritiy di Nihayah At-Tadrib fi Nadzmi Ghoyah At-Taqrib, Imam Syafi’i dikomentari sebagai berikut:

و بعد ذا فالعلم خير رافع # لا سيما فقه الإمام الشافعي
فهو ابن عم المصطفى و لم نجد # له نظيرا من قريش مجتهد
مطبقا بعلمه الطباقا # مطابقا للوارد اتفاقا
مجددا في عصره للملة # و بعده أصحابه الأجلة

Terlepas dari sanjungan dari Syaikh Nuruddin Musa Al-‘Amritiy untuk Imam Syafi’i, komentar Imam Al-Haromain tentang Imam Baihaqi dan Imam Syafi’i tersebut memberikan isyarat kepada kita bahwa ada kemungkinan bagi generasi masa depan untuk bisa melampaui capaian generasi terdahulu.

Akan tetapi, yang harus kita ingat adalah potensi yang dimiliki oleh generasi masa depan untuk melampaui generasi terdahulu akan terwujud nyata apabila generasi yang lebih belakang datangnya mampu membaca riwayat generasi yang mendahului mereka dengan tepat. Terlebih lagi, bacaan tersebut harus selamat dari reduksi atau distorsi yang disebabkan oleh adanya kepentingan pribadi dan golongan yang hanya ingin merealisasikan kepentingannya sendiri dengan mengabaikan kepentingan golongan di luar mereka. Hal itu perlu untuk dilakukan demi mewujudkan pemahaman dan persepsi yang benar tentang nilai-nilai yang seharusnya mereka hargai pada hari ini, sehingga era yang lebih cemerlang itu bisa diwujudkan secara nyata.

Pernyataan di atas juga sekaligus menjawab pertanyaan tentang: apakah kita bisa mengungguli nabi Muhammad saw ? Jawabannya jelas tidak, karena bacaan tentang masa lalu yang beliau nikmati datang dari Allah, yang selamanya tidak akan pernah ditemukan—dalam setiap kebijaksanaan-Nya—keinginan untuk berbuat dzolim kepada hamba-Nya, apalagi kekasih-Nya, Muhammad saw.

Hal itu berbeda sekali dengan bacaan masa lalu kita, yang penuh dengan ranjau atau jebakan dari pihak yang berkepentingan. Ditambah lagi dengan keterbatasan kita dalam menginterpretasi bacaan tersebut, yang—meskipun terkadang benar—tentu tidak luput dari kesalahan. Keduanya sama-sama memiliki potensi mencipta bias dalam proses pembacaan kita terhadap masa lalu.

Walhasil, tulisan ini pada akhirnya ingin mengingatkan Anda bahwa 7 Januari 2018, pukul 7 pagi, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang mengadakan acara Haul yang ke-4 Almaghfurlah Romo Kyai Achmad Masduqie Mahfudz. Mari saling bertawadlu’ untuk membaca dan mempelajari riwayat hidup beliau dengan kejernihan pikiran, tanpa disertai dengan kepentingan yang bersifat merugikan, demi masa depan yang lebih cemerlang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: