Sisi Rasulullah yang Mulai Terlupakan

Oleh: Wandi Anwas

Masih hangat rasanya, dengungan lantunan maulid yang menggema setiap hari dari masjid-masjid pelosok desa hingga di tengah-tengah keruwetan metropolitan. Diba’, al-Barjanji hingga burdah menjadi harta yang sangat berharga bagi ummat Muhammad yang terus haus akan nilai-nilai keluhuran Islam, nilai-nilai yang selalu eksis dan tak luput tergerus zaman bahkan dengan melejitnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai-nilai tersebut harus diadaptasikan dalam tiga ranah ajaran Islam yakni, Ibadah, Mu’amalah, dan Syari’ah. Sebagaimana embanan tugas yang pernah Rosulullah saw sampaikan, akhlaq adalah prioritas tertinggi dalam penyempurnaan misinya.

Mengenai perbincangan akhlaq, Hujjatul Islam Imam al-Ghozali mendefnisikan akhlak sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa, yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran. Dengan demikian, akhlaq terbentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus seperti dalam maqolah  berikut ini:

العادة إذا غزرت صارت طبيعة

“kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi sebuah watak (karakter)”.

Akhlak juga dapat terbentuk melalui keteladanan, sebagaiamana Muhaimin tegaskan bahwa setiap individu mempunyai kecenderungan untuk belajar melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Selain itu, Ibnu Sina juga lebih detail menguraiakan bahwa apabila seorang mengharapkan dirinya menjadi pribadi yang berakhlak baik, hendaknya terlebih dahulu mengetahui kekurangan yang ada dalam dirinya dan membatasi diri semaksimal mungkin untuk tidak berbuat kesalahan, sehingga diri senantiasa terkontrol untuk melakukan perbuatan baik dan tercegah dari melakukan perbuatan buruk. Tanpa adanya akhlak manusia akan kehilangan derajat sebagai hamba Allah swt yang paling terhormat. Bukankah Allah telah berfirman dalam surat al-Tin ayat 4-6:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengajarkan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Sebagaimana termaktub dalam sumber-sumber ajaran agama Islam, bahkan sumber ajaran  agama samawi lainnya, Nabi Muhammad saw merupakan manusia dengan derajat hamba Allah yang paling terhormat lagi mulia karena tidak mungkin Allah mengutus manusia yang tidak terhormat untuk mengangkat derajat manusia lainnya menuju derajat hamba Allah terhormat. Sehingga sangat tepat nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlaq masyarakat terdahulu hingga masyarakat saat itu dengan tujuan mengangkat derajat manusia menuju hamba Allah swt yang terhormat. Al-Qur’an menjelaskan dalam surat al-Qalam ayat ke-4 berfirman; “Sesungguhnya Engkau (Muhammad) berada diatas pekerti yang agung”. Lebih dari itu, mukjizat istimewa Nabi Muhammad pun, al-Qur’an, juga berfungsi sebagai penopang tugasnya untuk menyempurnakan akhlaq, sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad “Akhlaq Rosulullah itu adalah al-Qur’an”. Dengan demikian korelasi antara tugas dan mukjizat yang diterima nabi Muhammad telah terpenuhi.

Faktanya, era dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan tak lagi terbendung. Namun fenomena yang terjadi justru bertolak belakang. Keluasan ilmu pengetahuan saat ini tidak lagi menjadi jaminan akan keluhuran atau budi pekerti si empunya. Raden Ajeng Kartini dalam salah satu cuplikannya suratnya menyatakan “Siapa tahu apa yang sebenarnya baik akan menjadi sesuatu kejahatan apabila ditulis oleh pena yang tidak bijaksana, tidak berpengetahuan dan pemarah”. Ungkapan kartini kini telah menjadi kenyataan santapan sehari-hari di era milenial dengan hadirnya berita-berita hoax, ghibah, fitnah, dan lain sebaginya. Maka, saat ini kecerdasan atau keluasan ilmu pengetahuan layaknya pisau bermata dua, ketika ia jatuh pada orang yang baik maka akan menghadirkan kemaslahatan begitu sebaliknya.

Fenomena yang terjadi, dekadensi akhlaq dengan keluasan ilmu pengetahuan sangat kentara. Keluasan ilmu pengetahuan saat ini tidak lagi menjadi jaminan akan keluhuran atau budi pekerti si empunya. Raden Ajeng Kartini dalam salah satu cuplikannya suratnya menyatakan “Siapa tahu apa yang sebenarnya baik akan menjadi sesuatu kejahatan apabila ditulis oleh pena yang tidak bijaksana, tidak berpengetahuan dan pemarah”. Ungkapan kartini kini telah menjadi kenyataan santapan sehari-hari di era milenial dengan hadirnya berita-berita hoax, ghibah, fitnah, dan lain sebaginya. Maka, saat ini kecerdasan atau keluasan ilmu pengetahuan layaknya pisau bermata dua, ketika ia jatuh pada orang yang baik maka ia akan menghadirkan kemaslahatan begitu sebaliknya.

Dekadensi akhlaq dengan keluasan ilmu dapat kita saksikan sebagaimana terjadinya perdebatan dua kubu yang bertentangan. Tetapi, pertentangan tidak akan terjadi ketika masing-masing sama-sama memiliki dasar yang kuat. Hal ini tentu dapat kita ketahui dengan menyimak kisah-kisah sejak zaman Rasulullah saw dan ulama salaf, bahkan kisah pendiri Nahdhatul Ulama. Kisah imam syafi’I ketika melaksanakan sholat subuh di daerahnya imam malik tanpa menggunakan qunut hingga kisah penurunan bedug oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari tatkala kedatangan tamu yang berbeda pandangan tentang penggunaan bedug untuk penanda waktu sholat adalah bukti adanya toleransi. Kisah tersebut tentunya tidak hanya mengajarkan toleransi namun juga mengajarkan bagaimana sikap atau akhlaq yang seharusnya diterapkan ketika terjadi perbedaan pendapat atau pandangan. Apalagi hakekatnya kebenaran adalah milik Allah swt semata.

Jika kita melihat secara teliti, kemerosotan akhlaq ummat Islam dengan secara jelas akhir-akhri ini mulai dipertontonkan. Fenomena terbaru terkait hal ini adalah ketika aksi bela Palestina. Saat Luqman Hakim Saifudin sebagai menteri agama berpidato, dengan tanpa malunya sekelompok orang membuat gaduh dengan sorak-sorak. Hal ini jelas menodai citra ummat Islam. Bahkan, sikap mereka sesungguhnya bertentangan dengan kebebasan yang berlaku di Indonesia bahkan di dalam Islam. Berbeda dengan Rasulullah saw ketika menerima tamu seorang sahabat yang siap menjalankan ajaran Islam dan meninggalkan segala larangannya kecuali zina, Rasulullah saw tidak sontak marah dan menghardiknya.  Namun Rasulullah saw memberikan penjelasan perumpamaan dengan sikap yang sangat menyejukkan sehingga ia menyadarai bahwa perbuatan zina itu memang tidak akan disetujui oleh siapapun.

Fenomena lain yang cukup menyita perhatian adalah marakny syiar-syiar keislaman yang sengaja dipublikasikan atau terpublikaskan. Dengan tidak menyalahkan kegiatan positif, gebyar musabaqah tilawah, tahfidz, hingga sholawat nabi nampaknya belum sepenuhnya mearih esensinya. Kecenderungan yang terjadi adalah orientasi duniwai dengan melalaikan pembangunan akhlaq yang baik dan benar sebagaimana akhlaq Rasulullah saw. Sehingga keruwetan pun akan terus terjadi karena keegoisan yang muncul dari persaingan dengan merasa paling benar, merasa paling pintar, merasa paling pantas, hingga merendahkan yang lainnya dan menuntut kemanutan dari manusia lainnya. Oleh karena itu, penting untuk mengingat kembali petuah al-Imam Ghozali bahwa al-Adab Fauqo al-Ilmi (kedudukan adab itu lebih tinggi daripada ilmu) sebagaimana Rasulullah saw misi utamanya untuk menyempurnakan akhlaq, bukan terbatas mengajarkan ilmu pengetahuan apalagi meraih kebanggan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: