Membaca Ritme dan Sajak dalam al-Qur’an

Oleh : Mukhammad Nur Hadi

Diskursus tentang kevalidan dan kualitas teks-teks al-Qur’an, para sarjana baik Muslim maupun non-Muslim yang bergelut dalam bidang teks mencurahkan banyak tenaga untuk menyibak keindahan sastra al-Qur’an. Salah satu pakar dalam bidang teks yang berhasil memberikan gambaran baru tentang pendekatan teks terhadap al-Quran adalah Neal Robinson. Neal, yang sebelumnya non-Muslim, banyak memaparkan fakta-fakta menarik dalam buku yang ia tulis, Discovering The Qur’an: A contemporary Approach to A Veiled Text.

Neal mencoba melakukan eksperimen menarik untuk membutikan bahwa al-Qur’an benar-benar memiliki kualitas maksimal. Ia mencoba melihat teks dari ritme dan sajak yang dibawa oleh al-Qur’an. Untuk membuktikannya ia memberikan usulan nilai terhadap cara pembacaan huruf di dalam al-Qur’an. Untuk huruf yang dibaca pendek, bukan, ia memberi nilai 1 (digunakan tanda “S”=short). Termasuk huruf yang terbaca adalah huruf yang awalnya mati yang berada di awal ayat, seperti hamzah washol pada isim maushul dan fi’il amar ( الَّذِي dan اقْرَأْ ). Huruf yang bertasydid pun juga tetap dihitung satu huruf, bukan dua huruf, sehingga ia memiliki nilai 1. Untuk huruf yang terbaca panjang, baik mad thabi’i, mad wajib, mad jaiz, ataupun mad lazim, diberi nilai 2 (digunakan tanda “L”=long) . Sedangkan huruf yang tidak terbaca, huruf yang tersukun, tidak diberi nilai. Penghitungan huruf sukun juga berlaku ketika ia berada di akhir ayat atau waqaf.

Neal mengaplikasikan teori ini pada lima ayat pertama dalam surat al-‘Alaq. Berikut kutipan ayatnya:

إقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) إقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Jika kita aplikasikan teori yang ia ajukan, maka akan diperoleh jumlah nilai berikut:

Ayat 1   : 10 (S) + 1 (L) = 12

Ayat 2   : 8 (S) + 1 (L) = 10

Ayat 3   : 8 (S) + 0 (L) = 8

Ayat 4   : 8 (S) + 1 (L) = 10

Ayat 5   : 8 (S) + 2 (L) = 12

Ayat yang memiliki jumlah nilai yang sama, jika dikaji lebih komprehensif, sesunggguhnya memiliki kandungan maksud yang sama. Kemudian, jumlah ayat yang memiliki jumlah nilai yang paling berbeda merupakan inti kelompok ayat di atas. Ayat pertama dan ayat kelima dari proses penghitungan di atas memiliki jumlah nilai yang sama. Ketika kedua ayat ini dikorelasikan, maka akan tampak hubungan sebab akibat. Karena sebab perintah membaca pada ayat pertama, maka –akibatnya- manusia mengetahui apapun yang sebelumnya tidak ia ketahui. Sedangkan ayat kedua dan keempat sama-sama membincang media. Ayat kedua bercerita tentang media penciptaan manusia dan ayat keempat bercerita tentang media pembelajaran yang digunakan untuk mengajar manusia. Ayat yang ketiga, yang memiliki nilai yang berbeda, merupakan inti dari perintah yang terkandung dalam kelompok ayat ini. Oleh karena itu, perintah membaca yang dimaksud dalam lima ayat yang pertama ini adalah perintah membaca dengan mengagungkan nama Tuhan. Maksudnya, ketika manusia memahami, mentadabburi, menikmati, mengamati, meneliti, mengobservasi, mengkompromisasi, dan kegiatan “membaca” lainnya yang tertuju kepada berbaga objek di alam semesta, semestinya manusia tidak boleh terlalu mengagungkan akal, kemampuan, atau kecerdasan yang ia miliki untuk “membaca” apa yang ia lihat. Kita, melalui ayat ini, diingatkan untuk selalu mengagungkan Tuhan terhadap apa yang telah kita ketahui, bukan untuk membanggakan diri.

Apa yang dimaksud sebagai kualitas maksimal oleh Neal akan lebih tampak dan menakjubkan ketika teorinya juga diterapkan di ayat yang lain. Kelompok ayat yang cukup menarik untuk dicermati adalah ayat tentang balasan perbuatan manusia yang terdapat di akhir surat al-Zalzalah.

 (8)فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Ayat ini secara spesifik mengungkapkan tentang balasan yang sesuai bagi pelaku kabaikan dan kejahatan. Lalu, apakah hanya secara konten saja ayat ini memiliki keseimbangan. Meminjam usulan teori Neal, maka setelah dilakukan perhitungan akan didapatkan jumlah sebagai berikut.

Ayat 7 : 13 (S) + 2 (L) = 15

Ayat 8 : 13 (S) + 2 (L) = 15

Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai atau konten yang sama  tidak hanya pada isi, tetapi juga pada huruf yang digunakan untuk mengungkap kasusnya. Ini menunjukkan bahwa jumlah huruf yang berimbang merupakan petunjuk terhadapa balasan yang berimbang. Fenomena seperti ini tidak akan pernah ditemukan dalam pola penguraian fenomena yang dilakukan oleh manusia. Ternyata, Allah swt benar-benar memperhatikan secara detail terkait kata yang digunakan dengan isi yang disampaikan.

Apa yang telah diuraikan di atas tentunya dapat menjadi pelecut bagi kita untuk terus mengungkap sisi lain al-Qur’an yang masih tertutup. Kemungkinan untuk pengungkapan itu bisa menjadi media baru bagi kita, sebagai generasi milenial, untuk menjembatani apa yang sering dianggap “selalu mencondongkan akal” itu salah bisa dijawab dengan cara yang  lebih bijak, seperti apa yang diajukan oleh Neal. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: