Perjalanan Teologi Kartini

Oleh : Wandi Anwas

Kartini lahir di Mayong Jepara tepatnya pada 21 April 1879 M/ 28 Rabiul Akhir 1297 H dari pasangan Ario Sosroningrat dan Ibu Ngasirah. Kartini memiliki 12 saudara terdiri dari satu saudara Kandung (R.M. Sosrokartono) dan 11 Saudara Tiri yaitu, R.M. Sosroningrat, PA. Sosrobusono (Bupati Ngawi), Raden Ayu Soelastri, Raden Ajeng Rukmini, Raden Ajeng Kardinah, Raden Ajeng Kartinah, R.M. Sosromulyono, Raden Ajeng Sumantri dan R.M. Sosrorawito.

Kartini, yang masih keturunan Raja Jawa, juga mempunyai hubungan darah dengan orang Arab, yang juga masih keturunan Rasulullah SAW dari marga Habsyi. Namun silsilahnya tidak ditemukan secara tertulis. Hubungan keluarga ini masih terjalin ketika diantara mereka ada yang mengadakan acara penting seperti pernikahan sebagaimana termuat dalam surat kartini kepada Nyonya R.M. Abendanon Mandiri, 12 Desember 1902.

Seperti yang pernah saya katakan, kami ingin benar-benar berhubungan dengan orang-orang dari berbagai bangsa dan kepercayaan dan aliran. Baru-baru ini di semarang kami berkenalan dengan beberapa keluarga sayyid (Keturunan Nabi Muhammad SAW). Kakak mempunyai kenalan banyak diantara mereka, yang umumnya orang-orang baik dan saleh. Ia mengantarkan kami antara lain ke rumah kapten golongan Arab. Dan disitulah kami tahu, antara kami ada hubungan keluarga. Dengan saling menanyakan berbagai hal lalu tahulah kami. Ayahnya dan pamannya adalah teman sepermainan ayah serta kakak-kakaknya dan anak-anak kakek. Karena keadaan sahabat karib itu terpisah, hingga sekarang secara kebetulan cucu-cucu mereka bertemu kembali.

Menarik juga melihat-lihat keadaan rumah yang masih asing itu, dan kami disambut dengan ramah-tamah sekali. Hal itu tidak jarang kami alami dari orang-orang berbagai bangsa, yang belum kami kenal sama sekali, tetapi dia sendiri atau orang tuanya telah kenal dengan kakak dan nenek kami.

Demikianlah di kampung Habsyi kami juga mempunyai teman-teman, yang orang tuanya bersahabat karib dengan kakek dan nenek kami. Disitu kami selalu disambut dengan gembira sekali. Baru-baru ini anak laki-laki mereka kawin dengan gadis Habsyi di sini. Kami datang pada perkawinannya”.

Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja, Kartini merupakan seorang yang religius. Pramoedya menambahkan bahwa kereligusitasnya itu tanpa berpegang pada bentuk-bentuk keibadahan atau syariat. Jadi, ia termasuk golongan javanis Jawa atau golongan kebatinan. Aliran memahami bahwa Tuhan dipahami sebagai sumber hidup yang mengikat bagi setiap orang. Tidak peduli apapun agama yang dianut. Bahkan juga bagi si ateis sekalipun, sebagaimana dinyatakannya dalam buku Edna Iyall We Two. Lebih lanjut, kelompok kebatinan itu diangggap dapat menerima agama apapun dan mereka tidak dapat menerima pemutar balikan atas agama apapun, sebagaimana halnya pernyataannya dalam buku Sienkiewicz Qua Vadis. Kereligiusan Kartini dapat ditemukan di beberapa media, di antaranya dalam Surat kartini kepada Nyonya N. Van Kol yang ditulis 21 Juli 1902.

Surat tentang keriligiusitasan Kartini itu memuat tentang tiga ajaran Islam. Pertama, menjelaskan tentang silaturrahim kepada makhluk-makhluk Allah yang sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW,

“Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu” (HR Ahmad).

Kedua, memuat tentang ajaran tauhid atau monoteisme sesuai dengan firman Allah :

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.” Q.S. Al-Ikhlas ayat 1

Ketiga, memuat tentang kewajiban tolong-menolong serta saling mencintai sesuai dengan firman Allah.

“Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” Q.S. Al-Maidah ayat 2

Untuk dapat memahami lebih detail terkait tiga poin itu, berikut disajikan teks surat Kartinikepada Nyonya N. Van kol, 21 Juli 1902

“Agama dimaksudkan supaya memberi berkah. Untuk membentuk tali silaturrahim antara semua makhluk Allah, berkulit putih maupun cokelat. Tidak pandang pangkat perempuan atau laki-laki, kepercayaan, semuanya kita ini Anak Bapak seorang itu, Tuhan yang Maha Esa!

Tiada Tuhan selain Allah! Kata kunci orang Islam, dan bersama-sama kami semua yang beriman, kaum monotheis, Allah itu Tuhan, Pencipta Alam Semesta.

Anak Bapak yang Maha Esa, laki-laki dan perempuan jadi saudara harus saling mencintai, yaitu menolong dan membantu. Saling menolong dan membantu, serta saling mencintai, itulah dasar segala agama.

Aduhai ! seandainya agama itu dipahami dan dipatuhi maka akan terwujudlah maksud yang murni bagi umat manusia, ialah berkah!

Meski agama itu baik, tapi yang membuat kami tidak menyukai agama, bahwa para pemeluk agama yang salah satu menghina, membenci bahkan kadang-kadang mengejar-ngejar pemeluk agama lain.”

“Allah atau Tuhan, bagi kami sekarang bukanlah ucapan hampa lagi. Kata itu, aduhai sangat banyak diucapkan orang tanpa dipikirkan.

Kini bagi kami bunyinya kudus, suci. Terima kasih, terima kasih sekali, bahwa nyonya telah menyingkapkan tirai yang ad di hadapan kami, sehingga dapat menemukan yang lama kita cari.

Seandainya saya dapat mengatakan, betapa tenangnya, betapa damainya sekarang di dalam diri kami. Betapa bahagianya kami, bahagia hening, aman dan sentosa. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa gentar lagi. Kami merasa angat aman, sangat tenang! Ada dzat yang selalu dekat dengan kami. Dan dzat itu akan menjadi pelindung hati kami, pendukung kami, tempat kami berlindung dengan aman dalam hidup kami selanjutnya. Itu sudah terasa oleh kami.

Ya, sesungguhnyalah, Tuhan tidak memberi seorangpun kewajiban yang amat berat. Tuhan memberi masing-masing kekuatan untuk pekerjaan yang ditugaskannya kepada tiap orang.”

KeIslaman Kartini semakin terlihat dalam Surat Kartini kepada R.M. Abendanon Mandri, yang ditulis pada bulan Agustus 1900. Surat tersebut menceritakan tentang kegiatannya berziarah bersama orang tua dan saudara-saudaranya ketika menjelang bulan puasa. Bahkan tradisi tersebut masih tetap dilestarikan hingga saat ini. Berikut cuplikan surat tersebut.

“Pada awal bulan puasa, kalau orang tuanya (Kartini) pergi berziarah, dia dan saudara-saudaranya yang perempuan boleh ikut”

Kartini juga pernah bercerita tentang kesibukannya ketika memasuki bulan puasa kepada temannya Berthie yang saat itu bertepatan dengan ulang tahunnya. Bulan Puasa atau bulan Romadhlon merupakan salah satu bulan yang dimulyakan oleh Allah karena pada bulan Romadhlon Allah swt menurunkan mukjizat terbesarnya kepada Rosulullah SAW berupa al-Qur’an yang menjadi pedoman bagi Islam sepanjang Masa. Segala macam amal ibadah akan dilipat gandakan, sehingga bulan Romadhon merupakan momentum yang sangat berharga bagi umat Islam dan begitupun dengan Kartini. Cerita tersebut termuat dalam Surat Kartini kepada nyonya B. Niermeijer Sibmacher Wijnen, Amsterdam, 70 Weteringschans, Jepara, 20 Desember 1902 yang berisi :

“Selamat ulang tahun Berthie yang manis dan budiman. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Saya mohon maaf jika hanya bisa mengirim kartu. Sebenarnya saya ingin menulis surat yang panjang lebar, tetapi karena berbagai keadaan tidak mengizinkannya sehingga saya berbuat demikian. Bagai kami orang Islam, bulan Puasa adalah bulan yang penuh kesibukan.  Sekarang ini pertengahan bulan dan banyak hal lain yang tidak mungkin saya katakan. Sampai sesudah tahun baru, akan tiba surat yang panjang untuk menjawab suratmu berthie.”

Kartini atas pengaruh bacaan baratnya atau kondisi masyarakatnya yang kurang menghargai wanita, sangat mengecam poligami. Baginya poligami adalah musuh utamanya. Dengan segala kemampuannya ia ingin memeranginya agar wanita bumiputera tidak tertindas. Kartini merasakan betul bagaimana penderitaan wanita yang dimadu, sebab ibu kandungnya sendiri, ibu Ngasirah, adalah istri yang dipoligami demi menjalankan misinya ayahnya untuk meraih jabatan menjadi seorang bupati. Kecaman kartini terhadap poligami yang dilegalkan syariat Islam telah mendapatkan sambutan baik dari sahabat penanya di Eropa, Stella. Akan tetapi, Stella menjadi kecewa ketika tiba-tiba Kartini mau dipoligami dengan seorang bupati asal Rembang (R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat), seorang alumnni pesantren yang sudah pernah mempunyai sekian istri. Bahkan suami kartini itu sudah mempunyai anak yang umurnya berselisih dengann Kartini sebanyak delapan Tahun. Entah apa yang mengenai Kartini sehingga ia mau menerima musuh utamanya menjadi teman hidupnya. Bahkan, Kartini sangat kagum dan bahagia dengan sosok calon suaminya ini.

Kartini resmi menikah dengan Raden Adipati Djojo Adiningrat pada 8 November 1903. Selama membina rumah tangga dengan Raden Adipati Djojo Adiningrat, Kartini dikaruniai seorang putra, Raden Mas Singgih. Tidak lama dari setelah melahirkan anak pertamanya pada tanggal 13 September 1904, empat hari kemudian Kartini meninggal dunia.

Kartini hidup bertepatan dengan ulama-ulama Nusantara yang terkemuka seperti Kiai Shaleh Darat Semarang (1802-1903 M.) dan Mbah Kholil Bangkalan (1820-1925 M.) serta Snouck Hurgronje yang ketiganya pernah berguru kepada Syaikh Zaini Dahlan selama di Makkah.  Akan tetapi, di antara ketiga ulama terkemuka ini, yang lebih dekat dengan Belanda adalah Snouck Hurgronje sehingga Kartini lebih mengenalnya dibandingkan dengan yang lainnya karena kedekatannya denga orang-orang Belanda. Di sisi lain, Kiai Shaleh Darat masih mempunyai hubungan yang erat dengan Paman Kartini yang menjadi Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat. Kisah pertemuan Kartini dengan Kiai Shaleh Darat Semarang berawal di Kediaman Pangeran Ario Hadiningrat saat sedang mengadakan sebuah acara pengajian bulanan yang diisi oleh Kiai Shaleh Darat Semarang. Hal itu sesuai dengan catatan dari Ibu Nyai Fadhila Sholeh, cucu Kiai Sholeh Darat. Materi yang disampaikan adalah tentang tafsir surat al-fatihah. Nampaknya, Kartini kagum dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat, sebab selama hidupnya arti ayat-ayat al-Qur’an, terlebih fatihah, yang diajarkan oleh gurunya begitu asng. Atas dasar pertemuan itu kemudian Kiai Sholeh Darat menulis sebuah tafsir yang bernama Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan. Dalam pembukaannya Kiai Sholeh Darat mengemukakan alasan mengapa ia harus menulis tafsir terjemahan al-Qur’an. Beliau menyampikan bahwa pada orang-orang awam tidak ada yang memperhatikan tentang maknanya al-Qur’an karena mereka tidak dan tidak tahu maknanya dan tidak tahu caranya memahami. Hal ini karena al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Sedangkan salah satu alasan Kiai Sholeh Darat menggunakan Arab Pegon adalah agar tidak diketahui Belanda yang pada waktu itu melarang penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu atau Jawa.

Pengaruh Kiai Sholeh Darat terhadap keislaman Kartini diperkuat dengan Surat Kartini kepada Tuan E.C. Abendanon, 17 Agustus 1902 yang berisi :

“Karena merasa senangnya, seorang tua telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku jawa itu semakin sulit seklai diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran yang arif dalam bahasa yang bagus. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami.

Aduhai, ingin benar saya membawa kamu untuk menikmati semua keindahan itu dalam bahasa aslinya. Maukah kamu belajar bahasa Jawa? Sulit, itu sudah tentu, tetapi bagusnya bukan main! Bahasa Jawa itu bahasa perasaan, penuh puisi dan kecerdikan. Kami sendiri sebagai anak negeri kerapkali tercengang tentang ketajaman bangsa kami.”

Meskipun tidak secara tersurat nama Kiai Sholeh Darat tercantum dalam surat itu, namun berdasarkan keterkaitan waktu, sebab, dan akibat, penulis Kartini Nyantri, Amirul Ulum, menduga keras bahwa kakek tua dalam Surat Kartini kepada Tuan E.C. Abendanon, 17 Agustus 1902 adalah Kiai Sholeh Darat.

Sumber: Kartini Nyantri oleh Amirul Ulum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: