Islamisasi Sains dan Kekhawatiran Tak Berdasar

Oleh: Mahrus Afandi

Kontroversi aksi bela Palestina beberapa waktu lalu yang dianggap oleh sebagian pihak memiliki garis bersinggungan dengan kasus penistaan agama yang diiringi oleh berjilid-jilid aksi pembelaan, membuat saya ingin mengarahkan pembicaraan ini kepada persoalan Islamisasi ilmu pengetahuan yang oleh sebagian golongan dianggap sebagai gagasan yang rawan menista kesucian agama. Anehnya, anggapan itu sering muncul dari golongan yang selama ini tidak memperkenankan diri untuk turut berpartisipasi dalam aksi bela Islam yang berjilid-jilid lalu.

Secara umum, penolakan terhadap Islamisasi ilmu pengetahuan itu didasari oleh argumen mereka tentang fakta saintifik yang tidak lepas dari konfirmasi/afirmasi, rekonstruksi, dan dekonstruksi. Mereka khawatir hasil saintifik yang dihasilkan nanti, malah menyerang agama sebagai objek yang dihadapkan dengan sains, utamanya ketika temuan saintifik tersebut berbeda dengan kenyataan yang ada di teks-teks keagamaan seperti Al-Qur’an dan Sunnah.

Sebenarnya, jika penolakan itu diajukan oleh orang yang selama ini tidak ikut aksi bela Islam, maka akan tampak ketidakmapanan logika yang ada dalam diri mereka. Karena pada aksi bela Islam yang berjilid-jilid lalu mereka mengganggap tidak perlu adanya pembelaan kepada variabel yang sudah mutlak kemuliaannya, alias tidak bisa dijadikan hina oleh makhluk, akan tetapi pada pembicaraan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan mereka masih khawatir akan adanya tuduhan tidak benar atas teks agama disebabkan oleh temuan saintifik yang tidak compatible dengan teks agama. Dengan kata lain, jika mereka masih khawatir akan hal itu, mereka menganggap ada potensi teks agama–yang pada saat momen aksi bela Islam berjilid-jilid mereka anggap tidak perlu dibela, karena telah mulia secara mutlak dan tidak bisa dijadikan hina–menjadi berpotensi bisa dihinakan oleh temuan saintifik yang ditemukan oleh manusia.

Sebenarnya, perdebatan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan ini telah selesai apabila manusia paham tentang cara berpikir Islam Tuhan dan Islam Manusia yang dalam konteks Indonesia diperkenalkan oleh Dr. Haidar Bagir, atau gagasan Al-Qur’an Tuhan dan Al-Qur’an manusia. Baca tulisan saya http://nun-media.com/2017/12/11/al-quran-tuhan-vs-al-quran-manusia/

sumber: Fakta Pers

Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Kekhawatiran & Jawaban

Pada hakikatnya, persoalan Islamisasi ilmu pengetahuan atau integrasi Islam dan sains merupakan istilah yang dipicu dari anggapan yang muncul dari masalah yang dimiliki oleh barat, tempat lahirnya sekulerisme, dimana agama dan sains dianggap harus dipisahkan. Lalu sebagian dari mereka merasakan pemisahan ini tidak perlu lagi diadakan, karena ada lumayan banyak temuan saintifik yang ternyata mengafirmasi dalil-dalil keagamaan. Setelah melewati kekecewaan terhadap agama di era modern, akhirnya sebagian dari mereka mencari kembali agama ketika mereka memasuki era post-modern.

Hari ini umat Islam berada di belakang barat. Posisi ini membuat umat Islam merasa apa yang dialami oleh barat, harus mereka alami, termasuk soal dikotomi sains dan agama. Sehingga ada anggapan semua sains harus diislamisasi, atau diintegrasikan dengan Islam. Padahal dalam khazanah Islam, persoalan dikotomi itu sulit dilacak bekasnya. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya perdebatan pada generasi Islam di masa lalu tentang dikotomi seperti itu. Mereka tidak pernah mempersoalkan ini ilmu agama, sedangan itu ilmu non agama. Mereka mempelajarinya secara seimbang tanpa mencurigai salah satu diantara keduanya  berpotensi akan menjauhkan mereka dari Tuhan. Mereka tidak canggung mempelajari semua hal, karena mereka yakin semuanya akan mengenalkan mereka kepada ayat-ayat (tanda) Tuhan.

Dalam Mukoddimah Dalail An-Nubuwwah, Syaikh Abu Bakr Ahmad Al-Baihaqi berkata, “Persoalan pembuktian (adanya) Tuhan bukanlah (sekedar) persoalan keagamaan, akan tetapi merupakan persoalan fitrah manusia sekaligus masalah yang akan dijawab oleh perkembangan ilmu pengetahuan seiring berkembangnya zaman.”

Pernyataan ini menandaskan bahwa dengan ilmu pengetahuan, seorang manusia bisa mengenal dan meyakini eksistensi Tuhan. Karena melalui ilmu pengetahuan, manusia bisa menemukan ayat (baca: tanda) Tuhan yang bisa menyadarkan mereka atas Maha luhurnya Dia, sekaligus maha rendahnya diri mereka sebagai manusia.

Secara kasarnya, saya ingin mengatakan bahwa generasi Islam di masa lalu tidak pernah mempunyai inisiatif untuk mendikotomikan agama dan sains dalam pikiran mereka. Keduanya mengejawantah menjadi satu demi membangun satu entitas vital dalam diri seorang muslim berupa iman kepada Tuhan. Sialnya, posisi kita yang terlanjur berada di belakang peradaban barat membuat kita kepaten obor dan terpaksa memungut persoalan yang dialami barat–berupa dikotomi agama dan sains–menjadi permasalahan kita juga. Pada akhirnya, kita dipandang perlu memakai istilah interkoneksi, interelasi, integrasi agama dan sains, alias Islamisasi ilmu pengetahuan, demi mengatasi persoalan kepaten obor tersebut.

Pertanyaannya sekarang, lalu bagaimana dengan kekhawatiran pihak yang memandang Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai ancaman yang bisa mendegradasi nilai luhur teks-teks keagamaan? Saya ingin berkata bahwa teks-teks keagamaan termasuk ke dalam variabel yang dikatakan tidak bisa dihinakan oleh makhluk manapun. Saya berharap orang-orang yang tidak ikut aksi bela Islam berjilid-jilid juga konsisten memegang pandangan ini. Artinya, tidak ada yang harus dikhawatirkan dari islamisasi ilmu pengetahuan. Ia seperti tafsir yang sifatnya relatif. Sesuatu yang relatif tidak bisa melegitimasi diri mampu merendahkan kebenaran yang sifatnya absolut ketika ia ditemukan ber-antitesis dengan kebenaran absolut tersebut. Jika kita memahami ini, islamisasi ilmu pengetahuan atau apapun itu istilahnya akan dipandang secara optimis mampu membantu kita untuk mencapai titik yang lebih dekat kepada Yang Maha benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: