Aksi Bela Palestina dalam Kontroversi

Oleh: Mahrus Afandi

Sebagian saudara kita, mempertanyakan sikap sebagian ulama’ yang tidak berpartisipasi pada aksi bela Islam berjilid-jilid lalu yang dilatarbelakangi oleh dugaan adanya penistaan Al-Quran, yang kemudian berpartisipasi, bahkan menggagas adanya aksi bela Palestina. Sebagian saudara kita itu bahkan bukan hanya sekedar mempertanyakan, tapi mereka juga merasa risih atas adanya aksi bela Palestina yang digagas oleh ulama’ karena mereka menganggapnya sama dengan aksi bela Islam yang berjilid-jilid lalu.

Saya ingin mengatakan bahwa aksi bela Palestina yang dilaksanakan pada Minggu, 17/12/2017 lalu berbeda dengan aksi bela Islam berjilid-jilid yang telah dilakukan lebih dulu. Memang, tidak hanya orang-orang selain para partisipan aksi Palestina itu yang memahami bahwa aksi tersebut berbeda dengan aksi bela Islam yang lalu, karena sebagian partisipan aksi bela Palestina di Monas lalu menganggap aksi tersebut sama dengan aksi bela Islam berjilid-jilid lalu. Salah satu buktinya adalah adanya tendensi seakan-akan mereka ingin berkata kepada para ulama’ itu, “Wahai ulama’ yang tak ikut aksi bela Islam yang berjilid-jilid silam, kenapa anda baru ikut aksi sekarang. Mengapa dulu anda tidak ikut?”

Tentunya pertanyaan itu tidak disampaikan sesopan itu, akan tetapi disampaikan dengan cara khas orang Indonesia pada hari ini, dengan nada cemoohan, atau semacamnya.

Jika dibiarkan pertanyaan seperti itu, situasinya akan mendorong beberapa pihak untuk menanyakan bagaimana sebenarnya posisi ulama’–yang tidak ikut aksi bela Islam yang berjilid-jilid, tapi berpartisipasi dalam aksi bela Palestina–itu, bahkan saya juga khawatir akan ada kecenderungan untuk meremehkan kredibilitas ulama’ tersebut

Tentu jawaban yang saya ajukan berikut ini tidak merepresentasikan jawaban yang dimiliki ulama’ tersebut. Akan tetapi paling tidak jawaban ini bisa menambah bahan renungan kita bersama yang tentunya tidak wajib untuk selalu disetujui, bahkan jawaban ini menerima koreksi, jika memang ada substansinya yang dianggap kurang benar.

Saya ingin berkata bahwa posisi ulama’–yang tidak ikut aksi bela Islam yang berjilid-jilid, tapi berpartisipasi dalam aksi bela Palestina–tersebut jelas. Karena memang dua agenda aksi tersebut berbeda. Aksi bela Islam berjilid-jilid lalu dilatar belakangi oleh anggapan adanya penistaan agama, sedangkan aksi bela Palestina dilatar belakangi oleh adanya penindasan kepada sebuah bangsa oleh bangsa yang lain.

Dalam kerangka berpikir ulama’–yang tidak ikut aksi bela Islam yang berjilid-jilid tetapi berpartisipasi dalam aksi bela Palestina, terdapat keyakinan bahwa agama, Al-Quran, Tuhan merupakan variabel yang sifatnya sudah luhur secara absolut, dan tidak tertandingi. Tidak bisa direndahkan, sehingga tidak perlu dibela. Makhluk tidak mempunyai sama sekali daya untuk membuatnya rendah atau hina. Separah apapun penghinaan yang dilakukan oleh makhluk terhadapNya, penghinaan itu tidak bisa dijadikan bahan legitimasi diri untuk berkata bahwa telah diruntuhkan keluhuran agama, Al-Quran, apalagi Tuhan.

Oleh karena itu, para ulama’ tersebut tetap keep calm ketika ada seseorang atau segolongan pihak yang–sekedar–mengolok-ngolok variabel-variabel yang mempunyai keluhuran mutlak tersebut. Karena semua keluhuran mutlak itu tidak perlu dibela, karena memang sudah mulia, tidak bisa dijadikan hina. Akan tetapi, sikap yang diambil oleh ulama’ tersebut akan berbeda apabila kita (manusia) dihalang-halangi untuk memeluk, membaca, mentadabburi, menyembah kemuliaan yang mutlak itu, perlawanan kepada pihak yang menghalangi tersebut wajib diagendakan, bahkan meskipun darah harus menetes dimana-mana.

Pada kasus Palestina, itulah yang terjadi. Sehingga hal itu menggerakkan ulama’ tersebut untuk mengadakan aksi, demi membela, menekan pihak yang selama ini menindas Palestina, supaya mereka memberi kebebasan kepada Palestina untuk berdikari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: