Inilah Rahasia di Balik Santri yang Susah di Atur

Oleh :  Miqdad Badruddin (Direktur kleru.com)

Makanan merupakan kebutuhan primer bagi makhluk hidup untuk keberlangsungan hidupnya. Namun bagi seorang santri, untuk menjaga keberlangsungan hidupnya, tidak semua makanan dapat dikonsumsi tetapi lebih mempertimbangkan kehalalan dan keharamannya.  Sebab santri tidak hanya berorientasi pada efek makanan terhadap jasmaninya saja namun juga memfikirkan efek makanan terhadap rohaninya.

Manakala dicermati secara mendalam sebenarnya seorang santri selain menjaga kehalalan makanan ternyata juga memiliki budaya dalam mengkonsumsi makanan yang mana pada saat ini budaya tersebut sudah hampir hilang. Budaya dalam makanan yang diterapkan oleh santri-santri zaman dahulu (disamping menjaga kehalalan makanannya) ialah mengonsumsi makanan-makanan yang sangat sederhana seperti sayur-sayuran, roti dan bahkan juga hanya memakan nasi dan garam, kiranya sangat jarang para santri dahulu makan seafood, daging dan sejenisnya.

Apabila dibandingkan antara mengonsumsi makanan: sayuran dan daging ternyata memiliki efek yang sangat berbeda dalam diri seseorang (terlepas dari kehalalan dan keharamanya). Mari kita ilustrasikan efek dari makanan tersebut dilihat dari hewan dan makanannya (bukan bermaksud menyamakan manusia dengan hewan). Hewan pemakan daging memiliki karakter yang keras dan juga memiliki kecerdasan dalam berfikirnya seperti harimau, singa dan pemakan daging lainya. Berbeda dari pemakan daging adalah hewan pemakan tumbuhan. Hewan ini memiliki karakter yang lembek dan nurut seperti kerbau, kambing, kuda dan lainnya.

Asumsi diatas menunjukkan bahwa efek makanan antara hewan dan manusia tidak jauh berbeda. Sekelompok manusia yang mashur  banyak mengonsumsi daging adalah orang arab. Mereka memiliki karakter yang keras dan juga cerdas. Mereka dikenal memiliki daya ingat yang kuat sehingga mudah menghafalkan sesuatu sedangkan manusia yang banyak mengonsumsi sayuran memiliki karakter yang lembek dan penurut (sehingga mudah disetir dan dibohongi oleh negara-negara lainya).

Selain dua perbandingan diatas juga ada lagi yaitu hewan pemakan seafood seperti hiu dan lumba-lumba hewan ini memiliki karakter yang lebih lembut dari pemakan daging tetapi memiliki kecerdasan yang lebih. Manusia yang banyak mengkonsumsi seafood ialah orang jepang yang dikenal dengan kecerdasanya sehingga mampu merubah warna dunia melalui karya-karyanya.

sumber: elina.id

Melihat pernyataan tersebut mungkin muncul pertanyaan, kenapa santri zaman dahulu banyak mengonsumsi sayuran tetapi lebih pandai dibandingakan santri zaman now yang lebih banyak mengonsumsi makanan daging dan seafood.? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita menengok sebuah cerita dalam Manaqib Syeh Abdul Qodir RA. pada manqobah kedua puluh lima.

“Diriwayatkan, ada seorang perempuan datang menghadap Syekh Abdul Qodir mengantarkan anaknya untuk berguru pada Syekh, untuk mempelajari ilmu suluk, Syekh memerintahkan agar si anak harus belajar dengan tekun mengikuti cara-cara orang salaf dan ditempatkan di ruang kholwat.

Beberapa hari kemudian si ibu selaku orangtua murid datang menengok anaknya dan dilihat tubuh anaknya itu menjadi kurus. Makannya hanya roti kering dan gandum. Si ibu kemudian masuk keruang Syekh dan melihat di hadapannya tulang-tulang sisa makanan daging ayam yang sudah bersih. Ibu itu berkata :”Menurut penglihatan saya Tuan Syekh makan dengan makanan yang serba enak. Sedang anak saya badannya kurus karena makanannya hanya bubur gandum dan roti kering, untuk hal itu apa maknanya sehingga ada perbedaan?”.

Mendengar pertanyaan itu lalu Syekh meletakkan tangannya di atas tulang-belulang ayam sambil bekata :

قومي باذن الله تعالى الذي يحي العظام وهي رميم

QUUMII BI IDZNILLAHI TA’ALA ALLADZI YUHYIL ‘IDZOMA WA HIYA ROMIIM

(berdirilah dengan idzin Allah yang menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur).

Lalu berdirilah tulang-belulang itu menjadi ayam kembali sambil berkokok :

لا اله الا الله محمد رسول الله الشيخ عبد القادر ولي الله

(Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah, Syekh Abdul Qodir kekasih Allah).

Syekh berkata pula kepada orang tua anak itu : “Kalau anakmu dapat berbuat seperti ini, maka ia boleh makan seenaknya asal yang halal”.

Ibu itu merasa malu oleh Syekh dan mohon maaf atas prasangka yang buruk. Dengan keyakinan yang bulat, ibu itu menyerahkan anaknya kepada Syekh untuk dididik.

Cerita itu menunjukkan bahwa yang lebih di unggulkan oleh santri bukanlah kecerdasanya melainkan keta’dziman sepenuhnya terhadap guru, untuk dapat ta’dzim kiranya santri diharuskan untuk banyak mengkonsumsi sayuran agar memiliki karakter yang mudah diatur, seandainya santri banyak mengonsumsi makanan daging bisa jadi akan memiliki karakter yang keras dan pikiran yang cerdik hingga susah diatur. Walaupun santri memiliki kecerdasan akan tetapi tidak mendapatkan ridho dari guru maka kecerdasanya tidak akan bermanfaat dan tidak akan menghasilkan apa-apa.

sumber: bangsaonline.com

Mungkin karena itu pulalah sehingga banyak para guru dipesantren yang mengeluhkan tentang keadaan santrinya yang sulit di atur, tidak seperti santri pada jamannya -walaupun ada yang nakal tetapi masih gampang untuk diatur dan tetap ta’dzim kepada guru-gurunya-.

Lantas kenapa Syeh Abdul Qodir mengkonsumsi daging? Kiranya santri belumlah saatnya untuk mengkonsumsi daging karena daging lebih pantas untuk dikonsumsi oleh seseorang sekelas guru yang memiliki kemapanan dan kematangan dalam keilmuannya agar memiliki kerakter yang keras, tegas dan kuat agar dapat melindungi dan mempertahankan keilmuanya sehingga opini-opininnya tidak mudah dipengaruhi oleh serangan-serangan yang bermaksud membengkokkan, meruntuhkanya dan menyesatkannya.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: