Wahai Nabi! Betapa Munafiknya Cintaku Ini Kepadamu

Oleh: M. Nizam Ubaidillah

Aku mendengar suara sholawat tadi malam tentu dengan metodologi yang beragam pula. Aku dengar lantunan sholawat itu saling bersahutan antara satu surau dengan surau yang lain hingga terkesan tak berjarak dan terjeda. Tentu dengan cara pandang ideologi kebudayaan setiap pelantunnya masing-masing. Yang kesemuanya itu pastilah goal utamanya tak lain dan tak bukan semata-mata hanya untuk berkontribusi dalam peringatan kelahiran jasadiyah baginda rasul Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang benar-benar kita cintai secara bersama-sama maupun pribadi.

Ialah Muhammad putra Abdulah yang namanya takkan pernah lekang oleh zaman. Nama Muhammad yang harum yang selalu bersih dari tindakan korupsi ekonomi, penyelewengan hukum, yang ketika lapar masih mempunyai rasa pekewuh hingga lebih baik mengganjal perut dengan batu daripada merepotkan umat, yang lebih memilih hidup begitu sederhana disaat peluang menjadi kaya dan raja adi kuasa menghampiri kehidupannya. Sementra disini aku dalam ruang sunyi merasa gila sendiri mengenangkan sosok wajah yang bercahaya dari zaman-kezaman sembari  kudengarkan lantunan-lantunan sholawat yang kian malam kian semangat dan menggemparkan langit malam  ini.

sumber: infopublik.id

Wahai baginda kanjeng Nabi Muhammad, betapa kami mencintaimu, dan bukankah setiap cinta itu buta? Namun aku merasa malu padamu, bagaimanapun juga cintaku kepadamu tak lebih dari kadar cintamu kepada kami umatmu. Sementara cinta kami kepadamu tak lebih dari sekadar mengharap syafaatmu demi keselamatan pribadi kami. Wahai kanjeng nabi, betapa munafiknya cintaku ini kepadamu? Memang kami begitu sumringah dan begitu bergembira tatkala kami secara bersama-sama menabuh rebana, gitak kita petik, sruling kita tiup, kita ajak semua unsur untuk ikut serta bebrayan,nyempuyong, berkontribusi mencintaimu secara bersama-sama. Namun sumringah wajah kami tatkala mahalul qiyam masih kalah sumringahnya tatkala kami mendapat sertifikasi gaji tiga belas, mendapat kenaikan pangkat, untung besar dalam berdagang sekalipun itu curang dan lain sebagainya.

Keceriaanku padamu hanyalah keceriaan musiman. Sementara cintamu pada umat begitu total dan manunggal. Sungguh aku begitu malu mengaku sebagai umatmu tatkala tahiyatul akhir. Aku begitu lancang mencintaimu namun belum sanggup secara benar-benar mengikutimu, walaupun itu sekadar tidak berlaku curang pada lingkungan sosial. Umurku kini 23 tahun, itu tandanya sudah 23 tahun pula kuperingati hari kelahiranmu di dunia ini bahkan bisa jadi lebih, namun kenapa tak juga ada peningkatan kualitas mutu hidupku yang mengacu pada perilaku muliamu ini? Kenapa aku hanya jalan ditempat dan sibuk berselisih tentang kemunduran daripada melakukan inovasi-inovasi kemajuan hidup yang mandiri, jujur pada diri sendiri, menempa akhlak dan budi pekerti yang luhur manunggal dengan Tuhan seperti halnya yang telah kau contohkan selama ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: