Retorika Iblis

Oleh: M. Nur Hadi

Sangat menarik jika kita menyimak perbincangan iblis dengan Allah swt mengenai penciptaan manusia pertama. Pada percakapan itu, iblis terlihat paling agresif mengajukan berbagai pertanyaan. Iblis diilustrasikan sebagai tokoh yang banyak memberikan komentar terkait apa yang diperbuat Allah SWT. Mulai dari mengajukan pertanyaan yang tidak etis hingga akhirnya menghina ciptaan-Nya, dengan menunjukkan keengganannya untuk bersujud kepada Adam AS sebagai makhluk paling mulia di antara berbagai makhluk-Nya.

Dalam narasi yang lain, meskipun dia termasuk kelompok pembangkang, iblis juga menunjukkan sifat ketakutannya kepada Tuhan. Fakta menarik ini tercantum dalam al-Qur’an, surat al Anfal ayat 48 yang berbunyi:

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Sesungguhnya aku takut kepada Allah dan Allah sangat pedih siksanya.”

Pertanyaan pun muncul terkait apa yang membuat iblis tetap membangkang terhadap Allah swt. Sebagaimana jamak diketahui bahwa iblis berani membangkang karena keangkuhan. Ia merasa lebih mulia dari semua makhluk sehingga ketika ia diminta untuk bersujud kepada Adam AS, ia dengan keras menolak perintah itu. Tidak hanya menolak, sebagaimana  yang diuraikan ahli tafsir kesohor Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab, iblis bahkan juga menilai kekeliruan dalam penciptaan Adam AS dan kekeliruan atas perintah menyembah kepada Adam AS. Dalam pandangan iblis, tidak wajar jika yang lebih baik unsur kejadiannya (api) tunduk kepada yang lebih rendah unsur kejadiannya (tanah). Logika ini cukup menandakan bahwa iblis tidak hanya ragu dengan Tuhan tetapi juga sangat angkuh. Padahal jika kita melihat secara detail, logika kemulyaan dalam konteks keagamaan bukan dilihat dari apa ia terbuat tetapi bagaimana ia bisa lebih dekat dengan Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Prof. Dr. Quraish Shihab menarasikan dengan sangat rinci apa yang dapat mematahkan argumen iblis bahwa ia lebih mulia dari manusia. Dalam bukunya, Setan dalam al-Qur’an, Quraish Shihab mencoba mengurai logika iblis tentang kemulyaan iblis daripada manusia dari perspektif manusia, antara lain:

  1. Api Sifatnya membakar dan memusnahkan, berbeda dengan tanah yang sifatnya mengembangkan dan menjadi sumber rezeki.
  2. Api sifatnya berkobar, tidak mantap, sangat mudah diombang ambingkan oleh angin. Berbeda dengan tanah yang sifatnya mantap, tidak berubah lagi tenang.
  3. Tanah dibutuhkan oleh manusia dan binatang, sedangkan api tidak dibutuhkan oleh binatang. Bahkan manusia pun dapat hidup lebih lama tanpa api.
  4. Api walaupun ada manfaatnya, bahayanya pun tidak kecil. Bahayanya hanya dapat diatasi dengan mengurangi atau memadamkannya. Berbeda dengan tanah yang kegunaanya terdapat pada dirinya dan tanpa bahaya. Bahkan jika tanah semakin digali semakin tampak manfaat dan kegunaanya
  5. Api dapat padam oleh tanah, sedangkan tanah tidak binasa oleh api.
  6. Api berfungsi sebagai pembantu, bila dibutuhkan, ia dipanggil (dinyalakan) dan bila tidak, ia diusir (dipadamkan). Berbeda dengan tanah yang selalu dibutuhkan manusia dalam kehidupan, terutama sebagai pijakan untuk hidup di bumi.
  7. Di dalam dan pada tanah terdapat banyak hal yang bermanfaat, seperti barang tambang, sungai, mata air, pemandangan indah, dan sebagainya. Tidak demikian dengan api yang justru merupakan bagian dari tanah.
  8. Allah banyak menyebut tanah dalam kitab suci-Nya dalam konteks yang positif, sedangkan api tidak banyak disebut da kalau pun disebut, umumnya dalam konteks negatif.
sumber: youtube

Lebih lanjut, sebagai pendukung tentang sifat iblis, dalam beberapa sumber; Injil Matius, Injil Lukas, Injil Markus, dan Injil Lukas, dalam Kitab Perjanjian Baru, ditampilkan narasi pertanyaan iblis kepada Allah swt dengan cukup menarik. Sebagaimana dikutip oleh Syekh asy-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal. Teolog dan pakar perbandingan madzhab agama itu mengilustrasikan iblis yang mempertanyakan keadaannya sambil mengadu kepada malaikat. Narasi pertaanyaan itu kurang lebih terangkum seperti berikut ini:

“Aku mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan Tuhan seluruh makhluk. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa -kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya tidak terbatas dan tidak ada yang dapat menghalangi-Nya. Apabila dia menghendaki sesuatu cukup berfirman ‘Jadilah, maka terjadilah’. Dia Yang Maha Bijaksana, tetapi ada sekian pertanyaan yang tertuju kepada kebijaksanan-Nya”, kata iblis.

Karena kebijaksanaan-Nya Iblis, mengemukaan tujuh pertanyaan:

“Pertama: Dia Maha Tahu sebelum Dia menciptakan aku dan mengetahui apa yang akan kuperbuat seta akibat dari perbuatanku. Tetapi, mengapa Dia masih menciptakan aku dan apa hikmahnya menciptakan aku?

Kedua: Allah telah menciptakan diriku sesuai dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, tetapi mengapa aku masih diperintahkan untuk mengenal dan mentaati-Nya. Apa hikmahnya tugas ini, sedangkan jika hal itu kulakukan sebenarnya tidak berguna bagi-Nya dan jika kutinggalkan Dia juga tidak merugi?

Ketiga: Dia telah menugaskan kepadaku aneka tugas dan telah kupenuhi atas asas pengetahuan serta ketaatan. Maka, mengapa Dia menugaskan aku lagi untuk bersujud kepada Adam?

Keempat: kalaupun Dia telah menugaskan kepadaku secara mutlak dan menugaskan secara khusus untuk sujud kepada Adam, mengapa Dia mengutuk dan mengusirku dari surga, padahal aku tidak melakukan sesuatu, kecuali berkata: Aku tidak akan sujud, kepadamu.

Kelima: kalaupun Dia menugaskan aku secara mutlak dan secara khusus, dan sebagai akibatnya aku dikutuk dan diusir-Nya dari surga, mengapa Dia memberiku kesempatan untuk mengggoda Adam sehingga ia pun terpaksa keluar dari surga? Bukankah lebih baik Dia tidak memperkenankan aku menggodanya sehingga Adam dapat dengan tenang hidup di surga tanpa terganggu olehku?

Keenam: kalaupun Dia telah mengusir aku dari surga dan tercipta permusuhan antara aku dan Adam, mengapa pula Dia menganugerahkan kepadaku kemampuan untuk menggoda anak cucunya? Aku dapat melihat mereka, sedangkan mereka tidak dapat melihatku. Aku dapat memengaruhi mereka dengan bisikan-bisikanku, sedangakn kekuatan dan kemampuan mereka tidak memengaruhiku. Bukankah membiarkan anak cucu Adam itu hidup dalam kesucian, sebagaimana keadan mereka ketika lahir, lebih baik buat mereka?

Ketujuh: Kalau semua itu harus terjadi, mengapa Dia memenuhi permohonanku untuk hidup sampai waktu tertentu (Kiamat)? Bukankah lebih baik jika permohonan itu ditolaknya sehingga di dunia ini diliputi oleh kebaikan dan keharmonisan?”

Setelah mendengar alasan-alasan yang dikemukakan iblis itu -masih dalam penjelasan syekh asy-Syarhastani-, Allah berfirman  kepada para malaikat:

“Engkau berbohong dan tidak tulus berkata bahwa engkau berserah diri kepada-Ku. Kalau engkau benar dan jujur dalam ucapan bahwa Aku adalah Tuhan seluruh makhluk, pastilah engkau tidak akan mengatakan “mengapa. Bukankah Aku Tuhan yang Tiada Tuhan selain Aku? Tidak dipertanyakan apa yang Aku lakukan, sedangkan semua makhluk akan diminta pertanggungjawabannya.”

Dari narasi di atas, nampaknya kita dapat memahami bahwa untuk menjadi hamba Tuhan yang baik dan taat tidak perlu menyakan tentang banyak hal yang menjadi kewajiban kita. Justru, semakin banyak mempertanyakan apa yang diperintah semakin menunjukkan bahwa kita ragu dengan kapabilitas yang memerintah. Bukankah Tuhan sudah tahu dan lebih tahu apa yang paling terbaik untuk hamba-Nya.

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: