Tak Ada yang Sia-sia, Begitupun Abu Jahal

Oleh : Mahrus Afandi

Semua makhluk yang diciptakan oleh Tuhan mempunyai keistimewaan atau lebih tepatnya hikmah penciptaanNya masing-masing. Hingga keberadaan Abu Jahal sekalipun juga mempunyai hikmah tersendiri. Ia termasuk orang yang religious, tentunya dalam pendefinisian agama menurut mereka yang menghendaki keberadaan banyaknya agama, jika kita alihkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami. Hal itu terbukti saat sebelum berangkat ke medan Badr, ia bersumpah di depan Ka’bah dan disaksikan oleh hampir seluruh pembesar suku pendukungnya. “Ya Tuhan, tunjukkan kepada kami semua tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Saksikanlah wahai para pembesar Quraisy, barangsiapa yang berdiri di atas kebenaran, ia akan memperoleh kemenangan di Badr. Dan barangsiapa yang berdiri di atas kebathilan, ia akan menerima kekalahan di Badr.” Saduran perkataan itu menandaskan bahwa Abu Jahal adalah seorang yang religious. Akan tetapi beragama tidaklah cukup, butuh bertuhan untuk menjadikannya cukup.

Martin Benson (kanan) saat memerankan tokoh Abu Jahal dalam film The Message (sumber: http://www.imdb.co)

Berkat sumpah Abu Jahal tersebut, kebenaran Islam terkuak. Abu Jahal mati di medan Badr, sedangkan Nabi Muhammad SAW dianugerahi kemenangan. Tuhan menghendaki sumpah Abu Jahal, yang haqlah yang menang dan yang bathil binasa. Sejak saat itu, muncul ketertarikan dari beberapa pendukung Abu Jahal yang menyaksikan ikrar sumpah itu terhadap Islam. Jangan-jangan Islamlah yang benar. Sehingga mulai ada banyak yang masuk Islam dan menjadikan posisi Islam dan kaum kafir nyaris seimbang. Pola negosiasi dengan kaum kafirpun diubah dengan perjanjian, bukan dengan agitasi. Hal ini menandakan telah ada legitimasi terhadap keberadaan umat Islam di tengah-tengah kaum kafir.

Melalui peristiwa ini, Tuhan membuktikan bahwa keberadaan makhluk Tuhan yang dilaqobi Abu Jahal itu pun  juga punya “guna” bagi agama yang diridhoi oleh Tuhan. Sungguh memang tak ada yang sia-sia dari semua yang Tuhan ciptakan.

Keyakinan yang haq tentang ketidak sia-siaan ciptaan Tuhan wajib dimiliki oleh semua makhluk yang masih mengakui dirinya sebagai hamba-Nya. Semua makhluk-Nya mempunyai keistimewaan, keunikan, atau “guna”nya sendiri-sendiri. Usaha yang harus kita tempuh adalah mencari tahu keistimewaan, keunikan, atau “guna”nya itu, agar jangan sampai terlintas kerentak dalam diri kita bahwa ada makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan sia-sia. Pertanyaan tentang siapakah kita hingga kita berani menganggap ada ciptaanNya yang sia-sia, wajib untuk disodorkan kepada setiap makhluk yang masih mengakui dirinya sebagai hamba-Nya. Meskipun sejujurnya, kata “siapa” itu sia-sia digunakan untuk dipertanyakan kepada makhluk-Nya, karena mereka semua bukanlah siapa-siapa, tidak ada.

One thought on “Tak Ada yang Sia-sia, Begitupun Abu Jahal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: