Tamu Itu Bernama Kematian

oleh: M. Nur Hadi

Salah satu topik menarik dibalik tingginya sastra al-Quran adalah topik tentang “tamu terakhir”. Berbincang tentang istilah tamu, akan muncul di benak kita tentang siapakah tamu yang akan datang berkunjung kepada kita. Apakah ia tamu yang kita harapkan atau justru kedatangannya sangat tidak diharapkan. Jika memang ia adalah tamu yang diharapkan, tentu kita akan berharap terhadap apa yang ia bawa. Berbeda halnya dengan tamu yang sangat tidak kita harapkan, jangankan berharap apa yang ia bawa, kedatangannya pun tidak pernah kita inginkan.

Merupakan sifat manusiawi jika hampir seluruh manusia di dunia ini tidak mengharapkan kedatangan tamu terakhir bernama  kematian. Suasana dan rasa yang mencekam, yang banyak diceritakan di teks-teks keagamaan merupakan bukti bahwa kedatangannya merupakan hal yang sangat mencekam bagi umat manusia. Yang lebih mengherankan lagi adalah ia tidak pernah sama sekali mengkonfirmasi kedatangannya. Jangankan konfirmasi hari kedatangan, tahun kedatanganpun tidak pernah ia konfirmasikan.

sumber: dream.co.id

Terkait keengganan manusia itu, al-Qur’an menyuguhkan konteks topik kematian itu dengan susunan kalimat yang luar biasa. Di dalam al-Qur’an, istilah dikenal dengan istilah kematian yang menggunakan lafadz   الْمَوْتُ . Dalam menceritakan kematian, semua ayat yang membahas tentang kematian selalau memposisikan lafadz الْمَوْتُ sebagai fa’il (pelaku). Uniknya, posisi lafadz الْمَوْتُ yang berkedudukan sebagai fa’il dalam semua ayat yang membahas tentang kematian selalu berada setelah maf’ul bih. Berikut beberapa potongan ayat-ayat yang memposisikan lafadz الْمَوْتُ sebagai fa’il.

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ..   

(Surat al baqarah ayat 133)

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ……..

(Surat al baqarah ayat 188)

…. حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ……

(Surat an-Nisa’ ayat 18)

Beberapa ayat lain yang juga memposisikan lafadz الْمَوْتُ sebagai fail yang selalu jatuh setelah maf’ul yaitu surat an-Nisa’ ayat 87, surat l-An’am ayat 61, surat al-Mu’minun ayat 99, surat al-Munafiqun ayat 10, dan suart al-Jumu’ah ayat 8.

Syekh al Khalidi, dalam kitabnya -Lathaif Qur’aniyyah- menjelaskan lebih detail tentang keunikan yang dimiliki jenis ayat-ayat tersebut. Pengakhiran fa’il tersebut merupakan bukti bahwa manusia pada dasarnya tidak menginginkan kematian datang dengan cepat. Mereka berharap datangnya kematian dapat ditunda. Bahkan mereka sangat tidak mengharapkan kedatangannya selamanya. Inilah sifat dasar manusia terhadap kematian. Untuk itulah, Alqur’an memberikan informasi sesuai dengan tabiat dasar manusia.

4 thoughts on “Tamu Itu Bernama Kematian

  • June 30, 2018 at 2:50 am
    Permalink

    Kita harus mempersiapkan diri kita dengan memperbanyak shadaqah dan beribadah kepada Allah SWT., karena kita tidak tau kapan ‘Tamu Terakhir’ itu akan mendatangi kita

    Reply
  • September 9, 2018 at 8:12 am
    Permalink

    Wah seram yah ,makanya kita harus mempersiapkan bekal sebelum ajal menjemput

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: