Romansa Pegon, Jawi hingga Arab-Melayu

Oleh: Rofi’atul Mukaromah

Ada pemandangan berbeda saat penulis mulai memasuki kota Pattani, sebuah provinsi di Thailand bagian selatan. Cengkrama ria pelajar dengan seragam selutut layaknya Nam dan Pi Shone tak lagi nampak. Huruf Kokai yang mirip honocoroko pun mulai jarang terlihat. Tergantikan dengan wanita-wanita berkerudung lebar bahkan bercadar, rumah panggung berlafadz bismillahirrahmaanirrahiim dalam huruf hijaiyyah, baleho Al Habib Umar bin Hafidz, dan penunjuk jalan dengan tulisan Arab namun tidak berbahasa Arab. Benar, semacam Pegon.

Lima bulan tinggal di Thailand Selatan sebagai Duta Perguruan Tinggi Indonesia telah memberikan penulis cukup pengalaman tentang budaya literasi di bekas kerajaan Fathoni Darussalam ini. Adalah hal mengejutkan saat mengetahui bahwa masyarakat Melayu Pattani ternyata lebih mahir baca tulis aksara Jawi (atau Pegon, kaum santri Indonesia menyebutnya) daripada tulisan Kokai maupun Rumi. Aksara Jawi yang identik dengan budaya islam dan pesantren itu tidak hanya digunakan dalam kitab-kitab pelajaran agama semata. Lebih umum, mereka menggunakan aksara Jawi dalam kemasan produk makanan, penunjuk jalan, warning , pengumuman dan ucapan selamat baik di pinggir jalan, masjid, dan mall sekalipun.

Kitab penawar bagi hati ini dipelajari oleh para pelajar di Thailand (sumber: dokumen pribadi)

Sama halnya dengan Pegon, aksara Jawi pun menggunakan alif untuk A, ba’ untuk b, jim bertitik tiga untuk c, dan seterusnya. Bukannya harakat, tulisan Jawi sebagaimana Pegon menggunakan tambahan alif untuk suara /a/, ya’ untuk /i/, dan wawu untuk /u/. Perbedaan antara Arab Jawi dan Pegon hanya terletak pada bahasa yang ditransliterasikan. Pegon berbahasa Jawa atau Sunda sedangkan tulisan Jawi berbahasa Melayu. Sedikit perbedaan juga tampak pada teknis peletakan tiga titik yang dibubuhkan untuk membuat suara “ny”. Tulisan Pegon meletakkan tiga titik di bawah ya’, sedangkan Jawi di atasnya. Selain Arab Pegon dan Jawi, istilah Arab-Melayu juga muncul sebagai sebutan untuk aksara Arab berbahasa Melayu Indonesia yang dijumpai di sebagian besar kota-kota bekas kerajaan islam di Sumatra.

Terdapat perbedaan pendapat terkait siapa yang pertama kali menggunakan huruf Hijaiyyah sebagai transliterasi baik bahasa Jawa, Indonesia, maupun Melayu. Dikutip dari laman NU Online, dalam sebuah catatan disebutkan bahwa kemungkinan transliterasi huruf Arab untuk bahasa lokal mulai muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Sedangkan menurut literartur lain disebutkan bahwa penggagas transliterasi tersebut adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Ada pula sebuah pendapat yang menyatakan bahwa Imam Nawawi Al-Bantani adalah pencetus penggunaan huruf Arab sebagai media tulis menulis bahasa Jawa. Namun ketiga hipotesa tersebut terbantahkan seiring dengan ditemukannya sebuah prasasti berpahatkan tulisan Arab-Melayu yang bertarikh Jum’at 4 Rajab 702 Hijriyah atau bersamaan dengan 22 Februari 1303 Masehi pada tahun 1899 di Trengganu, Malaysia.

Tulisan-tulisan di tempat umum seperti supermarket juga dipenuhi tulisan pegon berbahasa melayu yang dipadupadankan dengan tulisan kokai (sumber: dokumen pribadi)

Secara umum, tulisan Pegon, Jawi, dan Arab Melayu berakar pada prinsip akulturasi yang sama. Yakni, percampuran antara budaya literasi islam (huruf Hijaiyyah) dengan budaya kebahasaan lokal. Alih-alih mengganti budaya tulis menulis masyarakat nuswantara yang kala itu menggunakan huruf kawi dan aksara Jawa menjadi seratus persen huruf Arab dan berbahasa Arab, para ulama penyebar islam di nusantara dengan kearifannya lebih memilih untuk mengadopsi bahasa lokal lalu mengawinkannya dengan huruf Hijaiyyah sebagai budaya keislaman. Akulturasi dua budaya ini lalu membentuk sebuah corak khazanah peradaban islam khas nusantara yang tidak hanya berguna bagi penyebaran islam, namun juga berguna bagi kemajuan peradaban nusantara.

Jejak kemajuan peradaban islam nusantara dalam hal kesusastraan dapat ditilik dari banyaknya kitab-kitab berhuruf Arab namun berbahasa jawa dan melayu yang hingga kini masih relevan digunakan sebagai bahan pembelajaran. Tarjumanul Mustafid karya Syekh Abdul Rauf Singkili (tafsir Alqur’an berbahasa melayu) dan Tasfir Al-Ibriz (tafsir Alqur’an berbahasa Jawa) karya KH. Bisri Mustofa merupakan dua dari ribuan mahakarya produk akulturasi literasi islam dan bahasa nusantara. Selain itu, beberapa manuskrip yang kini disimpan di The British Library, Bodleian Library (University of Oxford) dan University of London menunjukkan bahwa sudah sejak ribuan tahun lalu peradaban islam nusantara mengalami kemajuan. Bukan hanya dimuseumkan, bahkan. Karena keunikannya, produk akulturasi budaya Arab dan nusantara ini malah pernah dan masih menjadi  program studi di Cornell University (Amerika), Tokyo University of Foreign Studies (Jepang), University of Leiden (Belanda), University of London (Inggris), Hamburg University (Jerman), bahkan Saint Petersburg State University (Russia).

Dewasa ini, huruf Jawi dan Arab Melayu masih marak digunakan di Malaysia dan tiga provinsi Thailand selatan baik di tempat umum maupun dalam  pembelajaran agama. Sedangkan penggunaan huruf arab pegon di Indonesia terbatas hanya pada kalangan pesantren. Memprihatinkan, saat menyadari bahwa produk akulturasi budaya dan agama yang eksistensnya diakui oleh universitas dunia ternyata malah terpojokkan di negara asalnya.

One thought on “Romansa Pegon, Jawi hingga Arab-Melayu

  • December 21, 2017 at 2:37 pm
    Permalink

    Provinsi NAD juga menerapkan aksara Jawi (nusantara) lho

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: