Al-Qur’an Tuhan dan Al-Qur’an Manusia

Oleh: Mahrus Afandi

Sejujurnya, kita semua tidak bisa memahami Al-Qur’an. Karena pada hakikatnya, Al-Qur’an yang qodim tidaklah berhuruf dan tidak pula bersuara. Akan tetapi, gusti Allah yang Maha Pengasih ingin mengajari kita. Ini akan mudah dipahami jika kita mau merenungkan analogi berikut ini; sapi yang dipakai untuk membajak sawah itu tidaklah bisa paham bahasa normal manusia, akan tetapi kita, sebagai orang yang berniat menggunakannya untuk mempermudah pekerjaan kita dalam membajak sawah, menginginkan agar sapi itu paham atas kemauan kita.

Oleh karena itu kita berkata, “has, hus his, ckckck, heh…” seakan-akan kita berbicara dengan menggunakan bahasa sapi. Kita menurunkan kebahasaan kita menjadi bahasa sapi, bahasa yang bukan bahasa kita, demi membuat sapi itu paham atas kemauan kita. Sebagai bentuk kasih sayangnya Gusti Allah kepada kita, Ia membahasakan Al-Qur’an yang pada hakikatnya tak bersuara dan tak berhuruf yang mempunyai sifat qodim itu dengan bahasa manusia berupa bahasa Arab. Dari sini bisa kita asumsikan bahwa seharusnya kita menyadari ada dikotomi antara Al-Qur’an yang tak bersuara dan tak berhuruf itu dengan Al-Qur’an yang telah diwujudkan dengan berbahasa Arab. Akan tetapi, dikotomi ini tidak mengimplikasikan adanya perbedaan antara substansi kebenaran absolut yang dikandungnya.

Gagasan tentang dikotomi Al-Qur’an tersebut sama dengan gagasan dikotomi Islam Tuhan dan Islam Manusia. Dengan adanya gagasan yang demikian —jika kita memahaminya dengan baik— kita akan mampu untuk menyikapi dengan bijak setiap kesimpulan atau interpretasi orang lain tentang agama ini. Jika ada orang yang terlihat salah dalam menginterpretasikan agama ini, kita berkewajiban untuk membenarkannya, tanpa melontarkan cacian dan makian kepadanya. Begitu juga sebaliknya, ketika kesalahan itu ada pada diri kita.

sumber: Okezone Lifestyle

Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi berkata, bagi manusia, kebenaran bak cermin yang jatuh kemudian pecah. Ada —mungkin— banyak orang yang menemukan sebongkah atau bahkan hanya serpihan pecahan cermin itu kemudian menjadi angkuh terhadap orang lain yang menemukan bagian lain pecahan cermin itu, yang sebenarnya serpihan atau bongkahan itu merupakan satu entitas yang terpisah. Ada juga beberapa orang yang tatkala menemukan serpihan pecahan cermin itu ia lanjutkan dengan telaten mencari dan terus mencari serpihan lain yang menjadi bagian lain cermin pecah itu. Mereka sadar yang sementara mereka temukan hanyalah serpihan pecahan kaca, yang tak mampu merefleksi pantulan kebenaran yang sesungguhnya secara utuh. Oleh karena itu, mereka terus telaten mencari serpihan lain dari pecahan itu. Dengan rutin mereka menyampaikan apa yang mereka temukan, sekaligus berharap temuan mereka akan diketahui oleh publik sehingga mereka mendapatkan feedback berupa koreksi dari orang-orang yang memiliki serpihan kaca yang lebih lebar atau besar, dan juga afirmasi bagi kebenaran yang sementara ia temukan.

Akan tetapi, tidak jarang para penemu itu mendapati cercaan dari mereka yang merasa angkuh disebabkan oleh perolehan mereka akan serpihan cermin, yang terlanjur mereka anggap sebagai temuan paling representatif mewakili sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran paling benar. Akibat dari rasa angkuh itu, mereka mencaci maki pihak lain yang mempunyai serpihan pecahan cermin yang bentuknya berbeda dengan yang mereka temukan, padahal serpihan-serpihan itu merupakan satu entitas yang sama berasal dari Yang Maha benar.

Dikotomi antara Islam & Al-Qur’an Tuhan, Islam & Al-Qur’an Manusia menawarkan kepada khalayak ramai tentang bagaimana seharusnya gradasi kebenaran yang dimiliki oleh berbagai macam kepala bisa disikapi secara bijak. Dengan adanya dikotomi antara Islam & Al-Qur’an Tuhan dan Islam & Al-Qur’an Manusia, kita akan bisa menerima penjelasan tentang kebenaran mutlak Wahyu Tuhan yang akan menjadi kebenaran relatif ketika sudah diturunkan pada konteks kemanusiaan, karena disebabkan oleh interpretasi makhluk Tuhan —yang tak luput dari salah dan lupa—terhadap wahyu Tuhan yang pada hakikatnya merupakan kebenarannya absolut.

sumber: flickr.com

Absolut dan Relatif
Secara kasat mata ada pembatas yang digariskan di antara Islam & Al-Qur’an Tuhan dan Islam & Al-Qur’an Manusia. Islam & Al-Qur’an Tuhan merupakan sesuatu yang sudah absolut kebenarannya, karena ia datang dari sisi Yang menjadi asal kebenaran itu sendiri. Dengan kata lain, hasil penafsiran manusia tidak bisa dijadikan sebagai legitimasi untuk menyalahkan Islam & Al-Qur’an versi Tuhan yang memang absolut kebenarannya, karena Islam & Al-Qur’an —yang diinterpretasikan oleh— manusia sifatnya relatif, setiap kepala manusia mempunyai perbedaan akan tafsirannya, tafsiran saya benar, tapi tafsiran orang lain yang saya anggap salah mungkin mengandung kebenaran.

Perbedaan penafsiran itu tidak seharusnya mengakibatkan kita menjadi bergairah menyalahkan pihak yang kita anggap salah dengan cemoohan, apalagi dengan bertindak intoleran. Ibarat orang yang mencari jalan, orang yang salah dalam penafsiran bak orang yang sedang tersesat atau sedang menemui jalan buntu dalam perjalanannya, ia tidak akan seketika menjadi tahu arah jalan yang benar apabila kita hanya menuding bahkan meneriakinya “Kamu salah, kamu tersesat.” Oleh karena itu, hadist Kanjeng Nabi yang berisi vonis berupa tempat di neraka terhadap orang yang menafsirkan Al-Qur’an hanya dengan (sesuka) akal pikirannya merupakan hadist yang hendaknya ditujukan kepada diri sendiri agar kita selalu mewanti-wanti diri kita agar tidak menafsirkan Al-Qur’an seenaknya sendiri, bukan malah menjadi tambahan legitimasi bagi kita untuk memvonis neraka terhadap saudara kita. Seperti orang yang tersesat di jalanan tadi, orang yang kita vonis bakal masuk neraka itu tidak menjadi spontan tahu mana penafsiran yang benar apabila kita hanya meneriakinya sesat, kafir, atau bahkan masuk neraka, apalagi dengan cara monolog, tanpa kita bersedia untuk berdialog.

Alhasil, dikotomi antara Islam & Al-Qur’an Tuhan dan Islam & Al-Qur’an manusia ini bisa dijadikan sebagai pengingat bagi orang yang terbiasa memvonis saudaranya kafir dan bertindak intoleran terhadap saudaranya bahwa ada Islam & Al-Quran Tuhan yang sifatnya absolut dan juga Islam & Al-Qur’an manusia yang berada pada posisi masih terus mengira-ngira agar bisa compatible terhadap kemauan Yang Maha Benar.

Selain itu, dikotomi ini juga memudahkan kita untuk menjawab kritikan orang di luar sana yang terlanjur kecewa atas tindakan atau perilaku umat Islam yang dinilai buruk hingga memunculkan kebencian dalam diri mereka terhadap Islam. Kebencian terhadap Islam yang disebabkan oleh pengetahuan mereka akan tindakan atau perilaku buruk umat Islam itu tidak akan muncul apabila dikotomi antara Islam & Al-Quran Tuhan dan Islam & Al-Quran manusia dipahami dengan baik. Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rowi dalam Al-Jihad fil Islam, mengungkapkan bahwa orang yang berpikir jernih adalah orang yang memisahkan aqidah dengan perilaku atau tindakan orang yang menganut aqidah tersebut.

Karena adakalanya orang tersebut—meminjam istilah Peter L. Berger—masih berada pada tahap objektivasi, atau bahkan masih eksternalisasi, alias belum menginternalisasi secara baik nilai-nilai luhur dari aqidah yang ia anut. Di situlah tugas saudara-saudara yang se-aqidah dengan orang tersebut agar mereka mau membenarkan pemahaman orang tersebut, supaya ia bisa memahami aqidah yang ia anut dengan baik, sehingga tidak ada lagi prejudice buruk yang diarahkan kepada aqidah tersebut hanya karena stereotype yang dihasilkan dari pengamatan orang lain di luar sana terhadap tingkah seseorang atau segolongan penganut aqidah tersebut yang belum menginternalisasi nilai-nilai luhur dalam aqidah itu. Sekali lagi, kemauan untuk mengoreksi yang seharusnya dilakukan oleh saudara-saudara yang se-aqidah itu hanya akan terwujud apabila mereka tidak buru-buru memvonis orang dari golongan mereka yang masih belum berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur yang mereka anut, dengan vonis sesat, kafir, atau bahkan halal darahnya.

2 thoughts on “Al-Qur’an Tuhan dan Al-Qur’an Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: