(Re)Konstruksi Civil Society

Oleh: Mahrus Afandi

Aksi terorisme yang terjadi di Masjid Ar-Raudloh, Bir Al-Abd, Sinai Utara, Mesir merupakan bukti laten yang sudah seharusnya mengingatkan pikiran kita tentang ancaman para teroris yang bisa saja sewaktu-waktu timbul di tengah-tengah kita. Tidak cuma di tempat-tempat wisata atau hiburan, masjid pun tidak luput dari kebrutalan para teroris. Mereka tidak segan membombardir umat Islam yang melakukan sholat Jum’at, hingga menghasilkan 305 orang meninggal dunia, termasuk 27 korban dari anak-anak, dan ratusan korban lainnya luka-luka seperti yang dilansir dari Kompas, (05/12/2017).

Pertanyaannya sekarang apa yang mendorong para teroris yang mengaku “berjihad” itu segan untuk membombardir masjid, tempat ibadah umat Islam? Patut untuk diketahui, selama setahun belakang ini, kaum ekstremis Sinai sangat getol menganggap thoghut, syirik, mengkafirkan komunitas sufi. Dalam kasus ini, tarekat Al-Jaririyah yang berada di Bir Al-Abd adalah target utama mereka. Menurut kaum ekstrimis, pengikut tarekat ini wajib untuk dibunuh.

Anggapan yang berisi tentang keyakinan bahwa hanya dirinya lah yang benar sendiri, hingga pada akhirnya mendorongnya untuk bertindak intoleran kepada sesama makhluk merupakan persoalan serius yang harus ditangani dalam suatu masyarakat. Anggapan seseorang yang mengklaim saudaranya salah hingga mendorongnya untuk menghalalkan dirinya untuk memersekusi saudaranya yang ia anggap salah dengan seenaknya sendiri–seperti yang dilakukan oleh para teroris–merupakan tindakan yang mencerminkan manusia yang tidak mempunyai peradaban yang luhur.

Salah satu indikator yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keluhuran martabat suatu peradaban adalah jumlah ketiadaan penindasan terhadap individu atau suatu golongan dalam suatu group atau masyarakat tersebut oleh individu atau suatu golongan yang lain. Semakin kecil jumlah penindasan–baik fisik, psikis, verbal, atau bentuk penindasan lainnya–yang terjadi dalam suatu masyarakat, maka semakin tinggi martabat peradaban masyarakat tersebut. Masyarakat yang no oppression itulah yang disebut sebagai civil society.

sumber: http://kashmirpatriot.com

Usaha untuk membuat civil society adalah usaha tentang menciptakan masyarakat yang tiap individu di dalamnya paham tentang hak-hak dirinya, sekaligus—dalam waktu yang sama—paham tentang hak-hak orang lain. Semua anggota masyarakat yang secara kualitas berstatus sebagai civil society paham bahwa setiap individu—tidak peduli apakah ia dari keluarga yang berada atau tidak—mempunyai hak yang sifatnya natural bawaan. Seperti hak untuk hidup, hak untuk berkeyakinan, hak untuk memiliki property, hak untuk berbicara, hak untuk ber-liberty, dan lain sebagainya.

Khusus yang terakhir, dikarenakan setiap individu dalam suatu masyarakat—atau mungkin lebih tepatnya: di dunia ini—mempunyai hak kebebasan, maka kebebasan yang dimiliki oleh seorang individu dibatasi oleh kebebasan yang dimiliki oleh orang lain. Dengan kata lain, ia boleh melakukan apa saja, asalkan tindakannya itu tidak merugikan orang lain. Sekali ia melanggar hal itu, berarti ia tergolong telah melanggar kebebasan orang lain.

Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang absurd apabila ada seseorang yang berbicara lantang tentang “penindasan” yang ia klaim dilakukan oleh pihak lain, sementara ia sendiri dalam setiap gerak-geriknya tidak mengindahkan hak orang lain di sekelilingnya, yang terdekat dengan dirinya, dengan bertingkah seenaknya sendiri terhadap orang-orang di sekelilingnya. Ia mengaku memperjuangkan sesuatu yang ia anggap civil society, sedangkan dirinya sendiri masih belum civilized, alias belum berperadaban.

Sejarah memang membuktikan bahwa orang yang mempunyai pengalaman langsunglah yang memiliki inisiatif untuk berjuang melawan sesuatu yang ia anggap salah, seperti dalam hal civil society ini. Mulai dari Aristotle, Thomas Hobbes, John Locke, hingga orang macam Karl Marx, Anthonio Gramsci, juga Juergen Habermass, mereka semua pernah berbicara tentang tema-tema yang berhubungan dengan persoalan civil society karena mereka pernah mengalami kondisi yang menjadi kebalikan dari civil society.

John Locke misalkan, ia meluangkan waktunya untuk menyusun buku Two Treatise of Government dalam rangka menjawab sekaligus menolak argumen yang diajukan oleh Sir Robert Filmer yang berpendapat bahwa semua manusia tidak mempunyai hak apa pun dalam hidupnya. Hanya kerajaan lah yang mempunyai hak untuk menentukan apa saja hak yang melekat pada seorang individu.

Oleh Locke, pendapat ini ditolak. Ia menyatakan bahwa setiap individu mempunyai natural right yang memang seharusnya menjadi haknya yang harus dihormati oleh individu yang lain. Seorang individu tidak bisa memperluas haknya apabila hal itu memiliki resiko berupa terciptanya gangguan pada hak asasi yang dimiliki oleh individu yang lain. Penguasa seharusnya mengambil peran sebagai wasit yang mengatur dan menganulir setiap pelanggaran hak yang dilakukan oleh satu pihak terhadap pihak yang lain.

Sumber: www.afdb.org

Pejuang Civil Society

Pertanyaannya sekarang, apakah hanya pihak yang sedang memegang kekuasaan yang dibebani kewajiban untuk mengambil peran itu dalam penciptaan civil society ? Tentu tidak. Karena pihak yang sedang memegang kekuasaan juga merupakan manusia yang juga mempunyai hak yang melekat dalam dirinya, sekaligus mempunyai kepentingan dan potensi untuk melupakan hak yang dimiliki oleh pihak lain ketika ia tidak dikontrol.

Dengan kata lain, kita tidak bisa menyandarkan begitu saja urusan penciptaan civil society kepada pihak penguasa semata. Akan tetapi, semua individu dalam suatu group—atau negara, secara luasnya—harus terlibat secara aktif dalam upaya mewujudkan civil society. Semua gerakan separatisme, ekstrimisme, radikalisme, terorisme, atau apapun namanya pasti dilatar belakangi oleh faktor sosial ekonomi berupa kesenjangan.

Kasus di Sinai adalah buktinya. Kawasan tersebut adalah kawasan yang tidak terlalu mendapat perhatian dari pemerintah Mesir, hingga kawasan tersebut menjadi kawasan yang miskin. Hal itulah yang juga menjadi tambahan legitimasi bagi para teroris atau golongan anarkis lainnya untuk berani bertindak makar kepada pemerintah. Dari sini menjadi masuk akal mengapa saudara-saudara kita yang selama ini ingin memisahkan diri dari Indonesia, seperti di Papua, tetap bersikukuh dan bahkan mereka tidak gentar jika mereka berhadapan langsung dengan aparat keamanan negara.

Oleh karena itu, negara harus peka terhadap kondisi semua rakyatnya. Keadilan hak-hak sosial, ekonomi, politik dari setiap warganya harus selalu dijamin keberadaannya. Dari sini, dialog antar elemen penyusun negara harus diupayakan. Baik itu dari bawah, tengah, juga atas. Mereka semua harus diberi kesempatan untuk saling bertukar argumen tentang mana yang terbaik untuk kemaslahatan masyarakat. Demi menjamin adanya hasil yang positif dari upaya dialog ini—meminjam istilah Juergen Habermas, masing-masing individu dalam suatu masyarakat harus meluangkan waktunya untuk merenung, menjadi introvert, menjaga jarak antar individu yang lain. Karena jarak itulah yang akan membantu pikiran kita untuk menjaga kejernihannya dalam menilai benar-salah dari suatu perkara.

Misalkan, ketika para demonstran terlibat dalam aksi demonstrasi, para demonstran tersebut berteriak dengan penuh percaya diri, dan cenderung tanpa rasa peduli apakah kata-kata yang mereka utarakan dengan berteriak itu adalah benar atau salah. Berbeda dengan orang yang berada di seberang jalan sana, yang menonton aksi demonstrasi itu. Ia akan mampu mengoreksi setiap kata yang diteriakkan oleh para demonstran dengan lebih mudah. Perbedaan kemampuan dalam mengoreksi itu terjadi disebabkan oleh perbedaan jarak antara aksi demonstrasi itu, para demonstran, juga orang yang menonton di seberang jalan. Dikarenakan ketiadaan jarak antara aksi demonstran dan para demonstran, seakan-akan sama sekali tidak ada  yang salah dari setiap kata para demonstran—menurut pemahaman mereka—dalam aksi itu.

Tentu situasi seperti itu tidak baik bagi diri kita, karena kita seakan dibutakan oleh ketiadaan jarak yang menyebabkan diri kita tidak peduli terhadap nilai yang seharusnya kita perhatikan dalam mengambil tindakan. Oleh karena itu, menjadi introvert dianggap penting. Lalu apa makna introvert ? Introvert di sini merujuk kepada orang yang suka merenung agar dirinya tidak terjebak dalam bias benar-salah disebabkan oleh ketiadaan jarak yang—dalam istilah Juergen Habermas—dapat menghalangi kejernihan self-reflection.

Apabila kejernihan self-reflection itu bisa ditempuh, maka seseorang akan menemukan dorongan untuk beremansipasi, emancipation. Tidak cukup di situ, seseorang perlu mengadakan communication, karena yang tahu tentang mana yang benar dan mana yang salah –tentunya menurut hasil refleksi itu—merupakan diri orang yang melakukan refleksi tersebut. Oleh karena itu, Ia perlu untuk mengkomunikasikannya demi memastikan apakah perlu diadakan koreksi dari hasil refleksi itu atau ia akan mendapat afirmasi dari para komunikan.

Hasil dari koreksi maupun afirmasi itu bukan soal baik dan buruk yang menimbulkan dikotomi gagal dan sukses. Semuanya akan mengantarkan komunikator dan juga  para komunikan kepada yang lebih benar. Semua proses itu—mulai dari refleksi hingga komunikasi yang melahirkan koreksi dan/atau refleksi—bisa dicapai apabila ada healthy public space, ruang publik yang sehat. Sebaliknya, jika ruang publik yang sehat itu tidak ada, maka yang ada adalah bullying atau prejudice kepada mereka yang dianggap sebagai suara minoritas.

Jika memang kita semua mengaku sebagai pejuang civil society, kita wajib menjadi pribadi yang tabah menghadapi kemungkinan di-bully, jika memang ruang publik kita tergolong tidak sehat atau tidak kondusif. Mungkin itulah jihad yang sebenarnya pada saat ini, merenungkan tentang bagaimana seharusnya yang benar, mengkomunikasikannya kepada masyarakat, mendapat koreksi guna membenarkan perkara yang terlanjur dianggap benar, hingga mendapat afirmasi tentang keyakinan yang benar, semua itu demi menghindarkan diri dan masyarakat dari perkara-perkara yang dianggap sebagai kemungkaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: