Resonansi Kyai dan Santri

Oleh : Wandi Anwas (anggota tim redaksi Nun Media)

Pondok Pesantren terbentuk dari beberapa elemen dasar. Elemen–elemen dasar pondok pesantren meliputi pondok atau asrama, pengajaran kitab klasik, masjid, santri, dan kiyai. Gelar pondok pesantren tidak akan diperoleh oleh lembaga yang mengaku sebagai pondok pesantren sedangkan masih ada salah satu elemen dasar yang belum terpenuhi.

Elemen yang pertama yaitu pondok. Kata “pondok” berasal dari bahasa arab, funduuq (فندوق), yang berarti penginapan. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura, untuk menyebut penginapan para santri, umumnya menggunakan istilah pondok dan pesantren, sedangkan di Aceh dikenal dengan istilah dayah, rangkang atau menuasa. Berbeda dengan di daerah Minangkabau, penginapan santri disebut dengan surau.

Elemen yang kedua adalah pengajaran kitab klasik. Penyebutan kitab Islam klasik di kalangan pesantren lebih akrab dengan sebutan kitab kuning. Kajian kitab kuning yang diajarkan di pesantren menurut Zamkhsyari Dhofir dapat dikelompokkan menjadi delapan bagian, nahwu (gramatikal) dan sharaf (semantik dan sinteksis), fiqih , ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid (teologi), tasawwuf dan etika, dan cabang-cabang lain seperti tarikh (sejarah), dan balaghoh (sastra). Dalam hal pengajaran, metode pengajaran kitab kuning dalam dunia pesantren diajarkan melalui beberapa metode seperti sorogan, wetonan, dan bandongan.

Selain pondok dan kajian kitab, keberadaan masjid atau musholla, sebagai salah satu elemen dasar, merupakan hal yang sangat vital di pondok pesantren. Masjid merupakan tempat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktik ibadah lima waktu, khotbah dan salat jum’at, termasuk pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Sebagaimana yang diutaraakan Zamakhsyari Dhofir bahwa kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Dengan kata lain kesinambungan sistem pendidikan Islam yang berpusat di masjid sejak masjid Quba’ didirikan di dekat Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW tetap terpancar dalam sistem pesantren, karena sejak zaman Nabi, masjid telah menjadi pusat pendidikan Islam.

Elemen yang keempat adalah santri. Kata santri berasal dari kata cantrik (bahasa Sansakerta atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sebutan santri diberikan kepada orang yang menimba ilmu kepada kiyai di pesantren. Umumnya santri ada dua tipe,  yaitu santri mukim, yang menetap di asrama atau pondok disebut dengan santri mukim, dan  santri kalong, yang tidak menetap di pondok.

Elemen yang kelima adalah kyai. Kata kyai mempunyai makna yang agung, keramat, dan dituahkan. Sebutan kyai dimaksudkan untuk para pendiri dan pemimpin pesantren, yang dianggap sebagai muslim terhormat yang telah membaktikan hidupnya untuk Allah SWT dengan menyebarluaskan dan memperdalam ajaran-ajaran Islam melalui pendidikan. Kyai merupakan tokoh yang sangat disegani di lingkungan pesantren. Setiap langkah dan ucapannya memiliki makna yang sangat dalam bagi warga lingkungan pesantren. Selain itu, kiyai juga merupakan segala model yang dibutuhkan seorang santri. Tingkah lakunya menjadi uswatun hasanah, ucapannya menjadi sabda dan petuah, keputusannya menjadi amanah.

Membincang kiyai sebagai figur di pesantren, setidaknya ada dua model yang secara general dapat kita pahami. Model yang pertama yaitu kiyai sebagai uswatun hasanah. Sebagai suri tauladan bagi santri, seorang kyai harus memiliki perangai dan adab yang baik untuk membentuk santri yang beradab.  Maka, seorang pengajar belum bisa digelari kyai. Dalam hal ibadah, tauladan ibadah yang biasa dilaksanakan kyai seperti sholat sunnah rowatib, dhuha, tahajud, witir, dan lainnya akan cenderung dilakukan pula oleh santrinya. Begitu juga dalam amaliah sosial, ketika seorang santri melihat kyainya menyerahkan amplop seusai mengisi pengajian kepada seorang pengemis, maka akan timbul rasa bangga dan ingin meniru apa yang dilakukan oleh kyainya.

Ucapan kyai sebagai sabda dan petuah adalah model kedua kyai sebagai figur di pesantren. Kharisma kyai yang sangat besar menjadikannya sangat dihormati dan disegani. Butiran kata nasehat yang disampaikan oleh kyai menjadi peta menuju tempat permata yang sangat berharga bagi santri. Santri yang telah dididik memiliki rasa peduli dan hati ikhlas akan membagikan peta yang ia dapat kepada orang lain. Ucapan- ucapan Kyai dapat berbentuk kata-kata mutiara, kisah inspiratif, atau nasehat dan teguran. Kesemuanya itu akan menjadi bahan dalam mengemban tugas di masa mendatang. Dalam bahasa sederhananya,  santri menyampaikan ulang kata-kata mutiara, kisah inspiratif dan nasehat dari kiai kepada orang lain. Hal itu bisa kita lihat dari cerpen, artikel, bahkan meme yang semakin marak di era digital santri milenial sekarang ini, seperti kutipan dari KH Hasyim Asy’ari; “Nasionalisme dan Agama bukanlah dua kutub yang saling berseberangan, Nasionalisme adalah bagian dari Agama dan keduanya saling menguatkan”.

Model yang ketiga, keputusan kyai menjadi suatu amanah. Sebagai pemimpin tertinggi di pesantren, kyai berhak mengeluarkan kebijakan dan keputusan demi kemaslahatan warga pesantren. Kebijakan yang dikeluarkan oleh kyai akan langsung diterima oleh santri karena adanya keyakinan keberkahan dan keridhaan seorang kyai yang menentukan masa depan santri. Keyakinan tersebut diperoleh dari ulasan-ulasan kitab kuning yang dipelajari di pesantren dan didukung dengan fakta empiris. Fenomena lain yang mendukung bahwa keputusan kyai akan secara langsung diterima oleh santri adalah tidak ditemukannya fakta sejarah santri mendemo kyai.

Kebijakan kyai yang mencakup permasalahan besar akan diterapkan pula oleh para santri yang telah memiliki wewenang. Kasus ini dapat diamati dalam peristiwa aksi demo yang berjilid-jilid dalam rangka menuntut kasus penistaan agama. Rais ‘Amm PBNU mengeluarkan komando agar warga NU tidak ikut serta turun ke Jakarta demi menjaga stabilitas keamanan negara Indonesia. Karena komando dari pimpinan tertingi Nahdhlatul Ulama, maka PBNU sebagai pengambil kebijakan mengeluarkan komando yang sama untuk menjaga stabilitas keamanan negara Indonesia.

Pemaparan di atas mengindikasikan bahwa hubungan kyai dan santri terasa erat sekali. Ketika kyai melakukan ,mengatakan , dan menetapkan sesuatu sang santri pun mengikutinya. Peristiwa ini seperti halnya sebuah resonansi. Resonansi merupakan peristiwa bergetarnya suatu benda karena ada benda lain yang bergetar dan memiliki frekuensi yang sama atau kelipatan bulat frekuensi itu. Contoh peristiwanya adalah resonansi pada pendulum atau bandul. Ketika dua bandul di sejajarkan kemudian salah satu disimpangkan, maka perlahan bandul yang diam akan ikut bergerak juga. Resonansi ini hampir mirip dengan peristiwa meniru karena adanya suatu perilaku dari orang lain.

Terdapat beberapa peristiwa resonansi antara kyai dan santri dari pemaparan di atas. Pertama, ketika santri melihat kyai membiasakan sholat sunnah rowatib maka perlahan santri yang tidak pernah melaksanakannya akan melakukannya juga. Kebiasaan sholat sunnah rowatib yang dilakukan diasumsikan sebagai simpangan yang menyebabkan gerak harmonis sederhananya. Kedua, ketika kyai menyampaikan nasehat atau petuah maka perlahan (suatu saat) santri akan  menyampaikannya pula kepada orang lain, termasuk juga dalam hal ini terkait kebijakan kyai. Kyai dalam kasus ini sebagai sumber atau penyebab santri dapat menyampaikan suatu nasehat atau petuah (beresonansi).

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: