The Real Resurrection

Oleh : M. Nur Hadi (CO Tim Redaksi Nun Media)

“Buktikan padaku kalau hari akhir, hari pembalasan, neraka, surga, dan segala tentanngnya benar adanya? Bukankah semua itu hanya abstrak?” Setidaknya inilah beberapa lontaran pertanyaan dari kaum yang terlalu menuhankan akal.

Mari kita berpikir sejenak. Apa sesunguhnya tujuan hidup kita? Apa sesungguhnya yang kita inginkan dalam hidup? Jika semua kebutuhan sudah terpenuhi dengan baik dan sempurna, lalu apa target kita? Hanya menunggu kematian dengan membayang rasa sakit yang sangat atau kita melakukan hal-hal yang bermanfaat?

Banyak orang bahagia di dunia ini dengan segala apa yang telah mereka capai. Tidak sedikit pula yang juga sangat susah karena kegagalan mereka namun uniknya mereka tetap memahami rumus alam semesta dengan cermat. Tidak juga jarang yang sangat menerima apa adanya terhadap apa yang telah mereka usahakan. Apa sesungguhnya motivasi mereka untuk bersemangat dalam menjalani kehidupan ini. Dapat diasumikan, mereka bersemangat menjalani kehidupan karena mereka percaya bahwa mereka akan memetik hasil dari semua yang telah mereka lakukan. Dalam hal ini doktrin agamalah yang berpengaruh dalam diri mereka. Mereka percaya bahwa nanti akan ada suatu hari yang semua manusia akan memetik hasil yang telah mereka tanam di dunia. Itulah yang sering mereka sebut dengan hari kebangkitan. Rentetan peristiwa hari kebangkitan telah tergambar dengan detail di al-Quran yang menunjukkan betapa pentingnya peristiwa itu. Yang perlu kita renungkan adalah, bagaimana keyakinan tentang adanya hari kebangkitan itu sangat berpengaruh pada kehidupan manusia.

Syekh Badiuzzaman Nursi, salah satu ulama kontemporer yang hidup di era keruntuhan kekhilafahan Turki Utsmani, menjelasakan cukup menarik dalam kitabnya, Risalah Nur, tentang ide kebenaran hari kebangkitan yang selama ini diyakini oleh orang-orang yang beriman. Dengan beberapa dalil-dalil berikut ini beliau mencoba mengajak ummat untuk memahami kebenaran hari kebangkitan dan segala rentetan peristiwanya dengan memahami kehidupan yang kita alami.

Dalil Pertama

Sungguh menakjubkan ketika anak-anak kecil berbicara tentang kematian. Mereka berani menghadapi kematian yang tampak menyakitkan dengan hanya mengandalkan keyakinan mereka terhadap adanya surga. Surga dalam bayangan mereka akan mewujudkan sejuta impian mereka untuk memperoleh apa yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia. Keyakinan itu adalah semangat moral bagi mereka karena dengan keyakinan itu mereka dapat menjalani kehidupan dengan rasa bahagia.

Ketika mereka ditanya tentang dimanakah tempat tinggal kakaknya atau saudaranya yang telah meninggal, dengan bangga mereka berani bercerita kepada teman atau orang lain tentang narasi burung surga. Kalimat yang mungkin akan terucap adalah, “Kakakku yang telah wafat sekarang sudah menjadi seekor burung di surga yang terbang dengan bebas. Ia hidup sangat menyenangkan di sana dan ia bisa pergi kemana saja ia suka”. Bayangkan seandainya mereka tidak memiliki semangat moral seperti ini, bukankah mereka hanya akan bisa merasakan sakitnya kematian yang akan mereka hadapi yang akan meredamkan jiwa-jiwa suci mereka. Tangisanpun tidak akan pernah terhenti dari sudut kedua mata mereka saat mereka mengingat kejadian paling menyakitkan itu, begitu juga dengan tangisan akal mereka.

Dalil Kedua

Orang tua yang sudah lansia akan menghadapi masa-masa paling menyakitkan dalam kehidupan. Secara akal sehat jelas mereka akan menghadapi hari-hari yang suram karena mereka akan mengalami masa-masa anak kembali. Jiwa kekanak-kanakan yang muncul tentu akan membuat anak-anak mereka atau orang di sekitarnya harus merawatnya layaknya anak kecil. Bahkan potensi munculnya penyakit sangat banyak seiring dengan menurunnya kinerja tubuh. Jika seandainya, para orang tua tidak memiliki keyakinan tentang hari kebangkitan yang akan memberikan balasan atas jasa-jasa kehidupan mereka, tentu mereka hanya akan membayangkan betapa sakitnya dan mencekamnya kematian nanti.

Dalil Ketiga

Para pemuda menjadi objek menarik terkait topik ini. Sungguh sangat menarik ketika para pemuda hanya dengan rasa takut kepada neraka dengan segala kengeriannya, mereka mampu memperbaiki hubungan sosialnya dengan orang tua, teman, dan alam sekitar. Keyakinan mereka tentang adanya neraka Jahannam yang akan diberikan kepada orang-orang yang memiliki jiwa perusak di dunia berhasil menggiring mereka untuk melindungi kaum yang lemah di manapun mereka berada. Seandainya saja mereka tidak bertendensi kehidupan akhirat, maka kedzaliman pun akan muncul sebab kekuasan berada di tangan yang kuat sedangkan kaum lemah akan tertindas. Sangat mengerikan jika itu terjadi. Orang tua yang seharusnya dihormati, dicintai, dan dirawat harus menjadi santapan kedzaliman anak-anaknya karena ketidaktulusan cintanya kepada orangtunya.

Dalil keempat

Kehidupan keluarga merupakan pusat berhimpunnya kehidupan di dunia. Keluarga merupakan surga kebahagiaan. Keluarga juga merupakan tempat yang aman untuk berlindung. Spirit kebahagiaan kehidupan keluarga akan dicapai dengan adanya rasa saling hormat dan kesetiaan yang tulus antar seluru elemen disertai dengan kasih sayang yang jujur. Terlebih lagi, kebahagiaan itu juga akan tercapai dengan adanya rasa spirit mau berkorban dan mengutamakan orang lain. Rasa kasih sayang dan saling menghormati terbangung karena adanya keyakinan tentang adanya hubungan persahabatan dan kebersamaan yang abadi dalam waktu tak terbatas dalam naungan kehidupan yang tak terhingga. Maka sungguh sangat menarik saat seorang suami memuji istrinya dengan kalimat yang romantis-religius. Suami pun tidak segan untuk mengucapkan “Istriku engkau adalah pendamping hidupku serta temanku di alam abadi nanti. Karena itu, wahai isriku, tidak masalah meskipun sekarang engkau sudah jelek, keriput, dan tua. Sebab, nanti aku akan memiliki kecantikan abadimu di surga. Aku pun siap mencurahkan puncak kesetiaan dan kasih sayangku.” Demikianlah uangkapan cinta seorang suami kepada istrinya yang tua sebagaimana rasa cinta kepada bidadari cantik. Seandainya keyakian ini tidak ada, tentu persahabatan formal atau hubungan suami istri yang berlangsung sesaat yang kemudian disusul dengan perpisahan abadi akan menjadi persahabatan lahiriah yang sangat rapuh. Jika keyakinan itu tidak bersemayam dalam jiwa, tidak akan pernah ada yang namanya cinta sejati. Yang ada hanyalah cinta simbolik. Semua rasa cinta dan kasih sayang akan dibuat-buat, bukan berasal dari hati dan jiwa yang paling dalam. Syahwat pun yang ada dalam diri manusia akan menguasai manusia seutuhnya dan akan mengubah dunia percintaan menjadi dunai kehancuran.

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: