Santrinesia: Kiprah Santri untuk Indonesia

Oleh: Rofiatul Mukarromah

Dikutip dari laman Serambi Lirboyo, Kiai Ibrohim Hafidz menuturkan bahwa ketika mbah yai Hasyim Asy’ari ditahan oleh tentara Jepang, pesantren Lirboyo mengirimkan delegasi untuk berusaha membebaskan beliau yang dipimpin langsung oleh Mbah Yai Mahrus Aly. Sementara Mbah Yai Abdul Karim melakukan istighosah di setiap malamnya. Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 atas fatwa Hadhratussayaikh KH. Hasyim Asy’ari juga tidak kalah heroik. Laskar-laskar pesantren seperti Hizbullah dan Sabilillah berbondong-bondong menuju Surabaya untuk melawan Belanda yang mencoba mengganggu euforia kemerdekaan RI hingga akhirnya meletuslah peperangan 10 November di Surabaya. Kedua kisah ini menunjukkan bahwa ulama dan santri telah mempuyai kiprah yang sangat besar dalam memperjuangkan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Pertanyaannya, apakah santri Indonesia masa kini juga telah berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan tanah air warisan leluhurnya?

Kiprah KH. Ma’ruf Amin sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia dan Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj sebagai ketua umum PBNU adalah contoh nyata kontribusi santri bagi negri. Akan tetapi, bukankah kontribusi dalam mengisi kemerdekaan tidak hanya terbatas dalam bidang politik? Kang Abdu, misalnya, seorang santri yang tidak lulus SMP ini berhasil mendapatkan penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga sebagai Pemuda Inspiratif dan penghargaan sebagai Pelopor Pemuda Penggerak Perdamaian dari KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Dua penghargaan tersebut tidak lepas karena kegigihannya dalam memanfaatkan media online untuk syiar agama sekaligus berdagang. Laman santrionline.net gagasannya telah memiliki 130.000 followers dengan 1000 orang pembaca setiap harinya. Sementara itu, keuntungan bisnis buku dan kaos daringnya digunakan utuk memberi beasiswa bagi pelajar-pelajar yang kurang mampu. Alih-alih hanya mengkritisi pendistribusian subsidi pendidikan pemerintah yang kurang merata, pemilik nama lengkap Abdul Wahab ini telah ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Alih-alih hanya mengkritisi blog “ustadz impor” yang hanya berisi ujaran kebencian untuk memecah belah umat, ia telah beraksi menyediakan bacaan islam yang nusantara.

Selain berkontribusi dalam bidang sosial, santri Indonesia sudah selayaknya memberikan sumbangsih besar dalam hal pendidikan. Mengimplementasikan adab-adab menuntut ilmu, misalnya, merupakan satu contoh sederhana kontribusi santri dalam membangun bangsa. Dengan akhlak-akhlak santri itulah diharapkan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang islami dan pancasilais. Kontribusi santri dalam bidang pendidikan juga dapat diwujudkan dengan mengharumkan nama bangsa di kancah regional, nasional, maupun internasional. Agus Pramono, misalnya, seorang Rais Syuriyah PCINU Federasi Rusia dan Negara-negara Eropa Utara ini sukses mengembangkan metode Repetitive Press-Roll Forming (RPRF) yang mulai menjadi pembahasan di kalangan akademisi Eropa. Selain mengembangkan teknologi untuk aplikasi perangkat kemiliteran, Agus Pramono juga telah memuallafkan dua orang mahasiswa doctor di Estonia.

Pepatah tuntutlah ilmu walau ke negeri China seharusnya sangatlah cukup untuk memotivasi santri Indonesia mengembangkan potensi dan sisi akademisnya dengan belajar di perantauan sejauh apapun. Ke negara luar, misalnya. Selain berkesempatan untuk belajar, santri Indonesia juga dapat memperkenalkan budaya-budaya pesantren nusantara di kancah internasional. Belajar sambil menjadi Agen Muslim yang baik yakni dengan memegang teguh akhlak muslim nusantrara yang cinta damai merupakan bantahan telak atas stigma teroris yang dialamatkan negara-negara barat pengidap islamophobia. Pengalaman hidup di negara asing dan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh juga merupakan bekal yang mantap untuk kemudian digunakan dalam ikut serta membangun Indonesia.

Tidak hanya dalam bidang sosial dan pendidikan, santri Indonesia juga dapat berkontribusi mengisi kemerdekaan RI melalui bidang seni dan sastra. Menyajikan novel-novel pembangun jiwa senada dengan Habiburahman El-Shirazy dan Ahmad Fuady, misalnya, dapat memperbaiki sumber bacaan remaja agar tidak melulu tentang cinta merah jambu. Wattpad, sebagai wahana tulis-menulis gratis dapat dimanfaatkan santri untuk mengarang cerita berlatar islami dengan sisipan nilai-nilai santri nusantara. Hal ini dipandang krusial untuk mengimbangi banyaknya tulisan-tulisan bernilai islami tetapi kurang pancasilais. Selain itu, sastra juga dipandang sebagai media kritik, pengubah paradigma, dan kontrol perjuangan yang efektif sebagai bentuk kepekaan santri Indonesia terhadap keadaan sosial. Dengan sastra, norma-norma sosial, realitas-realitas intelektual, dan nilai-nilai religius dapat disisipkan, sehingga tidak diragukan lagi bahwa di dalam sastra juga terdapat pesan-pesan perjuangan.

Peng-­cover­-an lagu Despacito menjadi “Ayo Mondok” oleh Menara Band merupakan sebuah bentuk kiprah santri dalam menyelamatkan bangsa melalui seni. Lagu Despacito yang telah mendunia tentu saja membuat siapapun yang mendengarnya ingin mendendangkannya pula, terlepas dari makna apakah yang terkandung dalam liriknya. Pengubahan lirik yang terlalu vulgar menjadi kalimat-kalimat yang sarat pesan ini merupakan sebuah maha karya yang patut di apresiasi. Dengan bait-bait syair “ayo mondok”, masyarakat luas dapat mendendangkan lagu tersebut dengan tanpa takut dianggap tabu. Pesan-pesan keislaman pun akan lebih mudah diserap jika disampaikan dengan cara yang santai. Santri, yang berdampingan erat dengan bait dan syair sudah seharusnya meningkatkan kreatifitasnya dalam membawa islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Terlepas dari semua bidang tersebut, kontribusi utama santri terhadap negeri adalah mengaji. Belajar dan terus belajar. Belajar dalam bidang akademis, belajar bersosialisasi, dan belajar mengolah rasa agar tidak menjadi pribadi yang kelewat individualis dan menolak humanis. Agar menjadi manusia Indonesia yang tidak mudah menghujat apalagi menghakimi. Manusia yang memandang dengan pandangan kasih sayang. Manusia yang memanusiakan manusia. Karena yang lebih dibutuhkan bangsa untuk keberlangsungan dan kemajuannya bukanlah sumber daya alam, melainkan sumber daya manusia.

 

2 thoughts on “Santrinesia: Kiprah Santri untuk Indonesia

  • September 9, 2018 at 8:07 am
    Permalink

    Belajar dalam bidang akademis, belajar bersosialisasi, dan belajar mengolah rasa agar tidak menjadi pribadi yang kelewat individualis dan menolak humanis. Agar menjadi manusia Indonesia yang tidak mudah menghujat apalagi menghakimi.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: