Produksi Per-adab-an Pondok Pesantren

ADAB: Selevel KH. Abdullah Kafabihi Mahrus saja sungkem dengan gurunya KH. Dimyathi Al Fadhlu (twitter.com)

Penulis: Ulum Wahyu Ferbri Anggraini

Prof. Sayed Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya yang berjudul Islam and Secularism, menyatakan bahwa tujuan utama pendidikan yaitu untuk menghasilkan orang yang baik (to produce a good man). Prof. Sayed Muhammad Naquib al-Attas berkata “ The aim of education in islam is therefore to produce a good man… the fundamental element intherent in the Islamic Concept of education is the inculcation of adab”. Untuk menghasilkan a good man, Prof Sayed mengatakan dibutuhkanlah pengajaran adab secara berulang-ulang.

Telah disebutkan bahwa adab merupakan hal penting dalam berbagai aspek kehidupan. Adapun dalam aspek pendidikan, pendidikan Islam bertujuan membentuk “insan kamil” yang memiliki makna manusia yang sempurna yakni sempurna dalam hal keimanannya,  keilmuannya,  serta adabnya. Makna insan kamil disini tidak dapat lepas dari kata adab karena pada dasarnya setiap manusia dinilai berdasarkan adabnya.

Urgensi keadaban ini bahkan juga ditunjukkan oleh K.H. M. Hasyim Asy’ari dengan mengutip hadist yang berbunyi: “Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yushina ismahu, wa yushina murddhi’ahu, wa yushina adabahu” yang artinya hak seorang anak terhadap orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik.

Dalam dunia pesantren, istilah adab bukanlah sesuatu hal yang asing sehingga konsep adab dan keberadaban mendapat sorotan yang cukup tajam. Pasalnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengarah pada proses penanaman nilai dan tata aturan keberadaban yang baik sesuai dengan syari’at Islam. Konsep adab dalam islam telah tertulis dalam al-Quran yang berbunyi : Inna akramakum ‘indhalaahi atqaakum (Q.S. 49:13) yang memiliki makna bahwa sebagai seorang muslim yang beradab, hendaknya memuliakan seseorang berdasarkan atas keimanan, ketakwaan, kesholihan serta keilmuannya, bukan atas dasar kekayaannya, kedudukannya ataupun kecantikannya.

Menghormati seseorang karena keilmuannya adalah bagian dari menghormati ilmu. (sumber: Badr News)

Sedangkan dalam salah satu kitab yang populer diajarkan dalam lembaga pondok pesantren yang berjudul Adabul ‘Aalim wal-Muta’alim, terdapat beberapa hal yang seyogyanya diperhatikan oleh santri dalam statusnya sebagai pencari ilmu. Hal pertama yang harus dimiliki ketika menuntut ilmu ialah memiliki niat yang lurus dan senantiasa melatarbelakangi niat tersebut hanya untuk mendapat ridha Allah SWT. Niat haruslah ditempatkan diawal sebelum melakukan sebuah tindakan karena semua amalan itu tergantung pada niatnya. Jika niat awal baik maka akan menghasilkan tindakan yang baik pula. Begitupun sebaliknya. Begitu pula saat hendak menuntut ilmu kita dianjurkan untuk menata dan perbaiki niat agar tidak keluar dari syari’at Islam.

Lalu, yang kedua ialah memilih guru dan mengagungkan ilmu serta keahlianya, hal ini dapat diartikan sebagai bentuk adab untuk ta’dzim atau hormat santri terhadap gurunya, penghormatan ini ditekankan tidak hanya terhadap guru tetapi juga terhadap orang tua dan kerabat. Ta’dzim Al-‘ilm (mengagungkan ilmu) itu sangat penting karena menghormati seseorang karena keilmuannya adalah bagian dari menghormati ilmu. Selain itu bentuk penghormatan ilmu dapat dibuktikan dengan cara menjaga, merawat, dan memuliakan kitabnya. Dalam kitab Adabul ‘Aalim wal-Muta’alim juga menyarankan agar mencari ilmu dari guru yang alim, wara’(menjaga diri dari sesuatu yang syubhat dan haram) dan tua.

Hal yang ketiga ialah belajar dengan tekun dan musyawarah. Ini merupakan sebuah proses yang dianjurkan untuk dilakukan saat menuntut ilmu karena ketekunan dan kekuatan tekad yang positif akan menghasilkan kebaikan yang positif  pula. Selain ketekunan Az-Zarnuji menganjurkan sistem Musyawarah, muzarakah, debat ilmiah yang baik, dan tradisi diskusi ini telah melahirkan bahtsul masail dalam kalangan pesantren hingga menjadi landasan organisasi NU dalam menjawab kasus keagamaan dan kasus sosial dari segi agama. Disisi lain, pesantren juga memiliki faktor x yang biasa disebut berkah. Sehingga hal tersebut dapat menjadikan proses menuntut ilmu lebih bermakna karena melibatkan Allah SWT dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal yang keempat ialah belajar di perantauan dan menanggung yang dialami. Maksudnya ialah ketika menuntut ilmu dianjurkan untuk merantau hal ini sangat baik karena akan mengajarkan kemandrian. Santri juga harus menanggung kesusahan yang dialaminya karena kesusahan dalam menutut ilmu merupakan bagian dari perjuangan. Dan aspek yang terakhir adalah bekerja dan berdoa agar berkecukupan. Maksudnya ialah ketika menuntut ilmu dianjurkan untuk terus bekerja keras dan berdoa karena dengan kedua hal tersebut dapat memudahkan kita saat berproses menuntut ilmu sehingga kelak dapat mencapai kesuksesan.

Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa adab masuk dalam etika bagi penuntut ilmu khususnya dalam poin kedua dimana menghormati seseorang (yang dalam hal ini ustadz atau kiai) karena keilmuannya adalah bagian dari menghormati ilmu. Untuk itu, poin Ta’dzim Al-‘ilm (mengagungkan ilmu) menjadi hal yang sangat penting dan diagung-agungkan dalam dunia pesantren.

Istilah adab dan santri adalah dua hal yang sangat berkaitan, sehingga diharapkan karakter dan tingkah laku santri mampu menunjukkan adab yang baik, sesuai dengan syari’at Islam. Sehingga adab dapat melahirkan kebaikan hidup antar sesama yang berupa rasa aman, damai dan tentram  pada aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan beragama.

Wallahu a’lam bisshowab.

One thought on “Produksi Per-adab-an Pondok Pesantren

  • September 9, 2018 at 7:30 am
    Permalink

    Istilah adab dan santri adalah dua hal yang sangat berkaitan, sehingga diharapkan karakter dan tingkah laku santri mampu menunjukkan adab yang baik, sesuai dengan syari’at Islam.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: