Dialog Demi Kebijaksanaan

Oleh : Mahrus Afandi (Wakil Pimpinan Redaksi Nun Media)

Saat pemerintah berencana menerbitkan Perppu No. 2 tahun 2017 tentang ormas, terdapat kesan bahwa bangsa ini malas untuk berdialog. Terlihat betapa sangat sukar untuk mencari kejelasan dari suatu isu dan juga betapa sangat sulit untuk bertukar pendapat antar golongan yang berbeda argumen untuk mewujudkan persetujuan damai sekalipun dalam perbedaan.

Semuanya hanya ingin ditangani secara instan, tidak peduli apakah yang “berbeda” mau menerima dengan lapang dada atau tidak. Saat sudah seperti itu, pihak yang tergolong mayoritas pemegang power dan otoritas lah yang menjadi pemenang, tidak peduli golongan pemegang power dan otoritas itu berada pada jalur yang benar atau tidak.

Yang nampak adalah ketika mereka mendeteksi ada penyimpangan di daerah teritorial mereka, mereka berusaha segera mungkin untuk mengucilkannya, bahkan sebisa mungkin melenyapkannya dengan seketika tanpa mencari tahu dengan ber-tabayyun, berdialog dengan mereka yang dianggap menyimpang tentang apa maksud mereka, dan apakah maksud tersebut bisa diapresiasi dengan realisasi, atau diapresiasi dengan kritik dan saran tentang bagaimana seharusnya perkara yang mereka maksud itu.

Penyimpangan selalu dimonopoli oleh pemegang power dan otoritas. Dalam konteks dialektika kehidupan antara masyarakat mayoritas dan minoritas, yang menentukan definisi tentang penyimpangan –umumnya– adalah mereka yang mayoritas yang memiliki power dan otoritas. Sesuatu yang berbeda akan terjadi jika mereka yang minoritas memegang power dan otoritas.

Karena penyimpangan yang tentu dilabelkan kepada pihak di luar mereka –dalam hal ini: pihak mayoritas– akan direspon dengan memberi legitimasi atau pengakuan dari pihak minoritas yang memegang kekuasaan dan otoritas, khususnya tatkala keteraturan sosial memang menjadi prioritas utama bagi para incumbent-nya. Artinya, akan ada dialog untuk mengharmoniskan pendapat antara pihak minoritas –pemegang kekuasaan dan otoritas– dan pihak mayoritas yang diklaim oleh penguasa sebagai pihak yang menyimpang.

Dialog: Demi Menang atau Bijak Menerima

Penyimpangan akan ada dibawah garis tekanan yang bersifat opresif untuk dihalang-halangi secara manifest apabila mereka yang dianggap menyimpang menyandang status minoritas. Sesuatu yang berbeda akan terjadi ketika jumlah mereka mulai bertambah dan terus bertambah dalam suatu komunitas, ketika perbandingan jumlah antara mereka –yang dianggap menyimpang– dan mereka –yang mempunyai anggapan– seimbang, atau minimal nyaris seimbang.

Saat Muhammad baru diberi tugas menyampaikan wahyu, kaum kafir Quraisy menganggapnya sebagai orang yang menyimpang, aneh, gila, dan segala tuduhan lain –yang pantas ditujukan bagi orang melanggar kebiasaan– ditujukan kepada Muhammad. Tidak tanggung-tanggung, mereka sempat bertindak agitasi secara masif supaya Muhammad menghentikan kebiasaannya –berupa menyampaikan dakwah Islam– yang mereka anggap menyimpang dari kebiasaan tindakan dan pola pikir mereka. Bahkan sebagian dari mereka menimbuni Muhammad dengan kotoran unta, melemparinya dengan batu, dan juga mencemoohnya demi mencegah penyimpangan yang diinisiasi oleh Muhammad agar tidak sampai berkembang di tengah-tengah masyarakat Arab Quraisy.

Akan tetapi, semua itu berubah saat jumlah pengikut Muhammad, si penyimpang, mulai bertambah dan terus bertambah. Kaum kafir Quraisy tidak lagi menggunakan cara kekerasan seperti sebelumnya untuk menghentikan kiprah perilaku menyimpang Muhammad yang sekarang mulai diikuti oleh banyak orang. Kaum kafir Quraisy mulai bersedia mengadakan perundingan dengan kaum Muslim, seperti perundingan Hudaybiyah misalnya. Perundingan merupakan bukti adanya legitimasi dari para pemegang kekuasaan dari kubu kafir Quraisy tentang eksistensi kaum Muslim di sekitar mereka

Kesalahan utama yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy adalah mereka tidak mendialogkan perbedaan antara mereka dan kaum Muslim sejak dini. Mereka melakukan kesalahan beruntun dimulai dengan bertindak agitasi masif dengan tanpa mencari jalan tengah antara mereka dan kubu Muhammad, dilanjutkan dengan baru melakukan perundingan saat mereka sudah tidak punya lagi kesempatan untuk memukul mundur kubu Muhammad dengan argumentasi yang dihasilkan dari dialog antara mereka, atau minimal menemukan kebenaran lebih tinggi tingkatannya daripada kebenaran yang selama ini mereka yakini, yang mendorong mereka untuk menerimanya dengan bijak.

Nasi sudah menjadi bubur, keterlambatan untuk melakukan perundingan itu mendorong kaum kafir Quraisy untuk menyerah kepada kubu Muhammad dengan tanpa diagitasi oleh kubu Muhammad sama sekali saat Fath Al-Makkah. Mereka tidak memiliki kekuatan, juga tidak mempunyai argumentasi untuk membantah argumentasi yang diinisiasi oleh Muhammad.

Dialog merupakan aktivitas untuk menyelamatkan kita dari kesesatan dengan saling bertukar pendapat tentang apa sebenarnya persoalan yang sedang kita permasalahkan, bagaimana seharusnya persoalan itu disikapi, dan sebagainya. Oleh sebab itu, saya khawatir apabila kesan agitasi politik yang dilakukan oleh pemerintah melalui pemberlakuan Perppu tentang ormas mengenyampingkan pentingnya dialog secara detail tentang apa dan bagaimana sebenarnya perkara yang sedang dipersoalkan.

Pembenaran Konstruksi Definisi

Demi membangun bangunan logis tentang perkara yang selama ini dipersoalkan, tentunya harus dimulai urut dari definisi, argumentasi, dan seterusnya. Definisi menjadi titik sentral yang harus digarap untuk memulai membangun bangunan logika secara benar dan bijak demi menghindari konflik antara kita sebagai penikmat interpretasi. Sebagai contoh, definisi tentang kafir merupakan topik diskusi yang perlu untuk diagendakan demi mencegah anak manusia agar tidak saling menyerang satu sama lain.

Kata kafir merupakan kata yang kita serap dari Al-Quran, kitab suci umat Islam, yang pada umumnya, sebagian besar golongan muslim sendiri menggeneralisasi kata tersebut dengan mengarahkannya kepada siapa pun yang tidak memeluk agama Islam. Padahal Al-Quran sendiri tidak menghendaki adanya generalisasi dalam menilai makhluk. Hal itu terbukti dengan adanya tiga model penggunaan kata kafir yang digunakan oleh Al-Quran.

Pertama, kãfir, berbentuk subjek atau kata benda atau isim tunggal, dan berubah menjadikãfirūn ketika dikehendaki berbentuk plural; Kedua, kuffãr, bentuk subjek atau kata benda yang berupa irregular plural dari kata kafir; dan ketiga adalah alladzina kafarū, atau kafara, yang berupa kata kerja atau susunan verbal (fi’liyah).

Jumlah fi’liyah atau bentuk kata kerja seperti alladzina kafarū merujuk kepada kekafiran yang dilakoni oleh makhluk secara tidak hakiki. Jenis penggunaan kata ini tidak hanya disematkan kepada orang non-muslim, akan tetapi juga bisa dilabelkan kepada seorang muslim. Seseorang di antara kita yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan merupakan seseorang yang dilabeli kafir oleh Tuhan, yang diancam dengan siksa yang pedih, seperti dalam surat Ibrahim ayat 7.

Sedangkan kata kãfir –yang ketika plural berubah menjadi kãfirūn— merujuk kepada makhluk yang memilih hidup dengan menempuh jalan non-islam yang tidak secara manifest memerangi atau menghardik kaum Muslim. Paling banter, ia hanya bernegosiasi untuk mempengaruhi kaum Muslim untuk turut serta menempuh jalan hidup selain Islam. Surat Al-kafirun merupakan contoh nyata dari kekafiran jenis kãfir atau kãfirūn. Sedangkan kata kuffãr merujuk kepada mereka yang secara radikal memusuhi dan menghardik kaum muslimin, supaya kaum muslimin berpaling dari jalan Islam yang telah mereka tempuh.

Ayat dalam Al-Quran —surat Al-Fath ayat 29— yang menggambarkan ketegasan Nabi Muhammad dan juga sahabatnya terhadap kekafiran jenis kuffãr merupakan contoh nyata dari tipe kekafiran ini. Kekafiran inilah yang perlu direspon dengan tegas. Karena kekafiran model ini tidak mengakui kebebasan untuk menjalankan keyakinan secara tenang. Kuffãr, kekafiran yang menjadi simbol penindas, pengeksploitasi, dan hanya ingin menang sendiri.

Tidak peduli “agama” apapun yang mereka tindas, dan tidak peduli pula jenis golongan apakah mereka, yang jelas segala simbol, aksi, dan juga pihak yang mendukung adanya penindasan –seperti model kuffãr— wajib untuk ditindak tegas, dengan catatan tidak melupakan pentingnya adanya dialog untuk merespon argumentasi yang dinilai menyimpang dengan bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: