Fatwa Tukang Becak

Oleh : Nizam Ubaidillah (Anggota Tim Redaksi Nun Media

Seorang Di-rektur warteg di jalan Wilis selalu kebingungan dengan ulah para pelanggan setianya diwaktu sore. Biasanya tepat pada kisaran antara jam setengah empat hingga petang menjelang magrib berkumandang, pak Di-rektur sudah pasti kedatangan pelanggan istimewanya. Dul Kirak, No Kecer dan Tembir merupakan kawan tiga serangkai, pelanggan super istiqamah baik dalam ketepatan jam nongkrong maupun akselerasi ngebon setiap harinya di warteg pak Di-rektur.

Dul Kirak yang kesehariannya berprofesi sebagai tukang becak akan berubah menjadi filusuf muslim apabila sudah matek aji(berkontemplasi) diatas lumpang pak Di-rektur yang berfungsi sebagai kursi ternyaman. Sementara No Kecer yang kesehariannya menjaga kebersihan dan kenyamanan ponten di salah satu pusat pertokoan buku bisa bertindak sebagai moderator selevel Karni Ilyas. Yang tak kalah menarik adalahia yang bergelar Tembir, yang kesehariannya menjadi tukang parkir juga tak bisa diremehkan jika sudah nangkring dan nyruput kopi pahitnya.Seorang tembir mampu menyesuaikan dirinya kedalam bentuk model-model manusia yang beraneka ragam, tergantung situasi dan kondisi sekitar layaknya bunglon yang paham akan situasi. Seperti  ketika iklim dilingkungan sekitarnya menuntutnya untuk urun rembung masalah pro-kontra antara angkot dan Gojek,Tembir seolah-olah mampu merubah dirinya sebagai Ratu Adil yang kapasitasnya melebihi hakim, ataupun Begawan yang multi talenta. Setidaknya inilah pendapat menurut pak Di-rektur yang kadang jengkel bercampur bahagia ketika tiga serangkai ini berkumpul dalam satu majelis.

Ini bukan soal tentang ketidak mampuan Pak Di-rektur dalam menyerap pembeli dalam usahanya, tetapi lebih kepada keunikan dari pelanggan seetiannya itu yang perlu dilestarikan ditengah arus zaman edan dan milenial ini. Seperti Dul Kirak, si tukang becak, yang sangat berjiwa kesatria dalam menekuni profesinya. Ia selalu disiplin dalam penentuan tarif atas jasanya sehingga tak jarang jika saking disiplinnya justru menyebabkan becaknya sepi pelanggan.

Disore kali ini Tembir datang diwarteg sambil mengumpat-umpat. Pasalnya ia jengkel setelah seharian markir dikarenakan parkiran sepi. Ia hanya brousang-brousing saja kerjanya. Ditambah lagi kegiatannya itu justru menyumbang daya intelektualitasnya semakin tinggi dalam merespon dan memfilter isu-isu permasalahan publik yang serba rancu sumbernya dalam kancah per-sosmedtan. Terlebih lagi terkait perobohan rumah bangunan bersejarah tinggalan kolonial  didaerahnya yang dilakukan oleh aparatur pemerintah setempat.

“Pemerintah ini apasih maunya Dul? Katanya menghargai sejarah dan melestarikan budaya adalah ciri sebuah kota yang beradab, tapi langkah dan strategi kenyataannya kok berbanding terbalik? Opo ora mbokne anto! Ini namanya,” Tembir memulai pembicaraanya.

Yo, jangan terlalu dini gitu lah kamu Mbir mengecap bahwa pemerintah kita sekarang selalu jelek dan nggak rapi dalam membuat kebijakan. Ingat,warga masyarakat yang baik itu adalah warga yang mampu menilai semua kebijakan pemerintah dengan jalan selalu husnudhzon kepada mereka. Karena dengan begitu, InsyaAllah kita akan meraih surga dihadapan Allah SWT nantinya. Sudahlah husnudhzon saja,” NoKecer mencoba menggali rasa emosional Tembir.

“Ya, husnudhon sih husnudhon No! kamu kira aku ini ustadz apa? Seorang yang berprofesi tukang parkir pantang menggadaikan idealismenya dengan rasa husnudhzonbegitu saja! Kapan kayanya aku kalo begitu? Kita ini udah miskin ekonomi, kok masih saja dibikin miskin nurani dan pikiran. Apalagi ini soal yang sudah cetho welo-elo terlihat dimata kita sendiri, masa nggak berontak? Minimal brontak hati nurani lah terhadap kebijakan yang tak bijaksana seperti ini”, Tembir mencoba menimpali.

“Karena kita ini orang kecil miskin pula, ya hanya berontak secara nurani inilah yang kita bisa”, Dul kirak membuka mulutnya sambilnyaplok weci di tangan kirinya

“Berarti sampai situ doang parameter kamu dalam berproses merubah nasibmu selaku orang kecil Dul?” Tembir seolah tak terima.

“Loh,kamu jangan meremehkan kata kecil dan miskin! Posisi perang yang paling strategis adalah orang keci dan miskin seperti kita ini. Karena kecil dan miskin inilah kita ditempatkan pada pandangan stereotip masyarakat level paling bawah dalam strata sosial. Dengan begitu takkan ada lagi yang mampu merendahkan kita sekalipun itu pemerintah, karena posisi kita sudah dilevel terendah!” terlihat serius Dul kirak bicara.

Wis-wis, stop dulu. Sekarang aku tannya pendapatmu dulu Mbir, andaikan kamu ini presiden apa langkahmu dalam membenahi masalah kotornya birokrasi di pemerintahan?” No kecer mencoba menyela.

Yo nek aku jelas No! Aku akan bikin dekrit! Bagi penjabat negara maupun pemerintahan jika terbukti dzalim pada masyarakat akan saya laksananakan tindakan potong tangan, minimal dzalim dalam bentuk Korupsi lah”. Tembir mencoba meyakinkan.

“Wah ya sulit kalo begitu. Untung saja kamu bukan presiden sekarang. Jadi tak akan nada yang sempat menggulingkan kamu hahaha.” Nokecer mengejek sambil nyruput kopi kesukaannya.

“Loh kamu ini malah meremehkan ya! Ini menurutkucara tercepat loh minimal dalam memangkas budaya KKN di negeri sendiri”, Tembir menjawab dengan nada sedikit emosi.

“Bukannya meremehkan Mbir. Hanya saja sebelum diadakan dekrit seperti itu, ya cari cara yang lain yang lebih manusiawi lah,yang kalangan intelek menyebutnya Humanistis,tik,me, metik atau apalah itu”. No Kecer, mencoba meredam suasana.

“Andaikan saya ini presiden saya akan benar-benar tegas No dalam hal ini. Setegas lelananging jagad lah kira-kira kalau dalam pewayangan.hihi Toh setahuku potong tangan juga pernah dilakukan oleh kerajaan mbah-mbah kita dulu. Ditambah lagi aku juga pernah dengar sewaktu aku jaga parkir dipengajian rutin Kyai Mushoddaq, bahwa hukuman potong tangan juga pernah dilakukan di zaman Nabi kita Muhammad SAW”. Tembir mencoba membangun kembali gagasannya.

Apa yang Tembir utarakan nampaknya di dengar oleh orang-orang di kedai itu. Sontak seisi kedai bergemuruh ketika Tembir menyebut nama Nabi Muhammad SAW, “Allah Humma Solli Alaiihhhh”.

Dul Kirak kemudian merespon perbincangan mereka. “Memang dalam ajaran agama Islam kita ini menilai harta sebagai salah satu elemen penting dalam keberlangsungan hidup. Sehingga Islam sendiri memberi ruang yang seluas-luasnya untuk menjaga harta benda. Istilah kerennya kalau nggaak salah hifdz al-maal. Dalam ajaran islam manifestasi perlindungan harta ini dilaksanakan dalam beragam bentuk hukum, di antaranya larangan memakan harta orang lain dengan jalan yang salah dan tidak baik dan tidak benar. Seperti mencuri,njambret,mbegal atau yang lebih keren disebut korupsi.”

Ini keren nih”, No Kecer memoderatori. “Khusus untuk kejahatan mencuri, katanya dalam syariat Islam memberikan hukuman yang keras seperti yang tadi dikatan Tembir tadi, potong tangan. Nah,bagaimana ini cak Dul menurutmu?”

“Hukum keras ini menurut sepengalamanku sebagai pencuri kelas kampung, bahwa pencurian itu dilakukan dengan sifat tersembunyi. Sehingga aksi kejahatannya sulit untuk icegah dengan kekuatan. Kekuatan disini bisa saya artikan pemerintah maupun aparatur negara yang mengatur keamanan. Berbeda dengan njambretataupun ngerampok yang biasanya dilakukan secara cetho welo-welo atau terbuka lah sifatnya sehingga hal ini bisa dicegah dengan kekuatan, seperti digebuki atau bahkan ada juga yang dibakar secara rame-rame. Karena sulitnya mencegah aksi pencurian inilah Islam menetapkan hukum potong tangan apabila telah terbukti. Cocok kan kalo ini diambil sebagai istinbat hukum bagi pejabat yang mencuri?” Tembir mendahului.

“Kendati demikian Mbir, meskipunhukum potong tangan dilegalkan secara agama, jangan lupa juga bahwa didalam hukum agama kita yang terpenting dari pelaksanaan hukum adalah kemaslahatan bersama yang menjadi nilai universal dan juga nilai lebih agama kita.Sehingga hukum potong tangan yang tadinya untuk menjamin amannya harta kita justru tidak akan menimbulkan masalah lain yang lebih besar. Apabila hukuman potong tangan ini justru menimbulkan masalah yang lebih besar daripada amannya harta kita, maka hukum potong tangan ini juga tidak boleh dilakukan. Contohnya, jika kamu nyolong lagi dan ternyata tertangkap sekaligus terbukti bersalah, makatak potong tanganmu. Setelah itu, kira-kira bagaimana kamu menafkahi anak dan binimu dengan tangan satu? Terlebih kamu orang kecil orang kere yang kerjanya selalu berhubungan dengan daya otot yang dituntut harus selalu ekstra ngotot?” Dulkirak mencoba mengurai gagasannya.

“Justru yang begini ini yang harus dilakukan mbah Dul! Pemerintah kita ini sudah nggak bissa dikasih hati lagi!” Tembir menegaskan pendapatnya.

“Oh mungkin menurutmu gambaran potong tangan yang ideal itu harus melihat dulu keadaan sosial dan dinamikanya masyarakat kita ya mbh Dul? Atau bagaimana? Soalnya saya pernah denger hadis nabi yang kalau nggak salah bunyinya begini ‘Tidak ada hukuman potong tangan disaat masyarakat dilanda kelaparan dan kesulitan’. Tapi bagaiana kalau kasusnya justru bukan dilanda kelaparan ataupun kesulitan? Tapi justru kepada penyulitan/dipersulit/mempersulit atau bahkan memperlaparkan/diperlaparkan masyarakatnya oleh penjabat pemerintahannya sendiri? Bagaimana itu cak Dul?”. No kecer melempar.

“Ini pendapat loh ya. Pendapat orang kecil yang nasibnya dan kesempatan untuk mendapat kemurnian ajaran agama yang juga kecil. Sekali lagi jangan dijadikan pedoman, lebih baik dijadikan bahan ajaran untuk proses agar tidak berhenti belajar saja. Sebab sebenarnya saya juga takut kalau pembicaraan kita ini sudah mengarah pada referensi kitab mulia kita.

Bagiku sih, penerapan hukum potong tangan bagi pencuri yang disebut didalam ajaran kita hanya bisa dilakukan terhadap kasus pencurian yang sifatnya murni didasari oleh watak keserakahan. Bukan kepada kasus pencurian yang dilatarbelakangi kemiskinan yang sulit untuk memenuhi kebuthan pokok. Terlebih lagi, kemiskinan itu disebabkan oleh pemerintahan yang belum bisa mensejahterakan masyarakat menjadi masyarakat yang adil makmur dan sentausa. Karena dalam kondisi rendahnya kesejahteraan terutama dalam bidang ekonomi di masyarakat, kasus pencurian ini sudah jelas jauh dari sifat keserakahan, malah lebih kepada kebutuhan. Tapi lain lagi, kalau ternyata pemerintah pun juga berperilaku dan menganggap bahwa korupsi itu adalah kebutuhan bukan lagi soal kerakusan. Sebagai contoh yang rumit terkait bedanya kebutuhan dan keserakahan begini, apabila ada penjabat pemerintah yang rela tidak dikasih jatah mobil dinas supaya gaji intensifnya bisa naik, ini bagaimana kita sebagai orang kecil menyikapinya? Ya kalau saya mikirnya simple aja. Itu bukan kerelaan atau kelegowonan hati untuk tidak dapat jatah mobil dinas, tapi logikaku lebih kepada hari gini ada penjabat pemerintah kelas elit yang nggak punya mobil dan rela untuk nggo-jekataupun mbecakbahkan jalan kaki? apa sudah semajdub itu ?” Dul Kirak mencoba menguraikan idenya dengan detail.

Adzan magrib pun berkumandang, 3 serangkai dan Di-rektur wartegpun terdiam dan sibuk matek aji sendiri-sendiri, mengendapkan hati dan berusaha melupakan semua percakapan tadi.  Ada pula yang beradu pulang kembali pada keluarga dengan kesimpulannya masing-masing.

 

Malang,6 oktober 2017

(Satrio Lelono)

2 thoughts on “Fatwa Tukang Becak

  • October 13, 2017 at 5:41 am
    Permalink

    Gaji dan insentif yo kang

    Reply
  • July 19, 2018 at 6:34 am
    Permalink

    cerita yang sangat menarik untuk dijadikan pelajaran.
    tak heran setiap perdebatan selalu muncul dalam keseharian kita, karna dengan banyaknya pola pikir manusia menjadikan perbedaan pendapat dan bisa sampai terjadi kesalah pahaman baik antara golongan A maupun golongan B.
    bagaimana jika pemerintah menjadi sasaran kesalahfahaman dari masyarakat? apa upaya agar hubungan antara masyarakat dan pemerintah tidak dililit dengan segala bentuk kesalahfahaman?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: