Mantra Ajaib

Oleh : Wandi Anwas (Anggota Tim Redaksi Nun Media)

Lima belas menit berlalu, jama’ah isya pun selesai dengan wirid dan do’anya.

“Ahmad ojo bubar ndisek!” kata Pak Yai

Para santri pun satu persatu meninggalkan musholla setelah melaksanakan sholat sunnah ba’diyah isya’ dan berdoa lagi, kecuali Ahmad. Laki-laki yang memakai pakaian serba abu-abu (sarung, baju,dan peci) itu duduk dengan kedua kaki dilipat ke bawah 3 keramik ukuran 30 cm di belakang sajadah Pak Yai. Tak lama kemudian Pak Yai memutar badannya 150 derajat serong ke utara.

“Ahmad, awakmu tak utus melu lomba moco kitab ndek kabupaten mewakili kecamatan. Kitabe seng dilombakno Kitab Fathul Qorib. Siap kan?”

Nggeh Pak Yai, insyaallah dalem siap,” jawab Ahmad dengan kepala tetap menunduk.

“Kiro-kiro lombane iku kurang sak wulanan, kitabmu wes angger waca-wacanen, disinauni,” tambah Pak Yai.

“Nggeh Pak Yai,”

“Yawes, baliko siap-siap ngaji,”

“Nggeh Pak Yai,”

Ahmad berjalan mundur keluar dari musholla. Berjalan menuju kamar untuk mengambil kitab yang akan dipelajari malam itu. Setelah selesai mengaji, Ahmad mencoba membuka kembali Kitab Fathul Qorib yang pernah dipelajarinya.

“Astaghfirullah, kok akeh banget seng kosong. Piye iki aku sinaune?” tanya Ahmad pada diri sendiri.

Akhirnya Ahmad hanya belajar sesuai dengan yang ada. Hanya  pada bab-bab awal. Karena perintah dari Pak Yai, Ahmad tetap mencoba membacanya meskipun hanya mengulang-ngulang di bab awal.

* * * * * * * * *

Cahaya dan kegelapan terlalu cepat berlalu, bahkan burung hantu yang selalu bertengger di depan mushola tak sempat menyapa malu. Tak terasa waktu lomba tinggal esok. Ahmad masih beraktifitas seperti biasanya. Berangkat sekolah, belajar, bergurau, makan di kantin bersama teman-temannya.

“Ulil ndek ngendi kok gak sekolah?” tanya Ahmad pada Zidni

“Ulil ijin, jarene lomba baca kitab ndek Pendopo”.

“Lho saiki ta? Aku kok gak ngerti nak saiki lombane?” gumam ahmad. Ahmad menjadi risau jikalau memang lombanya hari itu, maka ia pun gagal mengikuti lomba.

Bel pulang berdering. Gelombang-gelombang doa dari setiap sudut gedung mulai merambat ke segala arah, hingga telinga Ahmad yang masih memikirkan apakah dirinya telat lomba atau tidak.

* * * * * * * * *

Setelah Sholat Isya’ Ahmad dipanggil kembali oleh Pak Yai.

“Ahmad, kesok awakmu lombane gowo klambi putih yo, peci ireng,” kata Pak Yai. “Kesok, sedurunge mangkat mampir ndalem ndisek yo, tambah Pak Yai.

“nggeh Pak Yai, jawab Ahmad.

Malam itu Ahmad semakin bingung, karena persiapannya cuma itu-itu saja. Ahmad hanya mengulang-ulang bab depan yang ada maknanya. Jangkrik, katak, dan burung hantu di sekitar pondok bersorak ria menyemangati Ahmad. Jam 11 malam ahmad memutuskan untuk segera beristirahat, agar besok ketika lomba tubuh dan otaknya fresh.

* * * * * * * * *

Dor dor dor dor dor dor dor dor,” getaran kaca pintu memecah tidur nyenyak para santri yang disusul dengan suara agak tinggi

“Tangi tangi tangi.!!!!” suara itu terdengar berulang-ulang.

Para santri bergegas berganti pakaian dan mengambil wudlu. Namun ada pula yang melanjutkan tidur di tempat wudlu dengan gaya burung hantu. Sepuluh menit kemudian iqomah berkumandang dan jama’ah subuh berlangsung khusyu’. Setelah jamaah langsung dilanjutkan mengaji Kitab Durrotun Nasikhin seperti biasanya. Selesainya mengaji, Ahmad pulang ke rumah untuk siap-siap lomba. Rumah Ahmad berjarak sekitar 100 meter dari pondok. Dari pintu keluar pondok, langsung berjalan ke barat, rumah Ahmad tepat di sebrang masjid berwarna crem dengan tembok yang tinggi.

* * * * * * * * *

“Assalamualaikum, sapa Ahmad di depan pintu.

“Wa’alaikumussalam,” timpal Ibu

Ahmad kemudian masuk ke kamar untuk meletakkan tasnya. Setelah itu, Ahmad mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Ahmad mandi sedikit lebih lama daripada biasanya, Ahmad ingin tampil fresh agar ketika lomba makin percaya diri dan semangat. Baju putih dan sarung hitam telah disiapkannya sejak kemarin, sehingga Ahmad tidak repot menyetrikanya pagi-pagi.

“Ahmad, ayo sarapan dulu, teriak ibu dari ruang makan.

“Iya bu, jawab Ahmad Sambil memakai pakaian dan minyak wangi.

Dua menit kemudian Ahmad telah sampai di ruang makan

“Ahmad, koe arep nang ngendi kok nganggo putih rapi pisan?”

“kula ajeng dateng pondok bu,  senyum Ahmad.

“owalah,… kok rapi banget, jawab ibu dengan balas senyum.

Ahmad adalah anak yang hanya ingin berbagi kebahagiaan, sehingga Ahmad sering menyembunyikan banyak hal, karena khawatir tidak mampu mewujudkan ekspektasi dari keluarganya. Ahmad hanya akan menyampaikan sesuatu jika itu berhasil dan membanggakan.

Sepuluh menit Ahmad menyelesaikan sarapannya dan segera berpamitan.

“Bu, dalem berangkat pondok nggeh?”

“iyo, ati-ati le, jawab Ibu.

“Assalamualaikum”

“Wa’alaikumussalam”.

* * * * * * * * *

Sepuluh menit Ahmad telah sampai di depan ndalem Pak Yai.

“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum”               

“Wa’alaikumussalam. Oh.. awakmu to Ahmad. Lungguh ndisek kono”

Ahmad kemudian duduk di ruang tamu. Ada 3 kursi kecil dan satu kursi panjang serta satu meja kaca di ruang tamu itu. Dua kursi kecil menghadap ke selatan dan satu kursi kecil menghadap ke utara. Keduanya di pisah oleh meja kecil yang memanjang. Sedangkan kursi panjang terletak di sebelah barat meja. Kursi itu dibungkus dengan kain berwarna merah. Sudah terlihat beberapa bagian kayu yang keropos, kemungkinan kursi itu sudah ada sejak tahun 90 an. Ahmad duduk di kursi kecil bagian pojok dekat kursi panjang.

Tiga menit kemudian Pak Yai datang dari dalam dan duduk di kursi panjang.

“Awakmu wes sinau to?”

“Sampun Pak Yai

“Ya wes, pesenku. Mengko pas ndek kono (tempat lomba) ojo lali hadiahno fatikhah kanggo kiyai-kiyai kono. Terus akeh-akehno moco sholawat”

“Nggeh Pak Yai, pangestunipun”

“Yawes. Mugo-mugo sukses. Tunggunen ndek toko, mengko nak jemputane teko”

“Nggeh Pak Yai”

Ahmad kemudian mencium tangan Pak Yai dan keluar. Setelah keluar, Ahmad langsung menuju ke toko. Toko ini adalah tokonya Pak Yai yang biasanya dijaga oleh para santri ndalem. Toko ini dulunya jualan alat-alat listrik dan onderdil motor karena disampingnya ada bengkel. Namun setelah bengkel pindah, toko ini tidak lagi menyediakan onderdil. Toko ini berganti menjual papan kayu dan reng.

Setengah jam kemudian, mobil jemputan datang, Ahmad bergegas masuk. Mobil itu telah berisi beberapa santri yang juga mewakili lomba. Ada banyak kitab yang dilombakan, diantaranya Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Tafsir Ibnu Katsir, Balaghoh, dan lain-lain. Setelah Ahmad masuk, mobil langsung menuju ke Pendopo Kabupaten.

* * * * * * * * *

“Fauzan, Ulil!“ teriak Ahmad di Pendopo. Kemudian Ahmad berjalan menyusul mereka.

Fauzan dan Ulil merupakan teman Ahmad satu sekolahan yang kebetulan pondoknya juga mewakili dari kecamatannya.

“Kue melu lomba opo zan? tanya Ahmad.

Melu Balaghoh Mad, lha kue melu opo?”

“Fathul Qorib,” jawab Ahmad sambil meringis. Giginya terlihat putih dan mengkilap

“Wah… saingan karo ulil iki”

“Iyo ta? Kalau gitu selamat bersaing lil, timpal Ahmad dengan nada agak syok. Dan akhirnya meringis.

Ahmad menuju ke tempat lomba, lalu ingat pesen Pak Yai. Kemudian ahmad membacakan Fatikhah untuk para kyai desa sekitar, dewan juri dan memperbanyak baca sholawat. Ahmad mendapat nomor undian 18 dan Ulil mendapat nomor undian 27.

* * * * * * * * *

Perlombaan dimulai, semua peserta menyimak lomba masing-masing tak terkecuali Ahmad.

“Selanjutnya nomor 18, Ahmad,” panggil Juri

Ahmad Maju dan membaca fashal mengurus jenazah

“……… Wayusholla lan den sholat,i sopo al-muslimu mayit muslim……”

Setelah membaca, kemudian ahmad diminta menjelaskan. Setelah sesi menjelaskan adalah sesi pertanyaan.

“ al-Muslimu kedudukannya menjadi apa?” tanya salah satu juri.

“Jadi man’ut pak, ngapunten wau kula maose dados fa’il, jawab Ahmad.

Setelah selesai, Ahmad kepikiran terus dengan kesalahannya tadi. Ahmad mencoba menenangkan hati dengan terus membaca sholawat.

Sekitar pukul 13.00 Ahmad memutuskan pulang duluan daripada rombongan, karena harus segera ke sekolah mengikuti acara pelatihan jurnalistik. Ahmad bergegas pamit dengan teman-temannya dan pulang naik angkot.

* * * * * * * * *

Dua minggu kemudian Fauzan dan teman-teman di sekolah yang ikut lomba bercerita kalau ulil mendapat juara 3. Ahmad pun menjadi deg-degan.

“Masak iya aku kalah sama ulil?” gumam Ahmad.

Ahmad berfikir seperti itu, karena Ahmad pernah menjuarai baca kitab di sekolahnya. Ahmad semakin penasaran dengan hasil lombanya. Singkat cerita, pelajaran saat itu menjadi singkat. Namun ahmad belum pula menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Namun tiba-tiba ia teringat kembali akan kesalahan ia waktu lomba saat itu. Ahmad pun mulai sedikit ragu.

* * * * * * * * *

“Al-fatikhah” suara Pak Yai mengakhiri doa sholat Isya’. “Ahmad ojo bubar ndisek, susul Pak Yai.

Seperti biasanya Ahmad duduk di belakang Pak Yai dengan kaki di lipat ke bawah berjarak sekitar 3 keramik ukuran 30 cm di belakang sajadah Pak Yai. Usai sholat sunnah, Pak Yai berbalik arah 150 derajat serong ke utara dan Ahmad tetap duduk dengan posisi menunduk.

Selamet, awakmu ntok juara 2. Pialane jikuken ndek pendopo, tapi ojo lali hadiahe dishodaqohno sebagian kanggo konco-konco pondok”

“Alhamdulillah, nggeh Pak Yai. Matursuwun”

“Iyo-iyo, ndang siap-siap ngaji”

“Alhamdulillah, padahal pas lomba mocoku ono seng salah lho, kok iso juara 2. Ah… mungkin ini karena berkah fatikhah yang aku kirimkan pada kiyai sana dan juga sholawat yang aku baca. Ternyata ampuh sekali seperti mantra ajaib“ gumam Ahmad dengan senyum haru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: