Di Balik Terbunuhnya Ali, Ada Sosok Wanita

Oleh : M. Nur Hadi (CO Tim Redaksi Nun Media)

Malam 17 Ramadhan 40 Hijriyah adalah malam yang sangat memilukan. Di malam itu terjadi pembunuhan tragis yang berkedok agama kepada sepupu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib. Pembunuhan itu dilakukan oleh kelompok Khawarij, kelompok yang tidak pro Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Pembunuhan ini adalah pembunuhan terencana dengan membentuk tim eksekutor yang dikomandani oleh Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, yang terkenal dengan panggilan Ibnu Muljam.

Kisah pembunuhan Ali bin Abi Thalib bermula dari ketidakpuasan kelompok Khawarij atas hasil tahkim yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan. Dalam proses eksekusi, Ibnu Muljam ditemani oleh dua pendukung setianya; Al-Barak bin Abdullah aT-Tammimi dan Amr bin Bakar at-Tammimi. Jika Ibnu Muljam bertugas mengeksekusi Ali bin Abi Thalib, maka Al-Barak bin Abdullah bertugas untuk membunuh Mu’awiyah bin Abu Sofyan dan Amr bin Bakar bertugas untuk membunuh Amr bin ‘Ash. Ketiga orang tersebut diplih untuk dieksekusi karena mereka menganggap bahwa dengan membunuh mereka, Islam akan damai dan aman. Mereka menambahkan bahwa membunuh mereka bertiga merupakan jihad dan akan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pembunuhan motif agama ini nampaknya juga muncul pada era modern ini yang sering kita kenal dengan teroris. Entah dari apa motif teroris sesungguhnya, yang penting pembunuhan atas nama agama adalah kejahatan biadab yang harus dihentikan.

Proses eksekusi direncanakan dengan matang oleh tim eksekutor. Waktu dan tempat betul-betul diperhatikan untuk memastikan kelancaran rencana mereka. Setelah diketahui dengan pasti mereka melancarkan serangan dengan baik. Al-Barak bin Abdullah berangkat ke Damaskus untuk membunuh Mu’awiyah, karena saat itu posisi Mu’awiyah ada di Damaskus sebagai kepala pemerintahahan Bani Mu’awiyah. Amr bin Bakar pergi ke Mesir untuk membunuh Amr bin ‘Ash. Kemudian, Ibnu Muljam pergi ke Kufah (sekarang Irak) untuk membunuh Ali bin Abi Thalib. Waktu yang diplih untuk mengeksekusi para pemimpin itu adalah saat menjelang shalat. Pilihan waktu ini perlu kita cermati dengan baik. Ada apa dibalik menjelang waktu sholat? Kenapa mereka memilih mengeksekusi saat menjelang waktu sholat? Mari kita tengok sejenak peristiwa penyiraman Novel Baswedan, salah satu penyidik KPK di Indonesia. Kasus penyiraman Novel Baswedan merupakan contoh politik kelas kakap yang sampai saat ini menjadi buah bibir seluruh rakyat Indonesia. Coba cermati, kapan penyiraman itu dilakukan. Penyiraman itu dilakukan seusai melakukan sholat jamaah subuh di masjid dekat rumahnya. Ternyata, pemilihan ini betul-betul diperhitungkan oleh tim eksekutor dan tim konseptor dengan matang setelah sekian lamanya melakukan beberapa kali percobaan yang gagal. Pemilihan waktu setelah sholat dianggap waktu yang paling pas karena, menurut penulis, saat seseorang telah melaksanakan ibadah, maka ia telah menemukan ketenangan dan mungkin tendensi keduniaan dan perasaan khawatir tentang kejahatan-kejahatan serangan makhluk Tuhan juga berkurang. Sama halnya dengan penyerangan kepada Mu’awiyah bin Abi Sofyan, Amr bin ‘Ash, dan Ali bin Abi Thalib yang dilakukan saat akan melaksanakan ibadah. Apalagi seorang sahabat, manusia-manusia terbaik setelah Nabi, tentu saat mereka akan beribadah hati mereka telah tertata dengan baik. Tendensi keduniaan mungkin telah terlepas secara perlahan seiring bergeraknya badan menuju ke tempat peraduan. Kisah pencabutan panah Ali bin Abi Thalib merupakan bukti yang luar biasa bahwa sahabat memiliki kedekatan spesial dengan Tuhan. Dapat diasumsikan, jika saat pelaksanaan ibadah sudah mencapai titik maksimal maka saat menuju pelaksanaan ibadah juga tentu sedang berproses menuju titik maksimal.

Dari ketiga proses eksekusi, hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil dieksekusi oleh Ibnu Muljam. Mu’awiyah bin Abu Sofyan hanya berhasil di tebas ujung pantatnya dan sang eksekutor, al-Barak bin Abdullah, tertangkap dan terbunuh. Kemudian, eksekusi Amr bin ‘Ash adalah eksekusi salah sasaran. Amr bin ‘Ash yang sedianya memimpin shalat jama’ah, tidak jadi berangkat lantaran sakit. Yang menggantikannya sebagai imam adalah penjaga keamanannya Kharijah bin Hudzaifah. Kebodohan Amr bin Bakar adalah ketika tidak bisa membedakan antara Amr bin ‘Ash dengan security-nya yang pada akhirnya membunuh Kharijah dan ia akhirnya tertangkap. Berbeda dengan kedua temannya, Ibnu Muljam berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib. Dengan pedang beracunnya  yang telah diasah selama 40 hari dengan berdoa kepada Allah swt agar melancarkan pembunuhannya dengan pedangnya, Ibnu Muljam berhasil melibas sebagian kepala Ali bin Abi Thalib yang pada akhirnya beliau meninggal.

Keberhasilan Ibnu Muljam berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib bukan hanya karena samangat internalnya yang sangat membara, tetapi juga karena dukungan eksternal yang sangat berpengaruh besar. Ketika Ibnu Muljam telah sampai di Kufah, ia terkesima oleh kecantikan wanita Kufah dari Taim ar-Rabaib yang bernama Fitham binti asy-Syajnah. Kecantikan Fitham telah membuat Ibnu Muljam melupakan tujuan utamanya ke Kufah. Sebagai seorang laki-laki normal, hasrat Ibnu Muljam untuk memiliki wanita semakin membuncah. Tanpa segan dia pun mengutarakan niatnya untuk meminangnya. Fitham pun menerima dengan syarat. Salah satu syaratnya adalah membunuh Ali bin Abi Thalib. Syarat ini diajukan sebagai rasa benci dan dendammnya kepada Ali bin Abi Thalib atas terbunuhnya ayah dan saudaranya di perang Nahrawan. Ibnu Muljam menyambut gembira syarat itu karena keinginan wanita idamannya itu sama dengan apa yang ia inginkan. Dengan rasa bangga yang semakin membuncah, Ibnu Muljam berangkat ke Kufah dengan didampingi oleh dua orang suruhan Fitham yang pada akhirnya berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib.

Kita tentu dapat memahami bahwa sudah tidak asing terdengar di telinga kita bahwa di balik seorang laki-laki hebat ada wanita hebat di belakangnya. Begitu pula sebaliknya. Seperti kisah-kisah para koruptor laki-laki yang dikisahkan seringkali melakukan korupsi karena ketidakpuasan wanita idamannya terhadap harta yang didapatkannya. Begitu pula Ibnu Muljam, keberhasilan Ibnu Muljam semakin tampak nyata dengan iming-iming seorang wanita yang dicintainya. Seorang laki-laki akan melakukan hal apapun meskipun hal itu adalah hal terbodoh yang akan ia lakukan hanya demi wanita yang dicintainya. Tidak peduli itu menabrak akal sehat, asalkan ia bisa mendapatkan wanita seutuhnya dan membuatnya bahagia. Sesungguhnya yang gila itu wanita atau laki-laki yang gila. Mari kita simak potongan dalam surat Yusuf.

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesunggunya tipu dayamu (wanita) itu besar”

Dalam ayat tersebut, penggunaan dhomir كُنَّ  menunjukkan makna jamak. Berarti yang dimaksud penggunaan dhomir itu adalah banyak wanita, bukan hanya seorang wanita. Lalu apakah benar demikian gambaran seorang wanita? Lihat penjelasan ayat ini dalam tafsir al-Kasysyaf:

وعن بعض العلماء: أنا أخاف من النساء أكثر ما أخاف من الشيطان، لأنّ الله تعالى يقول إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطانِ كانَ ضَعِيفاً وقال للنساء إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sebagian ulama mengatakan: Saya lebih takut kepada wanita daripada kepada Syaitan. Karena Allah SWT telah berfirman ‘Sesunggunnya tipu daya Syaithan itu lemah’, dan Allah juga berfirman ‘Sesunggunya tipu dayamu (wanita) itu besar”.

Terlepas dari pendapat itu semua, tidak sepatutnya juga kita menganggap bahwa semua wanita itu membawa keburukan. Banyak contoh-contoh tokoh hebat seperti Maryam binti Imran, Siti Khadijah (istri Rasulullah SAW), Fathimah binti Muhammad bin Abdullah (putri Rasulullah SAW), dan tokoh-tokoh wanita lainnya yang banyak mengajarkan nilai-nilai kearifan yang luar biasa kepada kaum laki-laki. Seperti halnya Maryam yang ditegaskan di dalam al-Quran bahwa ia adalah contoh yang tidak ditujukan hanya kepada kaum wanita. Maka hendaknya bagi seorang laki-laki harus benar-benar bisa memilih wanita yang mampu menemaninya dengan baik dalam berbagai keadaaan. Wanita yang dipilih juga nantinya diharapkan mampu menjaga keturunannya dengan baik. Dengan memilih wanita baik, berarti seseorang telah membantu mewujudkan keemasan generasi Islam masa depan, khususnya di Indonesia. Yang perlu direnungkan kemudian adalah apakah kita hanya harus memilih wanita yang baik saja tanpa ada usaha. Tentu tidak. Untuk memperoleh pasangan baik kita juga harus mulai mencicil perbaikan diri untuk menyambut buah manis yang akan kita petik. Ibarat kita menanam tunaman, maka untuk mendapatkan hasil yang maksimal kita harus merawatnya dengan berusaha semaksimal mungkin merawatnya dan menunjukkan sikap yang benar-benar jatuh cinta kepada tanaman yang kita tanam. Jika kita sudah demikian, maka bukan hal yang mustahil akan memperoleh sesuai jerih payah yang kita kerjakan.

Jika memang pada akhirnya, misalnya, seseorang harus dipasangkan dengan wanita yang menurutnya sangat buruk perangainya, itu bukan berarti Allah SWT tidak adil. Bisa jadi saat itu Allah SWT sedang memberikan kesempatan kepada orang itu untuk memperbaiki wanita itu dengan bebarengan memperbaiki dirinya. Saat mereka berusaha membenahi diri, maka bukan hal yang sulit untuk memperoleh buah usaha. Mungkin juga, saat Allah SWT memasangkan dengan wanita yang sangat jelek perangainya, seseorang telah dipilih sebagai orang yang mampu untuk berdakwah dengan keluarga, karena berdakwah dengan keluarga terdekat adalah berdakwah yang paling berat.

Semoga, kita termasuk kelompok orang-orang yang mampu menjaga diri dan anak cucu kita.

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: