Cahaya  Itu Bernama Santri

Oleh : Muhammad Danial (Santri Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono Malang dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang)

Jika ditelaah dari segi bahasa, santri berasal dari kata Sun dan Three, dimana makna dari masing-masing kata tersebut berarti Matahari dan Tiga. Kata matahari dan tiga tersebut mengandung arti bahwa santri merupakan sumber cahaya ketiga selain Matahari dan Bulan. Hal ini dengan mengesampingkan fungsi lampu maspion yang merupakan produk-produk asli Indonesia.

Sehingga jika ditelaah lebih lanjut, santri merupakan sesuatu yang diharapkan oleh masyarakat agar dapat menerangi dikala siang hari, saat mendung-mendungnya, atau saat gerhana bulan sedang terjadi. Sehingga cahaya tersebut bisa menjadi rambu-rambu bagi masyarakat untuk menjadi pananda jalan agar tidak terjatuh dan menjadi buta arah.

Meminjam terminologi ngawur di atas, memang pada saat ini santri bisa dibilang menjadi sumber daya manusia yang sedang dicari-cari pada zaman yang makin semrawut ini. Santri diharapkan dapat menuntun dan membantu negara dalam membumikan proyek revolusi mental yang sejak awal sudah direncanakan oleh pemimpin negara pada saat ini. Bahkan dengan seriusnya dan dianggap pentingnya peran santri, maka dibuatkanlah hari khusus untuk mengingatkan dan merawat peran penting para santri pada tanggal 22 Oktober dua tahun yang lalu.

Mengapa santri menjadi sebuah komponen penting untuk ikut membantu revolusi mental?

Santri bisa dibilang sebagai produk pendidikan paling sukses di dunia. Jika pendidikan formal sekarang sedang bingung mencari format terbaik untuk menghasilkan produk yang berpendidikan baik secara ilmu dan adab, santri yang menjadi produk pendidikan non-formal bernama pesantren sudah menunjukkan hasil yang selama ini diharapkan para ahli pendidik. Selama ini sebagaian besar ahli pendidik merujuk pada program pendidikan ala Negara Finlandia, dimana jika dilihat lebih teliti, letak keberhasilan program pendidikan ala Finlandia terletak pada perhatian yang ekstra para guru dalam mengamati perkembangan serta memberikan kesempatan sebebas-bebasnya terhadap murid untuk menyalurkan bakat dan minatnya.

Pada dasarnya, kaum pendidik Finlandia yakin bahwa pengajaran tidaklah bisa untuk dipaksakan, para pendidik hanya bertugas untuk menumbuhkan minat belajar dan mengawasi perkembangannya. Selain itu, jika dipaksakan secara terus menerus untuk dijejali banyak materi tanpa praktek pun tidak akan selalu efektif, karena telah banyak riset yang menunjukkan bahwa kemampuan konsentrasi manusia hanya sekitar 30-45 menit untuk bisa-bisa benar fokus, itupun kadang harus diselipi ada proses ice breaking, bahkan jika dalam pembelajarannya benar-benar menarik, kesenangan dan konsentrasi hanya bertahan dari 1,5 jam sampai 2 jam. Selesai itu, harus diselingi waktu istirahat yang benar-benar nyaman agar otak bisa menjejal materi lagi.

Jika melihat konsep yang sudah ditawarkan pesantren, hampir semua yang ada dalam konsep pendidikan tipe finlandia sudah dilaksanakan dengan baik oleh pesantren. Memang banyak pesantren mempunyai ciri khas masing-masing, namun perbedaan tersebut bukannya menjadi soal dalam menghasilkan para santri yang minimal bisa mempunyai pemikiran terbuka dan peduli dengan sesama. Dan titik poin keberhasilan dalam pendidikan pesantren salah satunya adalah proses pengawasan dan pendampingan selama pembelajaran, baik oleh kyai sendiri atau lewat santri-santri seniornya.

Dalam program pendidikan Finlandia, mereka melepaskan muridnya dari sistem peringkat, tidak adanya pekerjaan rumah, fokus menekankan untuk penumbuhkembangan bakat-minat peserta didiknya, dan sebagainya. Dan lagi-lagi kesemuanya sudah ada dalam konsep pendidikan pesantren.

Selain itu, pesantren juga mengajarkan bagaimana mereka harus berinteraksi dengan warga sekitar, bersosialisasi, hidup sederhana, saling peduli terhadap sesama, dan kegiatan-kegiatan lain yang penuh dengan kebermanfaatan. Ilmu yang hanya dipahami secara tekstualis sudah tidak laku dalam pesantren, karena sejatinya, sebelum kita siap menerima ilmu yang secara tekstual, kita harus mempersiapkan diri untuk berperilaku layaknya orang yang pantas menerima ilmu, dengan kata lain berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran akhlak.

Dan walaaaaa, jadilah santri yang siap membantu negara untuk membantu moral negara, atau mungkin minimal tidak memperburuknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: